Terbit: 17 Maret 2020 | Diperbarui: 17 Mei 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Diare adalah salah satu masalah kesehatan yang paling umum terjadi. Kondisi ini bisa terjadi dalam kategori ringan, sedang, hingga berpotensi mengancam jiwa. Pada umumnya, gangguan pencernaan ini hanya berlangsung singkat. Akan tetapi jika penyakit ini berlangsung selama berminggu-minggu, hal itu menandakan terdapat masalah lain di tubuh. Simak penyebab diare, gejala, diagnosis, dan pengobatan selengkapnya di bawah ini.

Diare: Gejala, Penyebab, Diagnosis dan Pengobatan

Apa Itu Diare?

Diare ditandai dengan feses yang encer, berair, atau sering buang air besar. Kondisi ini biasanya tidak berlangsung lama dan sering kali sembuh tanpa perawatan. Gangguan pencernaan ini sendiri dibedakan menjadi dua yaitu diare akut dan kronis.

Diare akut terjadi ketika kondisinya berlangsung selama satu hingga dua hari. Anda mungkin mengalami gangguan pencernaan jenis ini akibat infeksi virus, bakteri, atau keracunan makanan. Sementara diare kronis mengacu pada gangguan pencernaan yang berlangsung selama setidaknya empat minggu. Kondisi ini biasanya akibat dari penyakit usus, penyakit Celiac, atau penyakit Crohn.

Gejala Diare

Pada tiap penderita, gejala gangguan pencernaan bisa berbeda-beda. Salah satu gejala gangguan pencernaan ini adalah mengeluarkan feses yang sangat encer. Namun, tidak semua penderita diare menunjukkan gejala ini. Berikut ini adalah tanda bahwa penyakit diare yang Anda alami bertambah parah, antara lain:

  • Kram perut
  • Demam
  • Darah di feses
  • Lendir di feses
  • Kembung
  • Mual
  • Keinginan untuk buang air besar terlalu sering

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Berikut ini adalah tanda-tanda yang mengharuskan Anda harus segera ke dokter:

  • Gangguan pencernaan ini berlangsung hingga beberapa hari.
  • Mengalami dehidrasi. Kondisi ini terlihat dari warna urine yang lebih pekat, mulut terasa kering, hingga sakit kepala.
  • Mengalami sakit perut atau dubur yang parah.
  • Anda memiliki tinja berdarah atau hitam.
  • Anda mengalami demam di atas 39 derajat Celcius.

Pada anak-anak, gangguan pencernaan dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi. Segera ke dokter jika kondisi anak Anda tidak membaik dalam waktu 24 jam atau jika menunjukkan gejala berikut:

  • Menjadi dehidrasi.
  • Demam diatas 39 derajat Celcius.
  • Memiliki feses berdarah atau berwarna hitam.

Penyebab Diare

Pada dasarnya, penyebab diare bisa bermacam-macam. Berikut ini adalah beberapa penyakit dan kondisi yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, di antaranya:

  • Virus

Penyebab diare yang pertama bisa disebabkan oleh virus. Virus yang dapat menyebabkan diare termasuk virus Norwalk, cytomegalovirus, dan virus hepatitis. Rotavirus adalah penyebab umum gangguan pencernaan akut pada anak.

  • Bakteri dan Parasit

Makanan atau minuman yang terkontaminasi dapat menularkan bakteri dan parasit ke tubuh. Clostridium difficile adalah jenis bakteri  yang dapat menyebabkan infeksi serius dan menjadi penyebab diare. Bahkan, infeksi dapat terjadi setelah pemberian antibiotik atau selama rawat inap.

  • Obat-Obatan

Penyebab diare berikutnya yang jarang disadari adalah bersumber dari obat-obatan yang dikonsumsi. Salah satu obat itu adalah antibiotik. Antibiotik menghancurkan bakteri baik dan jahat, sehingga mengganggu keseimbangan alami bakteri di usus. Obat lain yang menyebabkan diare adalah obat kanker dan antasida dengan magnesium.

  • Intoleransi Laktosa

Laktosa adalah gula yang ditemukan dalam susu dan produk susu lainnya. Orang yang mengalami kesulitan mencerna laktosa mengalami diare setelah mengonsumsi produk susu. Intoleransi laktosa dapat meningkat seiring bertambahnya usia karena kadar enzim yang membantu mencerna laktosa turun setelah masa anak-anak.

  • Fruktosa

Fruktosa adalah gula yang ditemukan secara alami dalam buah-buahan dan madu. Kadang-kadang, fruktosa ditambahkan sebagai pemanis untuk minuman tertentu. Pada orang yang kesulitan mencerna fruktosa, kondisi tersebut dapat menjadi penyebab diare.

  • Pemanis Buatan

Sorbitol and mannitol adalah pemanis buatan yang ditemukan dalam permen karet dan beberapa produk bebas gula. Kedua zat tersebut ternyata dapat menjadi penyebab diare.

  • Operasi

Operasi pengangkatan organ dalam perut atau kantong empedu kadang-kadang dapat menjadi penyebab diare.

  • Gangguan Pencernaan Lainnya

Diare kronis juga dapat disebabkan oleh gangguan pencernaan lainnya seperti penyakit Crohn, kolitis ulserativa, penyakit Celiac, kolitis mikroskopik, dan sindrom iritasi usus.

Faktor Risiko

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan diare, antara lain:

  • Umur: Gangguan pencernaan pada anak usia tiga tahun atau lebih muda bisa sangat berbahaya, karena mereka sangat rentan terhadap dehidrasi. Bayi baru lahir hingga bayi berusia dua bulan memiliki risiko paling tinggi. Selain itu, pasien lanjut usia juga rentan terhadap dehidrasi.
  • Lingkungan: Sanitasi dan kebersihan yang buruk.
  • Obat-obatan: Konsumsi antibiotik.
  • Komorbiditas gabungan: Diabetes, penyakit ginjal, dan riwayat intususepsi.

Diagnosis Diare

Terdapat beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini, antara lain:

1. Tes Darah

Tes hitung darah lengkap dapat membantu menunjukkan apa yang menyebabkan gangguan pencernaan Anda.

2. Analisa Feses

Dokter mungkin merekomendasikan tes feses untuk melihat apakah bakteri atau parasit menjadi penyebab gangguan pencernaan.

3. Flexible Sigmoidoscopy dan Kolonoskopi

Metode ini menggunakan selang tipis dengan kamera yang dimasukkan ke dalam rektum. Cara ini dapat membantu dokter melihat bagian dalam usus besar. Perangkat ini juga dilengkapi dengan alat yang memungkinkan dokter mengambil sampel kecil jaringan (biopsi) dari usus besar. Flexible sigmoidoscopy memberikan pandangan dari usus besar bagian bawah, sedangkan kolonoskopi memungkinkan dokter untuk melihat seluruh bagian usus besar.

Pengobatan Diare

Jika Anda mengalami gangguan pencernaan dalam kategori ringan, Anda tidak perlu mendapatkan penanganan khusus. Orang dewasa dapat minum obat diare nonresep, bisa dalam bentuk cairan atau tablet. Berikut ini adalah rekomendasi obat dan perawatan yang mungkin direkomendasikan oleh dokter, di antaranya:

  • Mengobati Kondisi yang Mendasarinya

Jika gangguan pencernaan disebabkan oleh kondisi yang lebih serius, seperti penyakit radang usus, dokter akan berusaha mengendalikan kondisi yang mendasarinya terlebih dulu. Anda mungkin akan dirujuk ke dokter Spesialis Gastroenterologi untuk membantu menyusun perawatan.

  • Menyesuaikan Obat yang Anda Minum

Jika dokter mendiagnosis bahwa antibiotik menjadi penyebab gangguan pencernaan, ia mungkin menurunkan dosis atau beralih ke obat lain.

  • Perawatan untuk Mengganti Cairan

Konsumsi air putih adalah cara yang baik untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, namun air putih tidak mengandung elektrolit—mineral penting yang dibutuhkan tubuh agar berfungsi dengan baik. Guna mempertahankan kadar elektrolit, Anda bisa mengonsumsi jus buah untuk kalium atau konsumsi sup untuk natrium. Penting untuk diketahui, jus apel dapat membuat kondisi ini lebih buruk sehingga harus dihindari.

Sedangkan untuk anak-anak, tanyakan pada dokter tentang menggunakan rehidrasi oral seperti Pedialyte untuk mencegah dehidrasi atau mengganti cairan yang hilang.

Jika konsumsi cairan justru mengganggu kondisi perut atau menyebabkan muntah, dokter mungkin menyarankan untuk mendapatkan intravena (IV).

  • Antibiotik

Antibiotik dapat membantu mengobati gangguan pencernaan yang disebabkan oleh bakteri atau parasit. Akan tetapi, jika virus yang menjadi penyebab diare, antibiotik tidak akan membantu. Antibiotik harus diminum berdasarkan resep dokter karena apabila tidak maka akan lebih memperparah diare.

Pencegahan Diare

Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat membantu mencegah diare adalah:

  • Konsumsi makanan-minuman yang bersih dan sehat.
  • Jaga sistem sanitasi tetap bersih.
  • Rutin cuci tangan.
  • Vaksinasi.
  • Masukan sisa makanan dengan segera ke dalam kulkas.
  • Jika Anda berencana bepergian jauh, cari tahu kondisi perkembangan penyakit (terutama yang berkaitan dengan diare) di daerah tujuan.

 

 

  1. Diarrhea. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/symptoms-causes/syc-20352241. (Diakses pada 17 Maret 2020).
  2. Higuera, Valencia. 2019. Causes of Diarrhea and Tips for Prevention. https://www.healthline.com/health/diarrhea#causes. (Diakses pada 17 Maret 2020).
  3. MacGill, Markus. 2017. What you should know about diarrhea. https://www.medicalnewstoday.com/articles/158634. (Diakses pada 17 Maret 2020).
  4. Diarrhea. https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-diarrhea#1. (Diakses pada 17 Maret 2020).
  5. Risk factors for diarrhoea. https://www.health24.com/Medical/Digestive-health/Diarrhoea/risk-factors-for-diarrhoea-20160215-2.(Diakses pada 17 Maret 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi