Terbit: 13 Mei 2020 | Diperbarui: 20 Mei 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja


Diare saat puasa bisa mengganggu ibadah dalam menahan haus, lapar, dan nafsu. Kondisi ini membuat Anda harus membatalkan puasa sampai gejalanya membaik. Baca terus untuk mendapatkan informasi lengkap tentang gejala, penyebab, cara mengobati, hingga pencegahannya di bawah ini.

diare-saat-puasa-doktersehat

Apa Itu Diare?

Diare adalah kondisi yang terjadi ketika makanan dan nutrisi yang melewati saluran gastrointestinal (GI) bergerak terlalu cepat dan diekskresikan dari tubuh tanpa diserap. Kondisi ini menyebabkan penderitanya sering buang air besar (BAB) yang encer, mengalami dehidrasi dan kekurangan asupan nutrisi makanan.

Diare selama puasa dapat menimbulkan gejala atau efek samping seperti dehidrasi, mual, dan pusing. Diare dan gejala saat puasa bisa menyebabkan stres dan berbahaya. Ketika berpuasa, tubuh sudah cenderung lelah, pusing, dan mual. Kondisi Ini dapat memburuk dengan diare.

Sementara bagi sebagian orang, menjalani puasa saat diare bahkan menyebabkan dehidrasi berat. Inilah alasan mengapa disarankan untuk membatalkan puasa sampai kondisinya membaik.

Gejala Diare Saat Puasa

Diare adalah proses alami tubuh dalam mengeluarkan racun dan toksin yang ada di dalam rongga usus. Namun, bentuk diare lainnya yang ditandai oleh lendir atau darah dapat menjadi tanda masalah yang lebih parah seperti infeksi virus, bakteri, atau amoeba.

Diare saat puasa dapat menyebabkan beberapa gejala berikut:

  • Pusing
  • Mual
  • Lemas
  • Kram
  • Kekurangan gizi
  • Malabsorpsi

Sementara itu, segera batalkan puasa jika mengalami beberapa gejala berikut ini:

  • Pusing
  • Nyeri dada
  • Mual dan muntah
  • Sakit perut
  • Lemas atau hilang kesadaran

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Sebelum mulai menjalankan puasa atau jika memiliki masalah kesehatan saat puasa, termasuk diare, sebaiknya terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter.

Diare menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi biasanya tidak mengancam jiwa. Namun, jika mengalami salah satu dari beberapa gejala berikut bersamaan dengan diare, segera dapatkan pertolongan medis:

  • BAB berdarah
  • Rasa sakit saat BAB
  • Bengkak di sekitar usus

Penyebab Diare saat Puasa

Diare adalah kondisi yang dapat terjadi akibat hipersekresi atau kelebihan pengeluaran garam dan air ke saluran pencernaan karena minum minuman berkafein tinggi. Mengonsumsi jus buah dan smoothie dalam jumlah banyak yang biasanya mengandung fruktosa banyak, juga dapat menyebabkan diare dan kembung pada beberapa orang.

Meskipun puasa tidak dapat menyebabkan diare, makanan yang dikonsumsi saat berbuka puasa mungkin termasuk kebiasaan tidak sehat dapat memengaruhi pergerakan usus.

Berikut adalah beberapa alasan dan kebiasaan buruk yang menjadi penyebab diare saat puasa:

1. Makan Berlebihan saat Berbuka Puasa

Makan terlalu banyak ketika waktu berbuka dapat menyebabkan keasaman, ketidaknyamanan perut, dan gastritis. Dalam kebanyakan kasus, makan berlebihan saat berpuasa puasa dapat memberikan tekanan pada perut, menyebabkan mulas, dan masalah pencernaan lainnya.

Juga, dengan kadar enzim pencernaan terbatas karena puasa, kelebihan makanan dan cairan dapat mengganggu proses pencernaan dan menyebabkan ketidaknyamanan.

2. Langsung Makan Besar saat Berbuka Puasa

Sangat penting untuk menghindari penyebab diare saat puasa, yakni dengan makan makanan secara bertahap dengan porsi kecil agar sistem pencernaan memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan diri dan berfungsi dengan baik. Oleh karenanya, sebaiknya berbukalah dengan makanan kecil seperti kurma dengan segelas air. Setelah menjalankan salat magrib, Anda bisa menyantap makanan utama.

3. Makan Makanan Berminyak, Digoreng, Pedas, dan Minuman Berkafein

Makan makanan berlemak tinggi dapat memperlambat pencernaan dan menyebabkan naiknya asam lambung, sementara makanan pedas dapat mengiritasi lambung. Minum minuman yang mengandung tinggi kafein seperti kopi dan teh juga menjadi pemicu diare.

Sementara lemak biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan mual atau diare.

Jadi, sebaiknya menghindari makanan penyebab diare saat puasa seperti yang digoreng atau pedas karena dapat memperburuk pencernaan dan menyebabkan kram.

4. Penyebab Lainnya

Selain penyebab diare yang telah dijelaskan di atas, ada beberapa penyebab umum diare lainnya, termasuk intoleransi laktosa, kekurangan mineral, reaksi alergi, infeksi, penyakit Crohn, Irritable Bowel Syndrome with Diarrhea (IBS-D), dan diet yang buruk.

Diagnosis Diare saat Puasa

Awal pemeriksaan, dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan pasien, memeriksa obat yang pasien minum, melakukan pemeriksaan fisik, dan melakukan tes untuk menentukan penyebab diare.

Berikut beberapa tes untuk mendiagnosis diare:

  • Tes darah. Tes hitung darah lengkap adalah prosedur yang dapat membantu menunjukkan apa yang menyebabkan diare pada pasien. Bila disebabkan karena bakteri, bisa disertai peningkatan jumlah leukosit dan demam. Pemeriksaan Widal atau antibodi Salmonela juga bisa positif bila diare disebabakan karena penyakit demam tifoid atau bakteri Salmonella typhi.
  • Tes tinja. Dokter mungkin akan menyarankan melakukan tes feses untuk melihat apakah bakteri atau parasit yang menyebabkan diare.
  • Pemeriksaan tekanan darah dan pemeriksaan fisik untuk mengetahui status dehidrasi.

Cara Mengobati Diare saat Puasa

Pengobatan diare ketika puasa tergantung pada penyebabnya. Perawatannya akan bervariasi, termasuk perubahan pola makan, obat-obatan, dan membatalkan puasa.

1. Perubahan Pola Makan

Cara mengobati diare saat puasa adalah dengan melakukan beberapa perubahan pola makan, di antaranya:

  • Minum banyak air.
  • Hindari minuman manis dan berkafein.
  • Perbanyak makan makanan tinggi serat larut.
  • Perbanyak makanan tinggi kalium dan garam.
  • Minum jus dan minuman berelektrolit sepeti air kelapa, susu murni, dan yoghurt rendah kemak.

2. Obat-Obatan

Jika cara mengatasi diare saat puasa dengan perubahan pola makan tidak efektif bagi Anda, mengonsumsi obat-obatan mungkin dapat membantu, termasuk bismuth subsalicylate dan loperamide.

3. Membatalkan Puasa karena Diare

Saat membatalkan puasa karena mengalami diare, pertimbangkan untuk melakukan diet BRAT. Diet ini adalah akronim dari bananas, rice, apple sauce, dan toast atau pisang, nasi, saus apel, dan roti bakar.

Cara mengatasi diare saat puasa dengan diet ini cenderung makan makanan yang hambar, bertepung, dan rendah serat. Makanan ini dapat membantu mengentalkan feses dan mengganti nutrisi yang hilang.

Selain itu, Anda juga juga harus mengonsumsi makanan dalam porsi kecil, menghindari makanan yang digoreng, dan makanan yang menyebabkan gas, seperti kacang-kacangan dan brokoli.

Baca Juga: 13 Obat Diare Paling Ampuh (Alami dan Medis)

Komplikasi Diare

Diare dapat menyebabkan penderitanya dehidrasi yang dapat mengancam jiwa jika tidak segera diobati. Apalagi dehidrasi sangat berbahaya pada anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Jika memiliki tanda dan gejala dehidrasi serius berikut, segera dapatkan pertolongan medis.

Indikasi dehidrasi pada orang dewasa, di antaranya:

  • Merasa lemah, pusing, atau pusing
  • Kelelahan
  • Haus yang berlebihan
  • Mulut dan kulit kering
  • Sedikit atau tidak buang air kecil
  • Urine berwarna gelap

Sedangkan indikasi dehidrasi pada bayi dan anak-anak, termasuk:

  • Mulut dan lidah kering
  • Popok tidak basah dalam tiga jam atau lebih
  • Menangis tanpa air mata
  • Demam di atas suhu 39°C
  • Mengantuk, tidak responsif, atau rewel
  • Penampilan perut, mata, atau pipi cekung

Pencegahan Diare Saat Puasa

Mencegah terjadinya diare ketika berpuasa pada dasarnya harus menghindari beberapa penyebab yang telah dijelaskan sebelumnya.

Beberapa hal yang harus dihindari dan harus dijalani, di antaranya:

  • Mencuci tangan sebelum makan.
  • Menjaga kebersihan alat makan.
  • Menjaga kebersihan sumber air yang digunakan untuk mencuci dan memasak.
  • Makan secukupnya saat berbuka puasa.
  • Makan makanan kecil saat berbuka puasa.
  • Menghindari makanan berminyak, digoreng, pedas, dan minuman berkafein (kopi dan teh).
  • Cukupi kebutuhan elektrolit dan mineral.
  • Hindari makanan yang menyebabkan alergi.
  • Hindari makanan yang sudah tidak segar (rawan ditumbuhi bakteri/jamur).
  • Menjalani pola makan sehat.

 

  1. Anonim. 2020. Causes and Treatment for Diarrhea During Ramadan. https://www.imodium-me.com/causes-and-treatment-diarrhea-during-ramadan. (Diakses pada 13 Mei 2020).
  2. Mayo Clinic Staff. 2019. Diarrhea. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/symptoms-causes/syc-20352241. (Diakses pada 13 Mei 2020).
  3. Snyder, Alex. 2019. Diarrhea During Fasting and Other Side Effects. https://www.healthline.com/health/diarrhea-during-fasting. (Diakses pada 13 Mei 2020).



DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi