Terbit: 6 Maret 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo


Secara umum, diabetes terdiri dari 3 jenis utama yakni diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabetes gestasional. Kali ini akan dibahas mengenai diabetes tipe 1 mulai dari ciri-ciri, penyebab, hingga pengobatan dan pencegahannya.

diabetes-tipe-1-doktersehat

Apa Itu Diabetes Tipe 1?

Diabetes tipe 1 adalah kondisi ketika kadar gula darah (glukosa) melebihi batas normal. Hal ini bisa terjadi karena tubuh tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah cukup. Insulin sendiri merupakan hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berfungsi untuk mengatur kadar glukosa di dalam tubuh. Akibat insulin yang diproduksi sedikit, glukosa tidak dapat diserap dengan baik oleh sel dan terjadilah penumpukan.

Diabetes tipe ini tidaklah sama dengan diabetes tipe 2. Jika diabetes tipe 1 disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup (atau bahkan tidak bisa memproduksi insulin sama sekali), maka produksi insulin tetap berjalan pada penderita diabetes tipe 2. Hanya, insulin tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mengontrol gula darah dengan optimal.

Prevalensi Kasus Diabetes Tipe 1

Dibandingkan dengan diabetes tipe 2, diabetes tipe 1 adalah jenis diabetes yang lebih jarang terjadi. Penyakit ini sejatinya terbagi lagi menjadi tiga subjenis, namun yang kerap terjadi adalah diabetes Juvenile.

Subjenis diabetes tipe 1 ini umumnya dialami oleh mereka yang berusia di bawah 30 tahun, tak terkecuali anak-anak. Hal ini tentu berbeda dengan diabetes tipe 2 yang umumnya dialami oleh mereka yang berusia lanjut atau diabetes gestasional yang menyasar wanita hamil.

Ciri dan Gejala Diabetes Tipe 1

Juvenile diabetes ditandai oleh sejumlah gejala yang kemunculannya terbilang cepat (bisa berlangsung dalam hitungan beberapa minggu).

Berikut adalah ciri-ciri atau gejala diabetes tipe 1 yang penting untuk Anda ketahui dan waspadai!

1. Mudah Haus

Gejala pertama yang umum dirasakan adalah mudah merasa haus. Hal ini dimungkinkan karena tingginya kadar glukosa membuat organ ginjal harus bekerja ekstra dalam menyaring gula yang berlebih tersebut. Alhasil, urine yang dihasilkan oleh ginjal menjadi lebih kental.

Guna mempermudah proses pengeluaran urine, tubuh memerlukan lebih banyak cairan untuk mengencerkan urine. Inilah yang lantas membuat tubuh bereaksi dengan memunculkan rasa haus guna mendapatkan cairan tambahan.

2. Peningkatan Frekuensi Buang Air Kecil (BAK)

Berkaitan dengan gejala yang pertama, gejala selanjutnya adalah meningkatnya frekuensi buang air kecil (BAK).

Pasalnya, rasa haus yang kerap muncul membuat penderita diabetes jenis ini harus sering minum. Akibatnya, kandung kemih mudah untuk terisi penuh. Inilah yang kemudian menyebabkan keinginan untuk buang air kecil jadi meningkat.

3. Berkeringat saat Tidur

Produksi keringat berlebih—terutama di malam hari saat sedang tidur—juga menjadi gejala diabetes tipe 1 yang perlu diketahui.

Apabila selama ini Anda atau anak Anda jarang atau bahkan tidak pernah berkeringat sama sekali ketika tidur dan tiba-tiba menjadi sering berkeringat, sebaiknya perlu waspada dan segera kunjungi dokter guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

4. Mudah Lapar

Penderita diabetes juvenil juga akan lebih sering merasa lapar.

Gejala yang satu ini muncul dikarenakan sel tubuh tidak dapat menyerap glukosa akibat tidak memadainya kadar insulin. Padahal, glukosa yang diserap tersebut nantinya akan diubah menjadi energi.

Akibat kondisi tersebut, tubuh menjadi kekurangan energi yang lantas berujung pada munculnya rasa lapar.

5. Berat Badan Menurun Drastis

Mereka yang menderita tipe diabetes yang satu ini memang akan menjadi lebih sering makan. Akan tetapi, kondisi ini tidak membuat tubuh mengalami peningkatan massa.

Alih-alih berat badan bertambah, yang terjadi justru berat badan menurun secara drastis. Mengapa demikian? Jawabannya tak lain juga karena ketidakmampuan tubuh untuk menyerap glukosa yang seharusnya menjadi sumber energi.

Akibat tidak ada ‘bahan bakar’ utama yang bisa digunakan, tubuh lantas menggunakan lemak yang ada sebagai alternatif sumber energi. Alhasil, massa lemak akan berkurang dan berdampak pada menurunnya berat badan.

6. Tubuh Terasa Lelah

Gejala diabetes tipe 1 lainnya yang juga dirasakan oleh penderita penyakit ini adalah kelelahan yang mendera tubuh terus-menerus.

Pasalnya, glukosa yang menjadi sumber energi tidak dapat diserap dengan baik oleh sel akibat sedikitnya jumlah insulin yang diproduksi. Akibatnya, tubuh menjadi kekurangan energi dan cepat sekali merasa lelah.

Jika kondisi ini terjadi pada anak-anak, tentu saja akan berdampak pada terganggunya aktivitas sehari-hari mulai dari belajar hingga bermain.

7. Penglihatan Kabur

Diabetes juvenil pun menyebabkan penderitanya mengalami gejala berupa kaburnya penglihatan.

Dilansir dari WebMD, penglihatan yang kabur pada penderita diabetes jenis ini dikarenakan tingginya kadar gula di dalam tubuh juga menyebabkan lensa mata mengalami pembengkakan yang kemudian memengaruhi kemampuan organ tubuh tersebut dalam menjalankan fungsinya sebagai indera penglihatan.

Selain itu, masih ada beberapa gejala lainnya yang mungkin dialami oleh para penderita diabetes jenis ini yaitu:

  • Napas pendek
  • Mulut dan kulit kering
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Wajah memerah

Baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2 memiliki ciri-ciri atau gejala yang secara umum mirip. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui jenis diabetes apa yang Anda derita.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda sangat disarankan untuk segera mungkin memeriksakan diri ke dokter apabila merasakan salah satu atau beberapa dari gejala di atas dan sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama dengan intensitas yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Penanganan medis sedini mungkin diharapkan dapat meningkatkan peluang kesembuhan penyakit ini. Sebaliknya, penanganan medis yang terlambat berisiko menimbulkan komplikasi yang bisa saja membahayakan nyawa.

Penyebab Diabetes Tipe 1

Penyebab diabetes tipe 1 adalah tidak mampunya tubuh—dalam hal ini pankreas—untuk memproduksi cukup insulin, yakni hormon yang digunakan untuk memecah glukosa agar bisa diserap oleh sel tubuh dan selanjutnya digunakan sebagai sumber energi.

Belum dapat diketahui secara pasti mengapa hal ini bisa terjadi, namun adanya masalah pada sistem imun tubuh (autoimun) diduga kuat menjadi pemicunya. Autoimun yang seharusnya berfungsi untuk melindungi tubuh justru berbalik menyerang atau merusak, dalam hal ini sel-sel yang ada di pankreas.

Akibatnya, pankreas tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup. Bahkan, ada beberapa kasus di mana pankreas sama sekali tidak dapat menghasilkan insulin. Inilah yang kemudian menyebabkan gula darah mengalami peningkatan kadar karena tidak digunakan oleh tubuh sebagai ‘bahan bakar’.

Faktor Risiko Diabetes Tipe 1

Penyakit gula darah ini juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor risiko yang meliputi:

1. Faktor Usia

Faktor risiko yang pertama adalah usia. Diabetes tipe 1 memang tak mengenal usia, dalam artian semua usia bisa saja terkena penyakit yang satu ini.

Akan tetapi, anak-anak—mulai dari balita hingga remaja—menjadi kelompok usia yang paling rentan untuk mengalami penyakit tersebut. Kelompok pertama yakni anak usia 4 sampai 7 tahun, kemudian kelompok kedua adalah anak usia 10 sampai 14 tahun.

2. Faktor Genetik

Adanya kelainan genetik yang berasal dari orang tua juga berpotensi menyebabkan anak mengalami diabetes juvenil ini di kemudian hari.

3. Faktor Riwayat Keluarga

Apakah Anda memiliki anggota keluarga entah itu orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, maupun lainnya yang memiliki riwayat diabetes jenis ini?

Jika ya, maka risiko Anda atau anak Anda untuk menderita penyakit ini di kemudian hari juga semakin besar.

4. Faktor Lingkungan

Pada beberapa kasus, diabetes juvenil ini bisa jadi dipicu oleh virus. Kendati demikian, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai jenis virus apa yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk terkena diabetes tipe 1.

Selain itu, jenis diabetes yang satu ini diketahui lebih sering dialami oleh masyarakat yang tinggal di lingkungan yang memiliki iklim dingin ketimbang panas (tropis).

5. Ras

Meskipun belum dapat dipastikan, namun sebagaimana dikutip dari Healthline, faktor ras juga memiliki pengaruh terhadap risiko seseorang untuk menderita diabetes jenis ini.

Dikatakan bahwasanya diabetes tipe 1 lebih umum terjadi pada mereka yang termasuk ke dalam ras kulit putih ketimbang ras-ras lainnya yang ada di dunia.

Bagi Anda yang merasa memiliki salah satu dari ketiga faktor risiko di atas, melakukan langkah pencegahan (akan dijelaskan selanjutnya) menjadi sangat penting guna meminimalisir risiko karena biar bagaimanapun penyakit ini dapat dicegah.

Diagnosis Diabetes Tipe 1

Guna memastikan jika pasien menderita diabetes jenis ini sekaligus menentukan metode pengobatan seperti apa yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi, dokter perlu untuk melakukan diagnosis terlebih dahulu. Diagnosis adalah serangkaian tahapan pemeriksaan untuk menentukan suatu penyakit yang dialami oleh seseorang.

Pada kasus diabetes tipe 1, tahapan diagnosis yang umum dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan terkait dengan keluhan yang dialami oleh pasien. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya meliputi:

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya?
  • Apakah ada anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama?

2. Pemeriksaan Fisik

Tahap selanjutnya adalah memeriksa kondisi fisik pasien untuk mencari tahu apakah ada abnormalitas pada fisik yang mengarah ke gejala diabetes juvenil ini.

Pemeriksaan fisik yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Memeriksa apakah ada luka di tangan dan kaki
  • Memeriksa kondisi mata
  • Memeriksa kondisi kulit

Selain itu, prosedur pemeriksaan fisik standar seperti mengukur tekanan darah, berat dan tinggi badan juga akan dilakukan di tahapan ini.

3. Pemeriksaan Penunjang

Guna memastikan hasil diagnosis, dokter juga akan melakukan sejumlah pemeriksaan penunjang yang umumnya terdiri dari:

  • Tes AC1, adalah tes yang bertujuan untuk mengetahui kadar glukosa rata-rata dalam kurun waktu 2 sampai 3 bulan terakhir. Tes ini akan mengukur persentase gula darah yang ada pada hemoglobin. Persentase 6,5 ke atas mengindikasikan jika pasien memang terkena diabetes.
  • Tes gula darah acak, adalah tes untuk mengetahui kadar gula darah di dalam tubuh yang mana sampe darah akan diambil secara acak. Artinya, sampel darah dapat diambil kapanpun (tanpa harus berpuasa terlebih dahulu). Kadar glukosa yang mencapai angka 200 mg/dL mengindikasikan diabetes.
  • Tes gula darah puasa, adalah tes untuk mengetahui kadar gula darah setelah tidak makan semalaman. Kadar gula darah puasa yang kurang dari 100 mg/dL tergolong aman, kadar gula darah antara 100-125 mg/dL tergolong pra-diabetes, sedangkan kadar gula darah di atas 126 mg/dL.

Setelah hasil diagnosis menunjukkan hasil positif, dokter juga biasanya akan melakukan pemeriksaan terhadap sistem kekebalan tubuh pasien. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, penyakit diabetes jenis ini merupakan imbas dari abnormalitas sistem imun.

Pengobatan Diabetes Tipe 1

Pengobatan diabetes tipe 1 terbagi menjadi 2, yakni pengobatan medis dan pengobatan rumahan sebagai penunjang. Simak informasinya berikut ini!

1. Pengobatan di Rumah

Penderita diabetes juvenil dapat melakukan sejumlah aktivitas berikut ini untuk mengoptimalkan proses penyembuhan penyakit tersebut:

  • Mengatur Pola Makan

Pemilihan makanan yang tepat menjadi kunci utama bagi pasien diabetes jika ingin peluang kesembuhan penyakitnya tinggi.

Disarankan bagi pasien untuk banyak mengonsumsi buah dan sayuran dan menghindari makanan mengandung gula, lemak, dan garam.

  • Olahraga

Penderita diabetes jenis ini juga disarankan untuk memperbanyak aktivitas fisik seperti berolahraga ringan. Tidak perlu olahraga berat, berjalan kaki santai atau jogging juga sudah cukup untuk membantu mengontrol kadar glukosa di dalam tubuh. Dengan catatan, lakukan kegiatan olahraga ini secara rutin dan teratur.

  • Medical Check Up Rutin

Melakukan pemeriksaan medis (medical check up) secara rutin juga menjadi cara untuk mengoptimalkan penyembuhan penyakit ini.

Selain memeriksakan diri ke dokter secara langsung, Anda juga bisa menggunakan alat tes kadar gula darah yang bisa didapatkan di apotek atau toko obat. Baca petunjuk penggunaan alat dengan seksama sebelum menggunakan.

  • Kelola Stres dengan Baik

Terakhir, pastikan untuk mengelola stres dengan baik. Pasalnya, stres juga dapat memicu peningkatan gula darah.

2. Pengobatan Medis

Sementara itu, pengobatan medis yang diterapkan pada penderita diabetes ini mencakup:

Terapi Insulin

Terapi insulin adalah metode perawatan diabetes tipe 1 yang dimaksudkan untuk menjaga agar kadar insulin di dalam tubuh tetap mencukupi sehingga kadar gula darah terkontrol. Insulin diberikan setiap hari dengan cara diinjeksi.

Ada beberapa jenis insulin yang umum diberikan, yaitu:

  • Rapid-acting insulin
  • Short-acting insulin
  • Intermediate-acting (NPH) insulin
  • Long-acting insulin

Pemilihan jenis insulin tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasien. Pastikan Anda mendapatkan insulin yang tepat.

Obat-Obatan

Selain insulin, pasien juga akan diberikan obat-obatan. Beberapa jenis obat-obatan yang umum diberikan adalah sebagai berikut:

  • Obat antihipertensi, bertujuan untuk menjaga kesehatan dan fungsi ginjal.
  • Aspirin, bertujuan untuk melindungi jantung.
  • Obat antikolesterol, bertujuan untuk menjaga agar kadar lemak HDL, LDL, dan trigliserida tetap normal.

Komplikasi Diabetes Tipe 1

Jika tidak segera ditangani—atau tidak mendapat penanganan medis yang tepat—penyakit ini dapat berujung pada sejumlah komplikasi.

Berikut adalah komplikasi diabetes juvenil yang perlu diketahui dan waspadai!

  • Penyakit Pembuluh Darah, penyakit ini dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan pembuluh darah (angina, serangan jantung, stroke, aterosklerosis).
  • Kerusakan Saraf, kadar glukosa yang melebihi batas normal dapat merusak pembuluh darah kapiler. Padahal, pembuluh darah ini berfungsi untuk mengirimkan nutrisi bagi sistem saraf.
  • Kerusakan Ginjal, penyakit ini dapat merusak sistem filtrasi ginjal sehingga berujung pada malfungsi dari organ tersebut.
  • Kerusakan Mata, penyakit ini dapat merusak retina mata yang lantas bisa berujung pada kerusakan mata hingga menyebabkan kebutaan.
  • Komplikasi Kehamilan, penyakit ini berbahaya apabila dialami oleh ibu hamil. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga janin yang tengah dikandungnya.
  • Infeksi, penyakit ini menyebabkan penderitanya rentan mengalami infeksi (bakteri dan jamur) terutama di mulut dan kulit.

Pencegahan Diabetes Tipe 1

Belum dapat dipastikan apa yang benar-benar bisa mencegah seseorang terkena diabetes jenis ini. Akan tetapi, Anda mungkin bisa sedikit meminimalisir risikonya dengan cara menerapkan pola hidup sehat seperti:

  • Membatasi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung banyak gula.
  • Banyak mengonsumsi buah dan sayuran.
  • Olahraga teratur.
  • Istirahat yang cukup.
  • Kelola stres dengan baik.

 

  1. Anonim. What is Diabetes? https://www.idf.org/aboutdiabetes/what-is-diabetes.html (Diakses pada 6 Maret 2020)
  2. Anonim. Type 1 Diabetes. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-1-diabetes/symptoms-causes/syc-20353011 (Diakses pada 6 Maret 2020)
  3. Anonim. Type 1 Diabetes. https://www.webmd.com/diabetes/type-1-diabetes (Diakses pada 6 Maret 2020)
  4. Anonim. Why Diabetes Cause Hunger and Fatigue? https://www.webmd.com/diabetes/qa/why-does-diabetes-cause-hunger-and-fatigue (Diakses pada 6 Maret 2020)
  5. Anonim. Diabetes and Blurred VIsion. https://www.webmd.com/diabetes/diabetes-blurred-vision (Diakses pada 6 Maret 2020)
  6. Felman, A. 2018. What to Know About Type 1 Diabetes. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323729#what-is-type-i-diabetes (Diakses pada 6 Maret 2020)
  7. Kivi, R dan Elizabeth, B. 2019. What is Type 1 Diabetes? https://www.healthline.com/health/type-1-diabetes-causes-symtoms-treatments (Diakses pada 6 Maret 2020)
  8. Nall, R. 2018. Diabetes Risk Factors. https://www.healthline.com/health/diabetes-risk-factors (Diakses pada 6 Maret 2020)



DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi