Terbit: 5 Oktober 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Dermatomyositis atau dermatomiositis adalah penyakit peradangan yang menimbulkan gejala ruam di kulit dan peradangan otot. Ketahui informasi selengkapnya mulai dari definisi, gejala, pengobatan, dan lainnya di bawah ini!

Dermatomiositis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Cara Mengobati, dll

Apa Itu Dermatomiositis?

Dermatomiositis adalah penyakit peradangan yang biasanya ditandai dengan ruam ungu kemerahan pada kulit, kelemahan otot, dan peradangan otot. Penyakit langka ini dapat terjadi pada orang dewasa dan anak-anak.

Dermatomyositis termasuk ke dalam kelompok miopati inflamasi, yang dianggap penyakit autoimun. Itu artinya sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan yang sehat, ini menyebabkan peradangan atau pembengkakan.

Tanda dan Gejala Dermatomiositis

Tanda dan gejalanya bisa muncul tiba-tiba atau berkembang secara bertahap seiring waktu. Gejala yang paling umum adalah perubahan pada kulit dan kelemahan pada otot.

1. Perubahan pada Kulit

Ruam dermatomiositis mudah dikenali, yakni berwarna ungu kemerahan atau kehitaman yang muncul di sejumlah bagian tubuh, termasuk:

  • Wajah.
  • Kelopak mata.
  • Leher.
  • Bahu.
  • Dada atas.
  • Punggung.
  • Siku.
  • Buku-buku jari.
  • Lutut.
  • Jari kaki.

Ruam kulit yang terasa gatal dan nyeri biasanya gejala pertama penyakit ini. Kemungkinan kulit tampak seperti terbakar sinar matahari, terasa bersisik, kering, dan kasar yang menyebabkan rambut rontok.

2. Kelemahan Otot

Kelemahan otot dapat terjadi di sisi kiri dan kanan tubuh, dan cenderung memburuk seiring waktu. Kelemahan otot seiring bisa terjadi pada otot-otot yang paling dekat dengan tubuh, termasuk:

  • Leher.
  • Bahu.
  • Lengan atas.
  • Pinggul.
  • Paha.

Tanda dan gejala lainnya yang bisa terjadi, termasuk:

  • Demam ringan.
  • Penipisan massa otot.
  • Kemerahan dan pembengkakan di sekitar kuku.
  • Nyeri sendi.
  • Kesulitan menelan dan perubahan suara.
  • Kelelahan.
  • Penurunan berat badan.
  • Peradangan paru-paru.
  • Sesak napas.
  • Sensitivitas terhadap cahaya.
  • Benjolan keras di bawah kulit atau otot (kalsinosis), termasuk di buku-buku jari, siku, lutut, dan pergelangan kaki.
  • Kesulitan bangun dari kursi atau tempat tidur karena kelemahan otot.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika memiliki gejala kelemahan otot, ruam di kulit, gejalanya memburuk, atau kondisi lainnya seperti yang telah dijelaskan di atas, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Baca Juga: Dermatitis Stasis: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Penyebab Dermatomiositis

Penyebabnya tidak diketahui secara pasti, tetapi penyakit ini memiliki banyak kemiripan dengan penyakit autoimun. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, penyakit autoimun terjadi ketika sel tubuh melawan penyakit, yang menyerang sel sehat dalam tubuh.

Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh juga dapat memicu terkena penyakit. Misalnya, infeksi virus atau kanker yang dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan perkembangan dermatomyositis .

Faktor Risiko Dermatomiositis

Dermatomiositis adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapa pun. Beberapa faktor yang mungkin dapat meningkatkan risiko penyakit ini, di antaranya:

  • Orang dewasa berusia antara 40 dan 60 tahun.
  • Anak-anak berusia antara 5 dan 15 tahun.
  • Wanita lebih berisiko daripada pria.
  • Genetik.
  • Infeksi atau agen racun yang bertindak sebagai pemicu.
  • Obat-obatan tertentu, termasuk hydroxyurea, penicillamine, statin, quinidine, dan phenylbutazone.

Diagnosis Dermatomiositis

Dalam prosedur diagnosis penyakit ini, awalnya dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Dokter akan mencari penyakit yang mendasari seperti kanker.

Jika diduga mengalami dermatomiositis, dokter mungkin akan menyarankan tes tambahan berikut ini:

  • Tes darah. Setelah pengambilan sedikit darah menggunakan jarum, sampel darah ini kemudian dikirim ke laboratorium untuk memeriksa kadar enzim tertentu yang tinggi. Ini dapat memudahkan dokter mengetahui jika pasien mengalami kerusakan otot.
  • Rontgen dada. Tes ini dapat menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada paru-paru, merupakan gejala dari dermatomyositis .
  • Elektromiografi (EMG). Tes untuk menemukan kelainan aktivitas listrik pada otot yang terkena penyakit ini. Dokter dapat memasukkan jarum tipis dengan impuls listrik ke otot, kemudian mencatat seberapa banyak keluaran listrik yang ada saat mengencangkan dan mengendurkan.
  • Magnetic resonance imaging (MRI). Tes menggunakan medan magnet yang kuat dan gelombang radio, untuk mendeteksi letak peradangan otot.
  • Biopsi kulit atau otot. Prosedur tes dilakukan dengan mengambil sedikit sampel kulit, kemudian dikirim ke laboratorium untuk memastikan apakah mengalami penyakit ini. Dokter juga dapat mengesampingkan penyakit lain, seperti lupus. Tes ini dapat menunjukkan apakah otot mengalami kerusakan atau peradangan.

Baca Juga: Dermatitis Kontak: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Pengobatan Dermatomiositis

Perawatan dermatomiositis adalah tergantung pada gejala, usia, dan kesehatan pasien secara umum. Tidak ada obat untuk kondisi tersebut, tetapi gejalanya dapat diatasi. Pasien kemungkinan membutuhkan lebih dari satu jenis perawatan, atau mungkin pengobatan perlu diubah seiring waktu.

Berikut ini beberapa cara mengobati dermatomiositis:

  • Terapi fisik. Latihan khusus dapat membantu meregangkan dan memperkuat otot. Orthotics atau alat bantu dapat digunakan. Ahli terapi fisik dapat menunjukkan kepada bagaimana latihan untuk membantu mempertahankan dan meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas dan memberi tahu tentang tingkat aktivitas yang sesuai.
  • Terapi bicara. Jika otot menelan terkena, terapi wicara dapat membantu mempelajari bagaimana cara mengimbangi perubahan tersebut.
  • Penilaian diet. Selama mengalami dermatomiositis, kemungkinan lebih sulit mengunyah dan menelan. Untuk itu, ahli diet dapat menyarankan bagaimana cara menyiapkan makanan yang mudah dimakan.
  • Perawatan kulit. Guna merawat ruam di kulit, pasien mungkin perlu menghindari paparan sinar matahari dan memakai tabir surya (sunscreen atau sunblock) untuk mencegah ruam kulit. Dokter kulit dapat mengobati ruam kulit yang gatal dengan obat antihistamin atau krim steroid antiinflamasi yang dioleskan langsung ke kulit.
  • Obat antiinflamasi. Ini merupakan obat steroid atau kortikosteroid, yang dapat meredakan peradangan di tubuh. Obat mungkin bisa diberikan secara oral atau melalui infus.
  • Obat imunosupresif. Obat-obatan yang dapat memblokir atau memperlambat sistem kekebalan tubuh, termasuk obat azathioprine, methotrexate, cyclosporine A, cyclophosphamide, dan tacrolimus.
  • Imunoglobulin. Jika tubuh tidak merespons pengobatan lain, pengobatan ini dapat digunakan. Ini adalah protein yang disekresikan produk dari sel plasma yang mengikat antigen dan sebagai jaringan sistem imun humoral darah untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Darah dapat dimasukkan langsung ke aliran darah melalui infus.
  • Operasi. Prosedur operasi dapat dilakukan untuk menghilangkan penumpukan kalsium (kalsinosis) di bawah kulit atau otot jika terasa nyeri atau terinfeksi.

Jika berencana untuk mendapatkan pengobatan di atas, sebaiknya terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter tentang risiko, manfaat, dan kemungkinan efek samping dari semua obat-obatan.

Baca Juga: 11 Jenis Penyakit Kulit yang Perlu Dikenali dan Cara Mengobatinya

Komplikasi Dermatomiositis

Masalah pada kulit dan kelemahan otot yang terkait dengan dermatomiositis dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Beberapa komplikasi yang umum, di antaranya:

  • Luka di kulit.
  • Tukak lambung.
  • Kesulitan bernafas.
  • Infeksi paru-paru.
  • Kesulitan menelan.
  • Malnutrisi atau gizi buruk.
  • Penurunan berat badan.

Dermatomiositis juga terkait dengan kondisi berikut:

  • Miokarditis.
  • Fenomena Raynaud.
  • Penyakit paru interstitial.
  • Penyakit jaringan ikat lainnya.
  • Peningkatan risiko kanker.

Pencegahan Dermatomiositis

Mengingat penyebab penyakit ini tidak diketahui secara pasti, tidak ada cara yang tersedia untuk mencegah perkembangan penyakit dermatomiositosis. Namun, beberapa pengobatan di atas dapat meringankan atau mencegah keparahan gejalanya.

 

  1. Anonim 2019. Juvenile Dermatomyositis: Prevention. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14808-juvenile-dermatomyositis/prevention. (Diakses pada 5 Oktober 2020)
  2. Anonim. 2019. Dermatomyositis. ttps://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/what-is-dermatomyositis#1. (Diakses pada 5 Oktober 2020).
  3. Anonim. Tanpa Tahun. Dermatomyositis. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/dermatomyositis. (Diakses pada 5 Oktober 2020).
  4. Mayo Clinic Staff. 2020. Dermatomyositis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dermatomyositis/symptoms-causes/syc-20353188. (Diakses pada 5 Oktober 2020).
  5. Ngan, Vanessa. 2003. Dermatomyositis. https://dermnetnz.org/topics/dermatomyositis/. Diakses pada 5 Oktober 2020)
  6. Starkebaum, Gordon A. 2019. Dermatomyositis. https://medlineplus.gov/ency/article/000839.htm. (Diakses pada 5 Oktober 2020).
  7. Wint, Carmella. 2019. Dermatomyositis: What Is It?. https://www.healthline.com/health/dermatomyositis. (Diakses pada 5 Oktober 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi