Terbit: 2 Juni 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Dermatitis seboroik adalah penyakit kulit yang sering kali hilang dengan sendirinya, tetapi juga dapat bertahan lama dan bahkan seumur hidup. Jika tidak segera diobati, penyakit kulit ini dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi bakteri sekunder. Baca terus untuk mendapatkan informasi lengkap tentang definisi, gejala, penyebab, pengobatan, dan pencegahan di bawah ini.

dermatitis-seboroik-doktersehat

Apa Itu Dermatitis Seboroik?

Dermatitis seboroik adalah penyakit kulit yang menyebabkan kemerahan, gatal, bersisik, dan ketombe yang membandel. Kondisi ini dapat terjadi di area kulit yang berminyak, seperti wajah, hidung, alis, telinga, kelopak mata, dan dada.

Penyakit ini juga disebut ketombe, eksim seboroik, dan psoriasis seboroik. Dermatitis seboroik pada bayi dikenal sebagai cradle cap dan menyebabkan bercak bersisik di kulit kepala.

Penyakit ini dapat disebabkan oleh respons autoimun atau alergi, dan tidak menular. Gejalanya sering kali akan hilang tanpa pengobatan dalam beberapa bulan. Jika gejalanya berlangsung lama mungkin memerlukan perawatan dan mencegahnya kambuh.

Gejala Dermatitis Seboroik

Gejala penyakit kulit ini cenderung lebih buruk ketika musim hujan, kemarau, atau ketika seseorang sedang stres.

Berikut ini sejumlah tanda dan gejala dermatitis seboroik:

  • Kulit merah.
  • Kulit meradang.
  • Kulit terasa gatal.
  • Ketombe atau kulit mengelupas di kulit kepala, alis, jenggot, dan kumis.
  • Bercak kulit berminyak (sisik putih atau kuning) di kulit kepala, wajah, hidung, kelopak mata, telinga, dada, ketiak, selangkangan, dan di bawah payudara.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika gejala dermatitis seboroik menyebabkan salah satu atau beberapa kondisi berikut ini:

  • Merasa sangat tidak nyaman sehingga mengganggu kualitas tidur atau aktivitas sehari-hari.
  • Menduga kulit terinfeksi.
  • Kondisi kulit menyebabkan rasa malu dan cemas.
  • Tidak kunjung sembuh melakukan perawatan.

Penyebab Dermatitis Seboroik

Penyebabnya tidak diketahui secara pasti, tetapi kebanyakan orang yang mengalaminya cenderung memiliki pertumbuhan jamur berlebihan di kulit atau disebut malassezia yang ada dalam sekresi minyak di kulit. Respons sistem imun yang tidak teratur juga terkait dengan penyakit ini.

Faktor Risiko Dermatitis Seboroik

Beberapa kondisi medis tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang terkena dermatitis seboroik, di antaranya:

  • Kondisi neurologis dan gangguan mental, seperti penyakit Parkinson dan depresi.
  • Sistem kekebalan tubuh yang melemah, seperti pada penerima transplantasi organ dan penderita HIV/AIDS, pankreatitis alkoholik, dan beberapa kanker.
  • Pemulihan dari kondisi medis yang penuh tekanan, seperti serangan jantung.
  • Beberapa obat
  • Jerawat kronis
  • Gangguan makan
  • Psoriasis
  • Rosacea

Baca Juga: Eksim (Dermatitis): Apakah Eksim Menular & Bisa Diobati?

Diagnosis Dermatitis Seboroik

Guna mendiagnosis penyakit ini secara pasti, awalnya dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan dan memeriksa kondisi kulit pasien. Dokter mungkin akan mengikis sedikit kulit dan memeriksanya menggunakan mikroskop untuk mengesampingkan kondisi yang memengaruhi kulit, di antaranya:

  • Eksim (dermatitis atopik). Penyakit ini biasanya menyebabkan kulit meradang di kepala, siku, atau lutut.
  • Systemic lupus erythematosus (SLE). Kondisi ini dapat menyebabkan ruam berbentuk kupu-kupu di bagian tengah wajah.
  • Psoriasis. Penyakit ini menyebabkan sisik putih keperakan, sering kali terjadi pada siku dan lutut. Penyakit ini juga dapat mengubah tampilan kuku. Bahkan seseorang mungkin mengalami ini bersamaan dengan dermatitis seboroik.
  • Rosacea. Kondisi ini juga bisa terjadi bersamaan dengan dermatitis yang menyebabkan ruam merah dengan sedikit atau tanpa sisik, sering kali terjadi di wajah.
  • Reaksi alergi. Jika ruam terasa gatal dan tidak kunjung sembuh setelah diobati, alergi mungkin adalah penyebabnya.

Pengobatan Dermatitis Seboroik

Dermatitis seboroik adalah penyakit kulit yang terkadang bisa hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Namun, sering kali penyakit ini dapat bertahan lama atau bahkan seumur hidup. Maka dari itu, segera cari perawatan untuk mengendalikannya dengan perawatan kulit yang baik.

Sebaiknya terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter tentang kondisi medis dan rencana perawatan. Dokter mungkin akan memberi tahu bagaimana memulai perawatan dengan pengobatan alami atau obat dermatitis seboroik yang dijual bebas.

Berikut adalah beberapa cara mengobati gejala dermatitis seboroik yang alami maupun medis:

1. Perawatan Kulit yang Tepat

Jika penyakit ini muncul di tubuh, terutama di wajah, sebaiknya rajin mencucinya dengan sabun dan air bersih. Sering berjemur di bawah sinar matahari juga bisa mencegah pertumbuhan jamur di kulit selama mengalami penyakit kulit ini. Gunakan pula sampo antiketombe yang mengandung tar batubara, asam salisilat, selenium sulfida, atau zinc pyrithione.

2. Lidah Buaya

Sifat antiinflamasi di dalam lidah buaya efektif dapat menjadi obat dermatitis seboroik. Penggunaan lidah buaya segar bisa langsung dioleskan pada kulit yang terkena. Penggunaan suplemen lidah buaya juga dapat membantu mengurangi gejala dan mengurangi keparahannya.

3. Minyak Ikan

Minyak ikan mengandung banyak asam lemak omega-3 yang dikenal memiliki antiinflamasi. Penggunaan suplemen minyak ikan dapat mengurangi gejala kulit dari berbagai kondisi kulit. Menggunakan minyak ikan aman, asalkan diambil sesuai petunjuk dalam kemasan atau resep dokter.

4. Tea Tree Oil

Minyak ini telah lama digunakan untuk pengobatan berbagai kondisi kulit, termasuk sebagai obat dermatitis seboroik karena memiliki kualitas antibakteri, antijamur, dan antiinflamasi. Penggunaannya aman, tetapi harus diencerkan dengan minyak pembawa, seperti minyak kelapa atau minyak zaitun.

Caranya, campurkanlah sebanyak 3-5 tetes tea tree oil dalam 100 gram minyak pembawa sebelum dioleskan. Campuran ini dapat membantu mengurangi gatal dan membantu penyembuhan kulit bersisik.

5. Obat-Obatan

Obat-obatan topikal adalah perawatan paling sering digunakan untuk gejala penyakit ini, termasuk krim, gel, losion, salep yang mengandung kortikosteroid atau hidrokortison. Namun, obat-obatan ini dapat menyebabkan penipisan kulit secara berlebihan, sehingga dokter hanya akan menyarankan untuk penggunaan jangka pendek.

Jika penyakit ini muncul pada kulit kepala yang disebabkan oleh bakteri, penggunaan gel antibakteri, sampo, dan krim antijamur dapat mengatasi gejala penyakit ini.

Komplikasi Dermatitis Seboroik

Jika gejalanya parah dan tidak diobati (biasanya pada orang dewasa), infeksi bakteri sekunder mungkin dapat terjadi. Kondisi ini dapat menyebabkan kulit semakin memerah, terasa lembut, dan berair di sekitar kulit yang terkena.

Efek samping pengobatan penyakit ini juga menyebabkan komplikasi. Terapi kortikosteroid topikal dosis rendah (pada kulit) adalah obat yang efektif untuk mengobati penyakit ini, penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan efek samping seperti penipisan kulit dan telangiectasias (pembuluh darah melebar).

Pencegahan Dermatitis Seboroik

Meskipun penyebab dermatitis seboroik tidak diketahui secara jelas, ada beberapa pemicu dermatitis seboroik yang harus dihindari, di antaranya:

  • Hidari stres. Tekanan mental seperti stres dapat memperparah gejala penyakit ini. Jadi, cobalah untuk mengendalikan stres.
  • Hindari pemicu alergi. Jika gejala terkait dengan reaksi alergi, cobalah untuk menghindarinya. Misalnya jika alergi sweater wol, sebaiknya pilih berbahan katun atau sutra.
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan yang melemah juga dapat menjadi pemicu keparahan gejala dermatitis seboroik. Maka dari itu, pastikan makan makanan yang kaya vitamin E, C, dan K.

 

  1. Anonim. 2019. Seborrheic Dermatitis. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/seborrheic-dermatitis-medref#1. (Diakses pada 2 Juni 2020)
  2. Barhum, Lana. 2017. Natural remedies for seborrheic dermatitis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319113. (Diakses pada 2 Juni 2020)
  3. Doherty, Colleen. 2020. Symptoms of Seborrheic Dermatitis. https://www.verywellhealth.com/seborrheic-dermatitis-symptoms-4769659. (Diakses pada 2 Juni 2020)
  4. Mayo Clinic Staff. 2020. Seborrheic dermatitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/seborrheic-dermatitis/symptoms-causes/syc-20352710. (Diakses pada 2 Juni 2020)
  5. Watson, Kathryn. 2017. Natural Treatment for Seborrheic Dermatitis: What Works?. https://www.healthline.com/health/skin-disorders/seborrheic-dermatitis-natural-treatment#when-to-see-your-doctor. (Diakses pada 2 Juni 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi