Terbit: 2 Juli 2020 | Diperbarui: 20 Juli 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Dermatitis kontak adalah ruam merah dan gatal pada kulit yang disebabkan oleh kontak langsung dengan suatu zat yang menimbulkan alergi. Meski kondisi ini tidak menular dan menimbulkan masalah kesehatan yang serius, hal tersebut bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Simak gejala dermatitis kontak, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Dermatitis Kontak: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Dermatitis Kontak?

Pernahkah Anda menggunakan produk perawatan kulit atau mencuci pakaian dengan detergen kemudian kulit menjadi merah dan teriritasi? Jika pernah, mungkin Anda mengalami dermatitis kontak. Kondisi ini terjadi ketika bahan kimia yang digunakan menyebabkan alergi. Alergi sendiri menimbulkan ruam dengan warna kemerahan yang disertai dengan rasa gatal.

Gejala Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak biasanya terjadi pada area tubuh yang telah terpapar langsung dengan zat penyebab alergi. Ruam biasanya muncul dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah terpapar dan dapat berlangsung selama dua hingga empat minggu.

Tanda dan gejala yang bisa dikenali:

  • Ruam kemerahan
  • Muncul rasa gatal, kadang-kadang hingga parah
  • Muncul benjolan atau keropeng
  • Pembengkakan atau rasa nyeri

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Meski kondisi ini tidak perlu mendapatkan penanganan medis dengan serius, pada berapa kasus hal ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Segera temui dokter jika:

  • Ruam menimbulkan ketidaknyamanan sehingga mengganggu waktu tidur atau aktivitas sehari-hari.
  • Ruam muncul tiba-tiba, menyakitkan, atau menyebar.
  • Ruam tidak membaik dalam tiga minggu.
  • Ruam memengaruhi wajah atau alat kelamin.
  • Ruam mengganggu rasa percaya diri.

Penyebab Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak adalah kondisi yang disebabkan oleh zat yang mengiritasi kulit atau memicu alergi. Beberapa zat ini bisa menyebabkan dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi.

Dermatitis Kontak Iritan

Reaksi kulit nonalergi ini terjadi ketika suatu zat merusak lapisan pelindung luar kulit. Beberapa orang bereaksi  setelah paparan tunggal. Sementara orang lain dapat mengembangkan tanda dan gejala setelah paparan berulang untuk iritasi ringan. Beberapa hal yang berisiko meningkatkan kondisi ini, antara lain:

  • Menggunakan solvent
  • Menggunakan spiritus
  • Menggunakan pemutih dan detergen
  • Penggunaan sampo
  • Terpapar serbuk gergaji atau debu wol
  • Terpapar pupuk dan pestisida

Dermatitis Kontak Alergi

Dermatitis kontak alergi terjadi ketika suatu zat (alergen) memicu sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi secara tidak normal terhadap zat asing. Selain paparan langsung pada kulit, kondisi ini juga bisa dipicu oleh sesuatu yang masuk ke dalam tubuh seperti makanan, obat-obatan, atau menjalani prosedur medis.

Berikut adalah beberapa alergen yang bisa Anda kenali, di antaranya:

  • Nikel, biasanya terdapat di perhiasan atau aksesoris lainnya.
  • Obat-obatan, seperti krim antibiotik dan antihistamin oral.
  • Formaldehyde, biasanya ada di dalam bahan pengawet seperti disinfektan dan pengharum pakaian.
  • Produk perawatan pribadi seperti deodoran, sabun, pewarna rambut, kosmetik, dan cat kuku.
  • Tumbuhan seperti poison ivy dan mangga, mengandung zat yang sangat alergi disebut urushiol.
  • Serbuk sari dan semprotan insektisida.

Dibanding orang dewasa, anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kondisi ini. Beberapa penyebabnya adalah penggunaan popok, tisu bayi, tabir surya, dan sebagainya.

Faktor Risiko

Meski gangguan pada kulit ini tidak menular, terdapat kondisi yang membuat seseorang memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami hal ini. Beberapa pekerjaan dan hobi membuat Anda berisiko lebih tinggi terkena dermatitis kontak adalah:

  • Tenaga kesehatan
  • Pekerja logam
  • Pekerja konstruksi
  • Penata rambut dan tata rias
  • Mekanik
  • Penyelam scuba atau perenang, disebabkan oleh karet di masker wajah atau kacamata
  • Tukang kebun dan pekerja pertanian
  • Koki dan mereka yang bekerja terkait dengan makanan

Diagnosis Dermatitis Kontak

Dokter dapat mendiagnosis kondisi dengan menanyakan tentang gejala, mengungkap zat yang menjadi pemicu, dan memeriksa kulit untuk mengetahui pola dan intensitas ruam. Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan patch test untuk mengetahui apakah Anda alergi terhadap sesuatu. Tes ini dapat bermanfaat jika penyebab ruam tidak diketahui dengan pasti atau jika ruam sering kambuh.

Saat menjalani patch test, sejumlah kecil alergen potensial diterapkan pada tambalan perekat yang kemudian ditempatkan pada kulit. Patch tetap berada di kulit selama dua hingga tiga hari, selama waktu tersebut Anda harus menjaga punggung tetap kering.

Setelah itu, dokter akan memeriksa reaksi kulit di bawah patch dan menentukan apakah pengujian lebih lanjut diperlukan.

Pengobatan Dermatitis Kontak

Sebagian besar kasus dermatitis kontak hilang dengan sendirinya begitu zat tersebut tidak lagi bersentuhan dengan kulit. Berikut beberapa tips yang bisa Anda coba untuk mengurangi gejala dan mencegah kondisi menjadi lebih parah, di antaranya:

  • Hindari alergen. Dokter mungkin memberi Anda daftar produk yang biasanya mengandung zat yang memengaruhi kondisi.
  • Jika Anda alergi terhadap logam atau pada perhiasan, cara terbaik agar tidak terjadi hal ini adalah tidak memakainya. Apabila Anda ingin tetap memakainya, ciptakan penghalang tipis antara kulit dan benda tersebut.
  • Oleskan krim antigatal ke daerah yang terkena. Krim tanpa resep yang mengandung setidaknya 1 persen hidrokortison dapat meredakan gatal untuk sementara waktu. Salep steroid dapat diberikan satu atau dua kali sehari selama dua hingga empat minggu. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan losion kalamin.
  • Minum obat antigatal oral. Kortikosteroid atau antihistamin oral yang tidak diresepkan, seperti diphenhydramine dapat membantu pada gatal yang parah.
  • Gunakan kompres dingin dan basah. Basahi kain lap lembut dan tempelkan pada ruam untuk menenangkan kulit selama 15 hingga 30 menit. Ulangi beberapa kali sehari.
  • Hindari menggaruk dan rajin potong kuku. Jika Anda tidak bisa menahan terus-menerus area yang gatal, tutupi dengan kain.
  • Rendam dalam bak mandi dengan air dingin.
  • Gunakan pelembap sepanjang hari atau gunakan sarung tangan yang sesuai dengan aktivitas yang Anda lakukan.

Komplikasi Dermatitis Kontak

Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi jika Anda berulang kali menggaruk daerah yang terkena hingga menyebabkannya menjadi basah dan membuat darah mengalir. Hal ini menciptakan tempat yang baik bagi bakteri atau jamur untuk tumbuh sehingga dapat menyebabkan infeksi.

Pencegahan Dermatitis Kontak

Cara terbaik agar terhindar dari kondisi ini adalah dengan mengetahui apa yang menyebabkan alergi. Jika Anda bersentuhan dengan alergen, basuh sesegera mungkin untuk mengurangi reaksi alergi. Jika Anda tidak yakin apa yang menyebabkan ruam, lakukan langkah-langkah ini:

  • Gunakanlah semua produk-produk perawatan yang tidak menggunakan pewangi.
  • Pakailah alat pelindung jika Anda berisiko terkena alergen seperti masker, kacamata, atau sarung tangan.
  • Gunakan krim pelindung untuk menjaga lapisan luar kulit tetap kuat dan lembap.

 

  1. Anonim. Contact dermatitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/contact-dermatitis/symptoms-causes/syc-20352742. (Diakses pada 2 Juli 2020).
  2. Anonim. Contact Dermatitis. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/contact-dermatitis#1. (Diakses pada 2 Juli 2020).
  3. Nall, Rachel. 2019. What Is Contact Dermatitis?.https://www.healthline.com/health/contact-dermatitis. (Diakses pada 2 Juli 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi