Terbit: 8 Juni 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Adrian Setiaji

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang umumnya muncul ketika musim hujan. Jika dibiarkan tanpa pengobatan akan menimbulkan komplikasi seperti kejang hingga kematian. Baca terus untuk mendapatkan informasi lengkap tentang definisi demam berdarah, gejala, penyebab, pengobatan, dan pencegahan.

Demam Berdarah Dengue (DBD): Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Demam Berdarah Dengue (DBD)?

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh salah satu dari empat virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus kepada manusia. Virus dengue sebagai penyebab DBD ini terkait dengan virus yang menyebabkan infeksi West Nile dan demam kuning. Virus ini tidak dapat menyebar langsung dari satu orang ke orang lain.

DBD adalah penyakit yang biasa terjadi di negara tropis dan subtropis. Sebuah penelitian memperkirakan bahwa sekitar 50 juta orang di seluruh dunia terinfeksi setiap tahunnya.

Gejala DBD ringan awalnya ditandai dengan demam, ruam, dan nyeri otot dan sendi. Virus dengue jarang menyebabkan kematian, namun infeksi dapat berkembang menjadi lebih serius yang dikenal sebagai demam berdarah parah atau demam berdarah dengue.

Gejala DBD (Demam Berdarah Dengue)

Gejala biasanya akan muncul setelah empat sampai enam hari setelah infeksi dan bisa berlangsung hingga 10 hari. Secara umum, berikut gejala atau ciri-ciri DBD:

  • Demam ringan, sedang, atau tinggi
  • Nyeri otot, tulang, atau sendi
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Ruam pada kulit

Ketika penderita penyakit ini merasa seperti pulih, kemungkinan secara tiba-tiba dapat mengembangkan gejala baru dan parah. Sejumlah kondisi yang menjadi ciri-ciri DBD, di antaranya:

  • Gelisah
  • Demam tinggi yang mendadak
  • Sakit perut yang parah
  • Tidak nafsu makan
  • Berdarah atau memar di bawah kulit
  • Ruam kemerahan
  • Kulit dingin atau lembap
  • Mimisan
  • Tekanan darah sangat rendah (syok)
  • Pembengkakan kelenjar getah bening

Demam berdarah bahkan bisa berkembang menjadi dengue shock syndrome (DSS). Gejala yang dapat dikenali adalah terjadinya pendarahan yang masif, syok (tekanan darah semakin rendah), dan kematian.

Baca Juga: 9 Gejala Demam Berdarah (DBD) yang Jarang Disadari

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Segera ke rumah sakit terdekat jika mengalami gejala darurat, seperti sakit perut yang parah, muntah, kesulitan bernapas, atau keluar darah dari hidung, gusi, muntah, atau tinja. Atau jika mengalami demam dan gejala lebih ringan yang biasa terjadi pada demam berdarah.

Penyebab DBD (Demam Berdarah Dengue)

Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh gigitan nyamuk DBD, yakni Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang membawa virus dengue, atau terkena darah yang terinfeksi virus dengue. Saat virus dengue menginfeksi nyamuk dan kemudian menggigit manusia, maka virus masuk ke dalam aliran darah.

Setelah sembuh dari infeksi salah satu dari empat jenis virus, seseorang akan mengembangkan kekebalan tubuh terhadap virus selama hidupnya. Namun, kekebalan ini tidak akan menjamin dapat melindungi dari virus lainnya. Bahkan dapat dimungkinkan bisa terinfeksi dari keempat jenis virus dengue.

Paparan berulang terhadap virus dengue juga dapat membuat seseorang lebih mungkin kembali terkena demam berdarah dengue.

Faktor Risiko DBD

Orang yang tinggal atau bepergian ke negara yang memiliki wabah DBD, termasuk Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Tengah, Afrika sub-Sahara, dan bagian-bagian Karibia dapat meningkatkan risiko seseorang tertular virus dengue.

Selain itu, berikut ini beberapa orang berisiko lebih tinggi terkena DBD:

  • Bayi dan anak-anak.
  • Wanita hamil (virus dapat ditularkan dari ibu ke janin).
  • Orang tua.
  • Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Diagnosis DBD

Biasanya dokter akan mendiagnosis jenis virus dengue dan kemudian mulai mengidentifikasi ciri-ciri demam berdarah dengue.

Berikut beberapa tahapan pemeriksaan untuk mendiagnosis DBD:

  • Memeriksa tekanan darah.
  • Memeriksa kulit, mata, dan kelenjar.
  • Melakukan tes darah dan pemeriksaan koagulasi.
  • Rontgen dada.

Selain melakukan serangkaian tes tersebut, dokter juga akan mengajukan pertanyaan berikut:

  • Mengajukan pertanyaan tentang riwayat kesehatan pribadi dan keluarga pasien.
  • Menanyakan gaya hidup dan perjalanan terakhir pasien.
  • Mengesampingkan kondisi lain seperti malaria, yang umum di daerah tropis.

Komplikasi DBD

Demam berdarah dengue berat atau akut dapat menyebabkan beberapa komplikasi berikut:

  • Kejang
  • Kerusakan pada otak
  • Penggumpalan darah
  • Kerusakan pada hati dan paru-paru
  • Kerusakan jantung
  • Syok (tekanan darah sangat rendah)
  • Kematian

Pengobatan DBD

Tidak ada obat khusus untuk mengobati infeksi dengue. Terapi standar yang diberikan di rumah sakit atau puskesmas untuk pengobatannya adalah infus dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan untuk meredakan gejala dan mencegah keparahan.

Berikut beberapa pengobatan untuk DBD yang ringan:

  • Menggunakan obat penurun panas seperti parasetamol.
  • Menghindari obat-obatan yang mengandung aspirin karena dapat memperburuk pendarahan.
  • Beristirahat dan minum banyak cairan.

Jika gejala DBD tergolong parah, mungkin memerlukan perawatan darurat berikut:

  • Hidrasi dengan cairan intravena (IV).
  • Obat bebas atau resep untuk mengatasi rasa sakit.
  • Terapi elektrolit.
  • Transfusi darah.
  • Pemantauan tekanan darah secara cermat.
  • Terapi oksigen.
  • Observasi keperawatan yang terampil.

Serangkaian pengobatan tersebut bertujuan untuk mengendalikan dan meredakan gejala sambil membantu tubuh sembuh secara alami. Biasanya dokter akan terus memantau respons tubuh pasien. Demam berdarah parah sering kali lebih sulit diobati karena gejalanya lebih buruk dan muncul lebih cepat.

Baca Juga: 8 Jus Ini Efektif Mengobati Demam Berdarah Dengue

Pencegahan DBD

DBD adalah penyakit yang secara khusus belum ada obatnya. Cara terbaik dalam pencegahan demam berdarah adalah menghindari gigitan nyamuk DBD. Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah DBD adalah:

  • Menghindari daerah-daerah yang padat penduduk dan adanya wabah DBD.
  • Menggunakan obat nyamuk meski di dalam ruangan.
  • Menggunakan pakaian lengan panjang, celana panjang, dan kaus kaki saat ke luar rumah.
  • Memastikan jendela dan pintu tertutup rapat dan bebas dari lubang.
  • Menggunakan kelambu pada tempat tidur.
  • Segera temui dokter jika diguga memiliki gejala demam berdarah.

Menerapkan Gerakan 3M

Dalam pencegahannya, terdapat beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi perkembangbiakan nyamuk DBD. Salah satunya adalah menyingkirkan tempat di mana nyamuk bisa berkembang biak dengan gerakan 3M-Plus, di antaranya:

  • Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi, WC, drum, dan barang lainnya seminggu sekali.
  • Menutup rapat-rapat penampungan air seperti gentong air/tempayan atau tempat air lainnya.
  • Mendaur ulang barang-barang yang dapat menampung air.

Selain 3 langkah di atas, ditambah (plus) beberapa cara lain berikut ini:

  • Mengganti air vas bunga, tempat minum burung, atau tempat lain sejenisnya seminggu sekali.
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang bermasalah.
  • Menutup lubang-lubang pada potongan bambu dengan tanah.
  • Menaburkan bubuk larvasida di tempat air yang sulit dikuras.
  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk DBD di kolam atau bak penampungan air.

 

  1. Anonim. 2019. Dengue fever. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/dengue-fever-reference#1. (Diakses pada 8 Juni 2020)
  2. Info Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2013. Situasi Demam Berdarah dengue di Indonesia. https://www.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-demam-berdarah.pdf. (Diakses pada 8 Juni 2020)
  3. Mayo Clinic Staff. 2018. Dengue fever. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dengue-fever/symptoms-causes/syc-20353078. (Diakses pada 8 Juni 2020)
  4. Tim Editorial Healthline. 2017. Dengue Hemorrhagic Fever. https://www.healthline.com/health/dengue-hemorrhagic-fever#diagnosis. (Diakses pada 8 Juni 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi