Terbit: 9 Februari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Delirium adalah gangguan mental yang membuat seseorang kebingungan dan menurunnya kesadaran terhadap lingkungan di sekitar. Kondisi ini bisa muncul secara tiba-tiba dan bisa berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari. Ketahui penyebab, gejala, hingga pengobatannya.

Delirium: Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

Apa Itu Delirium?

Seperti penjelasan sebelumnya, delirium adalah perubahan mendadak pada otak yang menyebabkan kebingungan mental dan gangguan emosi. Kondisi ini membuat seseorang sulit untuk berpikir, mengingat, tidur, konsentrasi, dan melakukan aktivitas sehari-hari. Seseorang bisa mengalami kondisi ini saat berhenti mengonsumsi alkohol, setelah operasi, atau mereka yang mengalami demensia.

Kondii ini merupakan gangguan yang disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari penyakit kronis, terganggunya keseimbangan metabolisme (kadar natrium rendah), konsumsi obat-obatan, pembedahan, atau keracunan obat.

Penyebab Delirium

Penyebab kondisi ini adalah terganggunya penerima sinyal di otak. Gangguan ini kemungkinan besar disebabkan oleh kombinasi faktor-faktor yang membuat otak menjadi rentan sehingga memicu kegagalan fungsi otak. Meski penyebab pastinya belum dapat diidentifikasi, terdapat beberapa kemungkinan penyebab delirium, yaitu:

  • Kondisi medis, seperti stroke, serangan jantung, penyakit paru-paru, penyakit hati, atau cedera akibat jatuh.
  • Ketidakseimbangan metabolisme, seperti natrium atau kalsium yang rendah
  • Demam dan infeksi akut, terutama pada anak-anak.
  • Infeksi saluran kemih, terutama pada mereka yang lanjut usia.
  • Pajanan terhadap racun, seperti karbon monoksida, sianida atau racun lainnya
  • Malnutrisi atau dehidrasi.
  • Kurang tidur atau tekanan emosional yang parah.
  • Pembedahan atau prosedur medis lainnya yang memerlukan anestesi.

Beberapa obat atau kombinasi obat dapat memicu delirium, antara lain:

  • Obat penghilang rasa sakit.
  • Obat tidur.
  • Obat-obatan untuk gangguan mood, seperti kecemasan dan depresi.
  • Obat alergi (antihistamin).
  • Obat asma.
  • Obat steroid.
  • Obat penyakit Parkinson.

Selain beberapa penyebab di atas, kesulitan bernapas karena asma atau kondisi lain, membuat otak tidak mendapatkan oksigen yang dibutuhkan. Setiap kondisi atau faktor yang secara signifikan mengubah fungsi otak dapat menyebabkan kebingungan mental yang parah atau delirium.

Jenis Delirium

Penyakit ini dikategorikan berdasarkan penyebab, keparahan, dan karakteristiknya. Berikut beberapa jenis yang perlu diketahui:

  • Delirium Tremens

Jenis ini adalah sebuah kondisi yang dialami oleh seseorang yang mencoba berhenti untuk mengonsumsi alkohol. Kondisi ini biasanya terjadi pada penderita yang sudah mengonsumsi alkohol selama bertahun-tahun.

  • Delirium Hiperaktif

Ditandai dengan sikap yang sangat waspada dan cenderung tidak kooperatif.

  • Delirium Hipoaktif

Penderita jenis ini cenderung membuat penderita lebih banyak tidur, menjadi lalai terhadap tugas sehari-hari, sering melewatkan makan atau janji bertemu dengan seseorang.

Pada beberapa kasus, seseorang juga bisa memiliki kombinasi hiperaktif dan hipoaktif (delirium campuran), atau bergantian antara kedua keadaan tersebut.

Gejala Delirium

Pada beberapa kasus, gangguan ini tidak menimbulkan gejala, namun bisa juga berfluktuasi sepanjang hari. Gejala cenderung lebih buruk saat suasana gelap dan menghadapi suasana-suasana yang belum akrab. Tanda dan gejala utama, di antaranya:

1. Menurunnya Kesadaran

  • Ketidakmampuan untuk tetap fokus pada suatu topik atau mudah untuk beralih topik.
  • Lebih banyak terjebak pada ide daripada menanggapi pertanyaan atau percakapan.
  • Menjadi mudah terganggu oleh hal-hal yang tidak penting.

2. Menurunnya Kemampuan Kognitif

  • Daya ingat yang buruk, terutama mengenai peristiwa-peristiwa terkini.
  • Mengalami disorientasi.
  • Kesulitan berbicara atau mengingat kata-kata.
  • Meracau.
  • Kesulitan memahami pembicaraan.
  • Kesulitan membaca atau menulis.

3. Perubahan Perilaku

  • Mengalami halusinasi.
  • Gelisah atau perilaku agresif.
  • Menarik diri terutama pada orang dewasa yang lebih tua.
  • Gerak tubuh menjadi lambat atau lesu.
  • Terganggunya waktu tidur atau perubahan siklus tidur.

Diagnosis Delirium

Perlu diketahui, karena gejala demensia dan delirium adalah sesuatu yang dapat serupa, masukan dari anggota keluarga atau orang-orang terdekat menjadi penting bagi dokter untuk membuat diagnosis yang akurat.

Dokter akan melihat riwayat klinis penderita (bagaimana dan kapan perubahan terjadi), kesehatan yang mendasarinya, dan kondisi mental saat ini.

Terdapat berbagai alat dan tes klinis yang akan digunakan dokter untuk membuat diagnosis, tetapi tidak ada tes darah atau tes laboratorium lainnya untuk melakukan hal ini.

Diagnosis yang bisa dilakukan, di antaranya:

1. Penilaian Status Mental

Seorang dokter mulai dengan menilai kesadaran, perhatian dan pemikiran. Ini dapat dilakukan secara informal melalui percakapan, atau dengan tes kebingungan, persepsi, dan memori. Informasi tambahan dari anggota keluarga atau orang-orang juga dapat membantu.

2. Ujian Fisik dan Neurologis

Dokter melakukan pemeriksaan fisik, memeriksa tanda-tanda masalah kesehatan atau penyakit yang mendasarinya. Diagnosis lainnya adalah pemeriksaan neurologis seperti memeriksa penglihatan, keseimbangan, koordinasi, dan refleks. Cara ini dapat membantu menentukan apakah stroke atau penyakit neurologis menyebabkan delirium.

3. Tes Lainnya

Tes pencitraan otak dapat digunakan ketika diagnosis tidak dapat dilakukan dengan informasi lain yang tersedia. Tes lain yang mungkin disarankan adalah tes darah atau urine.

Pengobatan Delirium

Sebelum melakukan pengobatan, penting untuk menemukan penyebab yang mendasarinya. Delirium adalah gangguan mental yang biasanya akan membaik jika penyebab yang mendasarinya ditemukan dan diobati.

Beberapa langkah lainnya yang bisa dilakukan, di antaranya:

1. Obat-obatan

Dokter akan meresepkan obat untuk mengobati penyebabnya. Misalnya, jika disebabkan oleh serangan asma yang parah, Anda mungkin memerlukan mesin inhaler untuk mengembalikan pernapasan. Jika infeksi bakteri menyebabkan gejala delirium, antibiotik dapat diresepkan.

Sementara itu jika gelisah yang menjadi penyebab, maka dokter mungkin memberikan dosis kecil dari salah satu obat berikut, antara lain:

  • Antidepresan untuk menghilangkan depresi.
  • Obat penenang untuk memudahkan berhenti konsumsi alkohol.
  • Blocker dopamin untuk membantu keracunan obat.
  • Thiamine untuk membantu mencegah kebingungan.

Perlu diketahui, Anda mungkin mengalami efek samping dari obat yang digunakan untuk mengobati kondisi ini. Bicaralah dengan dokter sebelum mengonsumsinya.

2. Konseling

Jika Anda merasa cemas berlebih, konseling dapat membantu menenangkan pikiran agar delirium tidak terjadi. Konseling juga digunakan sebagai pengobatan yang disebabkan oleh narkoba atau alkohol.

Dalam semua kasus, konseling dimaksudkan untuk membuat Anda merasa nyaman dan memberi tempat yang aman untuk mendiskusikan pikiran dan perasaan.

Pencegahan Delirium

Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya:

  • Olahraga secara teratur dan pola makan yang sehat.
  • Ciptakan pola tidur yang sehat. Hal ini membuat penderita memiliki aktivitas yang optimal antara siang dan malam hari.
  • Hindari setiap pertengkaran, karena dapat mencegah bertambah parah.
  • Atur tingkat kebisingan di lingkungan sekitar.
  • Taruh objek atau gambar favorit, akan tetapi hindari lingkungan yang berantakan.

 

  1. Anonim. Delirium. https://www.alzheimers.org.uk/get-support/daily-living/delirium. (Diakses pada 9 September 2019).
  2. Badii, Chitra. 2018. What’s Delirium and How Does It Happen. https://www.healthline.com/health/delirium#treatment. (Diakses pada 9 September 2019).
  3. Mayo Clinic Staff. 2018. Delirium. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/delirium/diagnosis-treatment/drc-20371391. (Diakses pada 9 September 2019).
  4. RCPsych Public Engagement Editorial Board. 2019. Delirium. https://www.rcpsych.ac.uk/mental-health/problems-disorders/delirium. (Diakses pada 9 September 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi