Terbit: 26 Januari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Banyak orang yang menganggap makanan yang tidak diberi garam akan terasa sangat hambar. Hal ini disebabkan oleh kemampuan garam dalam membuat rasa makanan menjadi lebih gurih. Masalahnya adalah jika kita terlalu banyak mengonsumsinya, bisa menyebabkan efek buruk bagi kesehatan tubuh.

6 Dampak Terlalu Banyak Makan Garam

Dampak Terlalu Banyak Makan Garam

Garam memiliki kandungan sodium yang bisa mempengaruhi fungsi saraf, otot, dan keseimbangan cairan tubuh. Pakar kesehatan menyebut dampak dari konsumsi garam mirip seperti mengonsumsi nikotin dari rokok, karena alasan inilah sebaiknya kita membatasi asupan garam maksimal sekitar 5 gram saja setiap hari.

Berikut adalah beberapa dampak kesehatan yang bisa kita alami jika terlalu banyak makan garam.

  1. Menurunkan Fungsi Otak

Telah ada penelitian yang membuktikan bahwa orang dewasa yang terlalu banyak mengonsumsi garam lebih rentan mengalami penurunan fungsi otak. Penelitian ini dilakukan oleh para ahli dari Baycrest. Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa asupan garam berlebihan bisa memicu penyempitan pembuluh darah. Tak hanya bisa membahayakan jantung, hal ini juga bisa membuat pembuluh darah menuju otak menyempit.

Otak tidak mendapatkan darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi dengan cukup sehingga membuat fungsi kognitifnya menurun. Kita akan sulit berpikir, berkonsentrasi, hingga mudah mengantuk.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

  1. Merusak Fungsi Ginjal

Tak hanya otak yang rentan mengalami penurunan fungsi, terlalu banyak asupan garam juga bisa membuat fungsi ginjal menurun. Hal ini disebabkan oleh kemampuan garam dalam mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh. Padahal, ginjal juga berperan besar dalam menentukan kapan tubuh harus menahan atau membuang cairan.

Konsumsi garam berlebihan bisa saja membuat proses pembuangan cairan menjadi menurun. Volume darah meningkat dengan signifikan. Bahkan, bisa jadi akan menyebabkan pembengkakan pada beberapa bagian tubuh. Fungsi ginjal akan semakin berat dan akhirnya membuatnya lebih rentan mengalami kerusakan.

  1. Membuat Tekanan Darah Naik

Garam bisa memberikan pengaruh pada tekanan darah. Hal ini disebabkan oleh kemampuannya dalam membuat tubuh menahan cairan dan membuat volume darah semakin meningkat. Hal ini membuat tekanan pada pembuluh darah semakin meningkat. Masalahnya adalah hal ini bisa meningkatkan risiko terkena hipertensi dengan signifikan.

Jika kita sebelumnya mengalami masalah kesehatan seperti kolesterol tinggi atau aterosklerosis, peningkatan tekanan darah ini bisa berimbas buruk pada meningkatnya risiko hipertensi, penyakit jantung, dan berbagai masalah kesehatan serius lainnya.

  1. Meningkatkan RIsiko Stroke

Tak hanya penyakit jantung yang mematikan, pakar kesehatan menyebut asupan garam berlebihan setiap hari bisa meningkatkan risiko terkena stroke. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya tekanan darah yang berimbas pada kemungkinan terjadinya penyumbatan pembuluh darah menuju otak.

Selain stroke, kita juga lebih rentan mengalami demensia vascular, demensia yang dipicu oleh terganggunya sirkulasi darah menuju otak. Dampaknya bisa memicu gangguan memori di usia tua.

  1. Membuat Tulang Rentan Menipis

Terlalu banyak garam bisa mempengaruhi proses pembuangan kalsium dengan lebih banyak. Dampaknya bisa memicu penipisan atau pengeroposan tulang. Jika hal ini terus terjadi dalam jangka panjang, dikhawatirkan bisa menyebabkan peningkatan risiko terkena osteoporosis dan patah tulang.

  1. Meningkatkan Risiko Kanker Perut

Penelitian yang diumumkan hasilnya dalam International Journal of Epidemiology pada 1996 silam menghasilkan fakta bahwa konsumsi garam berlebihan terkait dengan peningkatan risiko kanker perut. Memang, hasil penelitian ini masih menjadi perdebatan para pakar kesehatan, namun sebaiknya memang kita mewaspadainya.

 

Sumber

  1. Annigan, Jan. 2018. Side Effects of Ingesting Too Much Salt. https://healthyeating.sfgate.com/side-effects-ingesting-much-salt-6242.html (Diakses pada 25 Januari 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi