Terbit: 19 Mei 2020 | Diperbarui: 5 Juni 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Dampak perceraian bagi anak mungkin akan berbeda-beda. Hal itu tergantung dari usia anak pada saat perceraian, kondisi yang menyebabkan terjadinya perceraian, dan kepribadian anak. Perlu diketahui, situasi ini dapat meninggalkan perasaan luka yang akan terus dibawanya hingga dewasa.

10 Dampak Perceraian bagi Anak dan Tips Menjaga Kesehatan Mentalnya

Mengenali Dampak Perceraian bagi Anak

Perceraian adalah mimpi buruk bagi siapapun yang menjalani rumah tangga. Namun, munculnya berbagai macam masalah dalam keluarga membuat alasan perceraian sering kali muncul sebagai solusi terakhir.

Berikut ini berbagai dampak perceraian bagi anak yang perlu diantisipasi dan diketahui orang tua:

1. Membuatnya Lebih Agresif

Efek perceraian bagi anak ternyata bisa membuat seorang anak lebih agresif, terutama ketika perceraian dilakukan ketika anak memasuki usia remaja. Perceraian membuat seorang anak untuk melakukan tindakan-tindakan menantang dan lebih bertekad untuk menjalani hidup dengan caranya sendiri.

2. Sulit Mengatur Emosi

Anak korban perceraian akan berjuang lebih sulit saat menghadapi tahun pertama atau kedua setelah perceraian. Dampak perceraian bagi anak adalah munculnya perasaan cemas, rasa tidak percaya, dan sulit mengelola emosi.

Meski begitu, banyak anak korban perceraian bisa bangkit dan terbiasa dengan perubahan yang mereka alami. Akan tetapi ada juga beberapa anak yang tidak bisa kembali ke kondisi yang benar-benar ‘normal’ seperti sebelumnya.

3. Membuat Anak Frustasi

Pada dasarnya, perceraian itu menciptakan gejolak emosi bagi seluruh anggota keluarga, tetapi untuk anak-anak, situasinya bisa sangat menakutkan, membingungkan, dan membuatnya frustasi. Anak korban perceraian, khususnya yang masih kecil sering sulit untuk memahami mengapa mereka harus memilih di antara ayah atau ibunya.

Dampak perceraian bagi anak akan membuatnya khawatir jika orang tuanya berhenti saling mengasihi satu sama lain atau perasaan orang tua yang akan berhenti mencintainya. Bahkan, seorang anak mungkin merasa khawatir apakah perceraian ini disebabkan oleh kesalahan yang dilakukannya.

4. Tidak Memiliki Kedekatan dengan Orang Tua

Sebuah perceraian otomatis akan membuat anak akan berkurang menjalin komunikasi pada ayah atau ibunya. Menurunnya kontak langsung dengan salah satu orang tua dapat menyebabkan seorang anak merasa kurang dekat dengannya. Kondisi ini bisa menyebabkan seorang anak akan banyak menghabiskan waktunya di luar rumah ketimbang bersama keluarga.

5. Tingkat Stres yang Lebih Tinggi

Sebuah studi mengungkapkan, bahwa tingkat stres anak jauh lebih tinggi dengan pola asuh tunggal. Namun pada beberapa anak, perceraian orang tua bukanlah bagian yang paling sulit. Stres yang terjadi adalah stres tambahan setelah perceraian seperti berpindah sekolah atau pindah ke tempat tinggal yang baru.

6. Berhubungan Seksual di Usia Dini

Dampak perceraian bagi anak khususnya pada usia remaja adalah membuatnya berisiko tinggi untuk menjadi aktif secara seksual sebelum usia 16 tahun. Efek lainnya yang bisa terjadi adalah seorang anak memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol dan penggunaan obat-obatan terlarang yang lebih dini.

7. Memengaruhi Nilai Akademik

Sebuah studi menunjukkan bahwa dampak perceraian bagi anak bisa memengaruhi kemampuan akademiknya di sekolah. Perceraian orang tua juga dikaitkan dengan tingkat ketidakhadiran dan tingkat putus sekolah yang lebih tinggi. Semakin banyak gangguan yang terjadi usai perceraian, semakin sulit seorang anak untuk fokus pada tugas-tugas di sekolahnya.

8. Hilangnya Minat pada Kegiatan Sosial

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dampak perceraian bagi anak bisa memengaruhi hubungan sosialnya. Anak-anak yang keluarganya mengalami perceraian mungkin mengalami kesulitan berhubungan dengan orang lain dan cenderung memiliki kontak sosial yang lebih sedikit.

9. Menjadi Lebih Sensitif

Dampak perceraian bagi anak ternyata juga bisa membuatnya menjadi pribadi yang sensitif. Perasaan kehilangan, kemarahan, kebingungan, kecemasan, dan banyak lainnya yang dihadapi pada masa transisi ini dapat membuat anak merasa lebih sensitif secara emosional.

10. Peningkatan Masalah Kesehatan

Dampak perceraian bagi anak ini terkait dengan kondisi lainnya seperti stres atau kesulitan tidur. Jika kondisi tersebut tidak mendapatkan penanganan, tidak hanya kondisi mental yang terpengaruh tetapi kondisi fisik juga bisa terdampak, yaitu menurunnya kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Nah, itulah berbagai dampak perceraian bagi anak yang wajib diketahui orang tua.

Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak Jika Orang Tua Bercerai

Setelah mengetahui berbagai efek perceraian bagi anak, perlu diketahui bahwa efek psikologis dari perceraian bisa bertahan lama. Melihat dampak negatif yang bisa berlanjut hingga dewasa, orang tua harus menyadari bahwa dirinya memainkan peran utama bagaimana anak-anak menyesuaikan diri dengan perceraian.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa dicoba untuk menjaga kesehatan mentalnya:

  • Jangan menempatkan anak di ‘posisi tengah’. Meminta anak untuk memilih orang tua mana yang paling mereka sukai dapat membuatnya lebih mungkin mengalami depresi dan kecemasan.
  • Pertahankan hubungan yang baik dengan anak. Komunikasi yang positif, kehangatan orang tua, dan tingkat konflik yang rendah dapat membantu anak menyesuaikan diri.
  • Hubungan orang tua-anak yang sehat telah terbukti untuk membantu anak mengembangkan harga diri yang lebih tinggi dan kinerja akademik yang lebih baik setelah perceraian.
  • Terapkan aturan yang konsisten. Menetapkan aturan sesuai usia dan menindaklanjuti dengan konsekuensi bila diperlukan. Studi menunjukkan disiplin tinggi setelah perceraian mengurangi kenakalan dan meningkatkan kemampuan akademiknya.
  • Bantu anak Anda merasa aman dan nyaman. Ketakutan akan ditinggalkan dan kekhawatiran tentang masa depan dapat menyebabkan banyak kecemasan. Akan tetapi membantu anak merasa dicintai, aman, dan nyaman dapat mengurangi risiko masalah kesehatan mental.

Satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan adalah memberdayakan anak Anda. Seorang anak yang meragukan kemampuannya untuk menghadapi perubahan—melihat diri mereka sebagai korban tak berdaya—lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental. Meskipun perceraian adalah sesuatu yang sulit, yakini anak Anda bahwa dia memiliki kekuatan untuk menanganinya.

Akan tetapi, jika efek perceraian ini berlangsung lama pada anak, sepertinya orang tua harus membutuhkan tenaga profesional. Terapi individu dapat membantu anak untuk mengatur emosinya, selain itu terapi keluarga juga direkomendasikan untuk mengatasi perubahan dinamika di dalam keluarga.

 

  1. Anonim. What Are the Effects of Divorce on Children?. https://www.familymeans.org/effects-of-divorce-on-children.html. (Diakses pada 19 Mei 2020).
  2. Morin, Amy. 2019. The Psychological Effects of Divorce on Children. https://www.verywellfamily.com/psychological-effects-of-divorce-on-kids-4140170. (Diakses pada 19 Mei 2020).
  3. Pickhardt, Carl E. 2011. The Impact of Divorce on Young Children and Adolescents. https://www.psychologytoday.com/us/blog/surviving-your-childs-adolescence/201112/the-impact-divorce-young-children-and-adolescents. (Diakses pada 19 Mei 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi