Dampak Psikologis Perceraian Bagi Anak

Doktersehat-akibat-perceraian-bagi-anak
Photo Credit: Flickr.com/Wall & Wall Attorneys at Law PC

DokterSehat.Com – Bagi Anda yang memutuskan untuk hidup berumah tangga, perceraian adalah sesuatu yang tidak diimpikan. Namun, munculnya berbagai macam masalah dalam rumah tangga membuat alasan perceraian sering kali muncul sebagai solusi terakhir.

Perlu diketahui, akibat perceraian tidak hanya berdampak pada orang tua. Perceraian bagi anak dapat meninggalkan perasaan luka yang bisa akan terus dibawanya hingga dewasa.

Dampak yang mungkin terjadi pada setiap anak bisa berbeda-beda. Hal ini tergantung dari usia anak pada saat perceraian, kondisi perceraian, dan kepribadian anak.

Menurut Carl Pickhardt Ph.D., seorang psikolog asal Texas, perceraian membawa perubahan besar dalam kehidupan seorang anak laki-laki atau perempuan—tidak peduli berapapun usianya.

Meski begitu, respon yang berbeda akan terlihat pada anak kecil dan anak yang memasuki usia remaja saat menyaksikan perceraian orang tuanya.  Perceraian cenderung meningkatkan ketergantungan anak dan cenderung mempercepat kemandirian remaja.

baca juga: Begini Dampak Perceraian Bagi Kesehatan

Selain itu, perceraian juga mengakibatkan respon yang lebih agresif pada anak-anak maupun remaja. Pickhardt mengungkapkan, dunia anak-anak adalah dunia yang bergantung pada orang tua dan menganggap keluarga sebagai tempat utama kehidupan sosial seorang anak.

Sedangkan pada dunia remaja adalah dunia yang lebih mandiri, lebih terpisah dan jauh dari orang tua. Dunia remaja menganggap teman-teman adalah fokus utama kehidupan sosial. Masa ini adalah masa di mana seorang remaja mulai meluaskan hubungan di luar keluarga dalam dunia pengalaman hidup yang lebih besar.

Akibat perceraian khususnya pada remaja, membuat seorang anak untuk melakukan tindakan-tindakan menantang dan lebih bertekad untuk menjalani hidup dengan caranya sendiri. Dia akan merasa semakin otonom dan berhak untuk bertindak sendiri.

Selain itu, seorang anak korban perceraian sering kali bereaksi dengan cara memberontak, tidak mematuhi aturan keluarga dan hidup dengan caranya sendiri. Hal ini adalah akibat dari orang tua yang gagal memenuhi komitmen yang mereka buat sendiri.

Tahun Pertama Setelah Perceraian Adalah yang Terberat

Anak korban perceraian akan berjuang lebih sulit saat menghadapi tahun pertama atau kedua setelah perceraian. Kondisi bisa berakibat pada munculnya perasaan cemas, rasa tidak percaya dan sulit mengelola emosi.

Meski begitu, banyak anak korban perceraian bisa bangkit dan terbiasa dengan perubahan yang mereka alami. Akan tetapi ada juga beberapa anak yang tidak bisa kembali ke kondisi yang benar-benar ‘normal’ seperti sebelumnya.

Pada dasarnya, perceraian itu menciptakan gejolak emosi bagi seluruh anggota keluarga, tetapi untuk anak-anak, situasinya bisa sangat menakutkan, membingungkan, dan membuatnya frustrasi.

Anak korban perceraian, khususnya yang masih kecik sering sulit untuk memahami mengapa mereka harus memilih di antara ayah atau ibunya. Seorang anak akan khawatir jika orang tuanya berhenti saling mengasihi satu sama lain hingga perasaan orang tua yang akan berhenti mencintainya.

Bahkan, seorang anak mungkin merasa khawatir apakah perceraian ini disebabkan oleh kesalahan yang mereka lakukan.

Sedangkan dampak lain bisa terjadi pada anak remaja. Anak remaja bisa menjadi sangat marah tentang perceraian dan perubahan yang terjadi. Mereka mungkin menyalahkan salah satu orang tua atas pergolakan yang terjadi di dalam keluarga. Meski begitu, tidak semua anak korban perceraian mengalami hal yang sama.

baca juga: Di Usia Pernikahan Inilah Perceraian Rentan Terjadi

Masalah Lain Setelah Perceraian

Sebuah perceraian otomatis akan membuat anak-anak berkurang menjalin komunikasi pada ayah atau ibunya. Seperti dikutip dari verywellfamily, penelitian menunjukkan bahwa menurunnya kontak dengan orang tua menyebabkan seorang merasa kurang dekat dengan orang tuanya

Studi itu juga menemukan bahwa tingkat stres anak jauh lebih tinggi dengan pola asuh tunggal. Selain itu, penelitian menunjukkan tingkat kedisiplinan anak menurun dan menjadi tidak konsisten.

Pada beberapa anak, pemisahan orang tua bukanlah bagian yang paling sulit. Sebaliknya, stres yang menyertainya adalah beberapa stres tambahan setelah perceraian. Seperti berpindah sekolah, pindah ke rumah baru, dan tinggal dengan orang tua tunggal.

Selain itu, kesulitan keuangan juga sering terjadi setelah perceraian. Banyak keluarga harus pindah ke rumah yang lebih kecil atau mengubah gaya hidupnya karena sumber daya yang dimilikinya lebih sedikit.

Berikut ini adalah masalah lain yang bisa terjadi pada anak setelah perceraian, di antaranya:

  • Perceraian tingkatkan masalah mental

Perceraian dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental pada anak-anak dan remaja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan budaya. Penelitian menunjukkan, anak-anak dari orang tua yang bercerai mengalami peningkatan masalah psikologis, seperti tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.

  • Perceraian bisa mengubah perilaku

Anak korban perceraian bisa mengalami lebih banyak masalah terkait gangguan perilaku, kenakalan, dan perilaku impulsif ketimbang anak yang diasuh oleh dua orang tua. Selain masalah perilaku yang meningkat, anak korban perceraian juga dapat mengalami lebih banyak konflik dengan teman sebayanya.

Sementara itu, terdapat penelitian lain yang mengungkapkan bahwa remaja dengan orang tua yang bercerai, dilaporkan memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol, ganja dan penggunaan narkoba yang lebih tinggi dan lebih dini.

Bahkan, remaja yang orang tuanya bercerai ketika mereka berusia 5 tahun atau lebih muda memiliki risiko sangat tinggi untuk menjadi aktif secara seksual sebelum usia 16 tahun. Pemisahan orang tua secara dini juga dikaitkan dengan jumlah pasangan seksual yang lebih tinggi selama masa remaja.

  • Perceraian dapat memengaruhi akademik

Anak-anak dari keluarga yang bercerai tidak berkinerja baik secara akademis. Studi menunjukkan anak korban perceraian juga mendapat skor lebih rendah pada tes prestasi. Perceraian orang tua juga dikaitkan dengan tingkat ketidakhadiran dan tingkat putus sekolah yang lebih tinggi.

baca juga: Anak Tiri Korban Perceraian Berisiko Alami Gangguan Mental

Dampak Perceraian yang Berlanjut Hingga Dewasa

Efek psikologis dari perceraian bisa bertahan lama. Banyak penelitian memberikan bukti bahwa perceraian orang tua dapat dikaitkan dengan kurang suksesnya dalam pekerjaan dan membina hubungan romantis.

Melihat dampak negatif yang bisa berlanjut hingga dewasa, orang tua harus menyadari bahwa dirinya memainkan peran utama bagaimana anak-anak menyesuaikan diri dengan perceraian. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dicoba untuk menjaga psikologi anak:

  • Jangan menempatkan anak di ‘posisi tengah’. Meminta anak untuk memilih orang tua mana yang paling mereka sukai dapat membuatnya lebih mungkin mengalami depresi dan kecemasan.
  • Pertahankan hubungan yang baik dengan anak. Komunikasi yang positif, kehangatan orang tua, dan tingkat konflik yang rendah dapat membantu anak-anak menyesuaikan diri untuk bercerai dengan lebih baik. Hubungan orang tua-anak yang sehat telah terbukti untuk membantu anak-anak mengembangkan harga diri yang lebih tinggi dan kinerja akademik yang lebih baik setelah perceraian.
  • Terapkan aturan yang konsisten. Menetapkan aturan sesuai usia dan menindaklanjuti dengan konsekuensi bila diperlukan. Studi menunjukkan disiplin yang efektif setelah perceraian mengurangi kenakalan dan meningkatkan kinerja akademik anak.
  • Bantu anak Anda merasa aman dan nyaman. Ketakutan akan ditinggalkan dan kekhawatiran tentang masa depan dapat menyebabkan banyak kecemasan. Tetapi membantu anak Anda merasa dicintai, aman, dan nyaman dapat mengurangi risiko masalah kesehatan mental.

Satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan adalah memberdayakan anak Anda. Seorang anak yang meragukan kemampuannya untuk menghadapi perubahan dan melihat diri mereka sebagai korban tak berdaya—lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental. Meskipun perceraian adalah sesuatu yang sulit, yakini anak Anda bahwa dia memiliki kekuatan untuk menanganinya.

Jika Anda mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah perceraian, Anda bisa meminta bantuan pada tenaga professional untuk membantu menyelesaikannya. Sebelum mencoba mengatasi masalah psikologis yang dialami anak, Anda juga harus mengurangi tingkat stres yang Anda alami.