Terbit: 29 Januari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Kurang tidur bisa disebabkan oleh banyak hal. Ada yang dipicu oleh masalah insomnia, pekerjaan yang menumpuk, atau karena stres. Bahkan, ada yang sengaja begadang demi menonton acara televisi, bermain game, atau sekadar berkumpul dengan teman-teman. Masalahnya adalah dampak dari sering mengalami kurang tidur bisa sangat buruk bagi kesehatan.

Kurang Tidur Bisa Bikin Otak Memakan Dirinya Sendiri?

Dampak Kurang Tidur bagi Otak

Dalam penelitian yang berjudul Sleep Loss Promotes Astrocytic Phogacytosis and Microglial Activatin in Mouse Cerebral Cortex dan dipublikasikan dalam jurnal berjudul The Journal of Neuroscience pada Mei 2017, disebutkan bahwa dampak dari kurang tidur bisa sangat buruk bagi otak.

Penelitian ini dilakukan oleh Michele Bellesi dari University of Bristol dan rekan-rekannya. Bellesi menyebut waktu tidur bisa memberikan pengaruh besar bagi sistem imun tubuh, sistem pernapasan, level energi tubuh, hingga mempengaruhi kemampuan otak dalam memproses informasi. Hal ini juga bisa mempengaruhi tekanan darah dan denyut jantung.

Waktu tidur yang cukup bisa menurunkan kadar racun yang berasal dari aktivitas neurologis yang kita alami setiap hari. Jika kita tidak mendapatkan waktu tidur dengan cukup, maka tubuh justru tidak mampu membuang kadar racun ini dan membuatnya menjadi cadangan energi.

Dalam jangka pendek, penurunan kadar racun dari dalam tubuh ini bisa memberikan dampak besar bagi kesehatan otak, namun jika kita mengalami masalah kurang tidur, maka penumpukan racun ini akan membuat fungsinya semakin menurun dan akhirnya meningkatkan risiko terkena penyakit degeneratif.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Penelitian Ini Masih Menggunakan Tikus Percobaan

Memang, penelitian yang dilakukan di Italia ini masih menggunakan tikus percobaan, namun para ahli percaya jika dampaknya pada otak manusia cenderung serupa. Sebagai informasi, tikus-tikus ini dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama dibiarkan untuk tidur sesuka hati seharian. Kelompok kedua dipaksa untuk tidur kurang dari 8 jam setiap hari. Kelompok ketiga terus dipaksa untuk terjaga selama lima hari berturut-turut.

Para tikus ini dicek kondisi otaknya. Hasilnya adalah proses pembersihan diri dari racun yang ada di dalam otak sebagaimana yang berlangsung di dalam tubuh manusia juga terjadi di dalam tubuh tikus. Tikus-tikus kelompok pertama yang mendapatkan waktu tidur cukup memiliki level aktivitas astrocyte, senyawa yang bertanggung jawab pada proses pembersihan diri pada otak, sebanyak 6 persen.

Tikus di kelompok kedua mengalami peningkatan aktivitas astrocyte sebanyak 8 persen dan tikus kelompok ketiga mengalami peningkatan hingga 13,5 persen. Masalahnya adalah semakin tinggi aktivitas ini, semakin memungkinkan juga otak mengalami kondisi seperti “memakan” sel-selnya sendiri. Jika kondisi ini sering terjadi, akan meningkatkan risiko terkena demensia dengan signifikan.

Pastikan Untuk Tidur Cukup Setiap Malam

Pakar kesehatan menyarankan kita untuk memastikan diri mendapatkan waktu tidur yang cukup setiap malam, yakni sekitar 7 hingga 8 jam. Demi mendapatkannya, kita bisa mulai membiasakan diri untuk tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari. Hal ini bisa kembali melatih ritme sirkadian tubuh agar bisa menentukan waktu istirahat yang tepat.

Pastikan untuk tidak menggunakan gawai atau peralatan elektronik lainnya sekitar satu jam sebelum tidur karena penggunaannya terbukti bisa membuat kita tak kunjung mengantuk. Selain itu, kita juga sebaiknya menghindari konsumsi minuman berkafein di malam hari.

Kita juga sebaiknya mengatur kondisi kamar agar lebih nyaman untuk ditempati saat tidur malam. Pastikan untuk membuatnya bersih dan rapi, lebih sejuk, lebih gelap, dan lebih baik dalam meredam suara atau kebisingan.

 

Sumber

  1. Anonim. 2020. A Lack of Sleep May Cause the Brain to Eat Itself, According to a Study. https://brightside.me/inspiration-health/a-lack-of-sleep-may-cause-the-brain-to-eat-itself-according-to-a-study-795447/. (Diakses pada 29 Januari 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi