Awas, Berbohong Ternyata Bisa Membuat Kesehatan Memburuk

Doktersehat-bahaya-sering-berbohong-bagi-kesehatan
Photo Credit: Flickr.com/joephoto uk

DokterSehat.Com– Kasus kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet memicu kehebohan di masyarakat. Tak hanya memicu kehebohan, kini Ratna juga harus berhadapan dengan pihak kepolisian. Tahukah Anda bahwa kebiasaan berbohong bisa memengaruhi kesehatan?

Berbohong sering kali dianggap sebagai tindakan amoral yang bisa membuat kredibilitas pelakunya hancur. Tak hanya itu, telah banyak penelitian yang menghasilkan fakta bahwa tindakan ini bisa memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan.

Menurut pakar kesehatan Arthur Markman, PhD, setelah mengeluarkan kebohongan, tubuh akan melepas hormon stres, tepatnya hormon kortisol dalam jumlah banyak di otak. Padahal, keberadaan hormon stres ini bisa merusak kesehatan tubuh.

Kebanyakan orang yang berbohong akan berusaha untuk menutupi kebohongannya dengan mengeluarkan kebohongan lain. Padahal, hal ini akan membuat produksi hormon kortisol menjadi semakin tinggi.

Tubuh pun akan mengalami stres dengan lebih parah, memicu datangnya sakit kepala, kenaikan tekanan darah, hingga sakit punggung dan gangguan pencernaan. Bahkan, sebagian orang yang sering berbohong bisa mengalami susah tidur dengan nyenyak.

Banyak orang yang berbohong yang akhirnya mengalami gangguan mental seperti kecemasan berlebihan hingga depresi. Padahal, depresi bisa berimbas menjadi masalah kesehatan yang jauh lebih serius termasuk menyebabkan keinginan untuk melakukan bunuh diri.

Dalam sebuah penelitian berjudul The Science of Honesty Project yang dilakukan Anita Kelly dan Lijuan Wang, 72 orang dilibatkan selama lima minggu untuk membandingkan efek kebiasaan berbohong dan melakukan hal yang jujur pada hal-hal kecil seperti terlambat datang, bercanda, hingga menyampaikan sebuah fakta secara jujur atau berlebihan.

Hasilnya adalah, mereka yang tidak berbohong cenderung memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dan tidur dengan nyenyak. Sebaliknya, mereka yang sering berbohong lebih sering mengalami nyeri tenggorokan, sakit kepala, mual-mual, dan lain-lain dengan frekuensi gejala lebih banyak 7 kali lipat.

Dalam penelitian ini, dihasilkan fakta bahwa masyarakat Amerika Serikat berbohong rata-rata 1-2 kali dalam sehari. Kebanyakan orang berbohong demi membangun citra di mata orang lain.

Melihat adanya dampak buruk yang cukup serius bagi kesehatan, ada baiknya memang kita tidak membiasakan diri untuk berbohong seperti yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet.