Terbit: 12 Desember 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Jika kita berbicara tentang cuaca atau suhu udara yang panas, maka hal pertama yang akan terpikir biasanya adalah dehidrasi atau rasa haus saat mengalaminya. Hanya saja, apakah benar jika cuaca panas juga bisa mempengaruhi risiko kelahiran prematur pada ibu hamil?

Cuaca Panas Bisa Sebabkan Kelahiran Prematur?

Kaitan antara Cuaca Panas dengan Kelahiran Prematur

Sebuah penelitian yang dilakukan di California, Amerika Serikat dilakukan dengan memeriksa data dari 25 ribu anak yang terlahir sekitar dua minggu lebih awal dari hari perkiraan lahir pada tahun 1969 hingga 1988. Anak-anak ini ternyata lahir saat suhu udara yang cenderung jauh lebih panas dari suhu udara rata-rata. Para peneliti pun yakin jika kelahiran dini memang terkait dengan suhu udara.

Dalam penelitian yang kemudian dipublikasikan hasilnya dalam Nature Research Journals ini, para peneliti ternyata tidak mau menyepelekan dampak dari kelahiran dini yang terkait dengan cuaca panas.

“Masalahnya adalah kelahiran dini bisa saja mempengaruhi perkembangan anak yang bisa saja berimbas pada kondisi mereka di usia dewasa. Hanya saja, hal ini memang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut,” ucap Alan Barreca dari Institute of the Environment and Sustainability, University of California-Los Angeles (UCLA).

Barreca menyebut suhu udara yang panas akan membuat ibu hamil mengalami peningkatan hormon oksitosin, hormon yang terkait erat dengan proses persalinan. Selain itu, hal ini juga bisa memicu ketegangan pada organ kardiovaskular yang bisa merangsang persalinan dini.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa rasio kelahiran dini meningkat hingga 5 persen jika suhu udara naik hingga lebih dari 32,2 derajat Celcius. Hal ini bisa ditemukan dalam satu dari setiap 200 kelahiran.

Bahkan meskipun di dalam rumah sudah tersedia AC untuk mendinginkan suhu ruangan, hal ini dianggap tidak bisa dijadikan solusi bagi ibu hamil demi mencegah kelahiran prematur.

“Penggunaan AC akan membuat ekonomi keluarga semakin tertekan. Hal ini juga tidak baik bagi mental ibu hamil dan anak,” ungkap Barreca.

Berbagai Hal yang Bisa Meningkatkan Risiko Persalinan Dini

Tak hanya cuaca panas, ada beberapa faktor lain yang bisa menyebabkan datangnya persalinan dini.

Berikut adalah faktor-faktor tersebut.

  1. Pecah Air Ketuban

Hal pertama yang menjadi pemicu utama dari persalinan dini adalah pecah air ketuban di usia kehamilan sebelum 37 minggu. Pakar kesehatan pun meminta ibu hamil untuk lebih baik dalam menjaga kondisi kesehatannya dan tidak mudah kelelahan demi mencegah masalah ini.

  1. Mengalami Dehidrasi

Secara tidak langsung, dehidrasi bisa terjadi akibat cuaca atau suhu udara yang panas. Hanya saja, biasanya hal ini disebabkan oleh kekuarangan cairan. Jika sampai hal ini terjadi, akan menyebabkan kontraksi pada ibu hamil yang bisa berujung pada persalinan dini. Karena alasan inilah sebaiknya ibu hamil mencukupi asupan air putih demi mencegahnya.

  1. Mengalami Preeklampsia

Preeklampsia adalah tekanan darah tinggi yang terjadi saat kehamilan. Kondisi ini bisa saja menyerang ibu hamil sejak usia kehamilan 20 minggu. Masalahnya adalah hal ini bisa menyebabkan berbagai dampak seperti persalinan dini atau bahkan kematian ibu setelah melahirkan.

  1. Infeksi

Infeksi pada uterus akan menyebabkan kontraksi pada rahim yang memicu persalinan dini. Infeksi ini bisa saja disebabkan oleh bakteri vaginosis, infeksi saluran kemih, dan lain-lain. Demi mencegahnya, ibu hamil harus rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.

  1. Sebelumnya Pernah Melahirkan Secara Prematur

Ibu hamil yang pernah melahirkan secara prematur sebelumnya memiliki risiko besar untuk kembali mengalaminya.

 

Sumber:

  1. Galey, Patrick. 2019. Hot weather linked to rise in early childbirth: study. https://japantoday.com/category/features/health/hot-weather-linked-to-rise-in-early-childbirth-study (Diakses pada 12 Desember 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi