Terbit: 9 September 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Coxsackie adalah virus yang berasal dari kelompok enterovirus yang hidup di saluran pencernaan. Dalam banyak kasus, virus coxsackie dapat menyebar dari orang ke orang. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya.

Coxsackie: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Coxsackie?

Penyakit yang sering kali disebut hand, foot, and, mouth disease (HFMD) ini lebih sering menimpa bayi dan anak-anak yang ditandai dengan demam, luka di mulut, dan ruam yang melepuh. Selain itu, virus ini dapat menurunkan nafsu makan, menyebabkan rasa tidak enak badan, dan sakit tenggorokan.

Gejala Coxsackie

Meski pada beberapa kasus kondisi ini tidak menyebabkan gejala, virus penyakit ini bisa menyebabkan demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan sakit tenggorokan.

Seorang anak yang terinfeksi virus ini mungkin hanya merasa badannya panas tetapi tidak memiliki gejala lain. Pada umumnya demam berlangsung sekitar 3 hari, kemudian menghilang.

Gejala lainnya yang umum terjadi, di antaranya:

  • Luka mulut yang dimulai sebagai bintik merah kecil, biasanya terletak di lidah, gusi, dan bagian dalam pipi. Kondisi ini mungkin terlihat seperti melepuh dan menjadi bisul.
  • Ruam muncul di telapak tangan atau telapak kaki, terkadang muncul di bokong, siku, lutut, atau area genital.

Kapan Waktu yang Tepat ke Dokter?

Segera dapatkan perawatan medis jika Anda atau anak mengalami sakit leher, nyeri dada, kesulitan bernapas, atau kelesuan. Selain itu, konsultasi dengan dokter juga diperlukan jika sariawan menyebabkan anak sulit untuk menelan yang akhirnya bisa menyebabkan dehidrasi.

Gejala lainnya yang membutuhkan penanganan dari dokter, antara lain:

  • Demam di atas 38 derajat Celcius untuk bayi di bawah 6 bulan, sementara untuk anak yang lebih tua adalah di atas 38,8 derajat Celcius
  • Muntah
  • Diare
  • Kejang
  • Kantuk yang tidak biasa
  • Nyeri di perut
  • Muncul luka di kulit atau di dalam mulut
  • Sakit kepala parah, terutama dengan muntah, kebingungan, atau rasa kantuk yang tidak biasa
  • Leher kaku
  • Mata merah, bengkak, dan berair
  • Nyeri di satu atau kedua testis

Terkadang, penyakit ini dapat menyebabkan infeksi yang lebih serius yang mungkin perlu dirawat di rumah sakit, seperti:

  • Infeksi pada meninges (selaput yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang)
  • Infeksi otak
  • Infeksi pada otot jantung

Penyebab Coxsackie

Penyakit ini disebabkan oleh beberapa virus berbeda, yang paling umum adalah coxsackievirus A16. Virus lain yang kadang-kadang menyebabkan hal ini adalah coxsackievirus A atau enterovirus 71. Infeksi menyebar dari orang ke orang melalui kontak langsung dengan cairan dari hidung, tenggorokan, atau kontaminasi kotoran yang masuk melalui mulut.

Meski virus ini bisa menyerang di segala musim, namun peningkatan jumlah kasus umumnya terjadi pada musim panas dan awal musim gugur. Selain itu, virus ini juga dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama di permukaan.

Faktor Risiko Coxsackie

Ketika virus ini menyerang suatu komunitas, risiko infeksi paling tinggi terjadi pada bayi dan anak-anak di bawah 5 tahun. Virus menyebar dengan mudah di sekolah, pusat penitipan anak, dan lain-lain.

Seorang ibu dapat menularkan infeksi pada anaknya selama atau setelah lahir. Bayi lebih berisiko terkena infeksi serius, termasuk miokarditis, hepatitis, dan meningoensefalitis (radang otak dan meninges). Pada bayi yang baru lahir, gejala bisa berkembang dalam 2 minggu setelah lahir.

Diagnosis Coxsackie

Pertama-tama dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi tanda dan gejala yang mungkin mengindikasikan infeksi enterovirus (EV71), virus RNA utas tunggal dan merupakan salah satu penyebab penyakit tangan, kaki dan mulut (HFMD).

Jika dokter mencurigai HFMD, dokter akan mencari ruam yang terkait dengan infeksi ini serta luka di mulut dan tenggorokan.

Sementara guna memastikan diagnosis, uji spesimen dari tenggorokan, kotoran, atau bagian tubuh lainnya mungkin diperlukan. Tes darah dan tes urine juga bisa menunjukkan adanya enterovirus.

Apabila dicurigai meningitis, dokter akan melakukan lumbar puncture (spinal tap) untuk memeriksa cairan tulang belakang di laboratorium. Jika diduga miokarditis, rontgen dada dan elektrokardiogram (EKG) juga bisa dilakukan.

Baca Juga: Cara Membuat Desinfektan Alami untuk Mencegah Virus

Pengobatan Coxsackie

Tergantung pada jenis infeksi dan gejalanya, dokter mungkin meresepkan obat untuk membuat anak merasa lebih nyaman. Perlu diketahui, antibiotik hanya bekerja melawan bakteri, antibiotik tidak dapat digunakan untuk melawan virus.

Jika Anda mengalami nyeri dan demam ringan, Anda bisa mengonsumsi asetaminofen atau ibuprofen. Akan tetapi jika demam berlangsung 24 jam atau jika muncul gejala infeksi yang lebih serius, perawatan medis harus segera dilakukan.

Sementara itu, banyak anak yang mengalami penyakit ini dengan jenis yang ringan dapat sembuh beberapa hari kemudian tanpa memerlukan perawatan medis apa pun. Apabila seorang anak mengalami demam tanpa gejala lain, ia harus banyak beristirahat dan bermain di dalam ruangan. Berikan banyak cairan untuk mencegahnya dehidrasi.

Komplikasi Coxsackie

Pada banyak kasus, anak-anak dapat pulih dari infeksi ini dalam 7 hingga 10 hari tanpa masalah. Meski begitu, komplikasi kadang-kadang bisa terjadi, seperti gagal jantung yang berhubungan dengan miokarditis, bahkan kematian mendadak yang berhubungan dengan irama jantung yang tidak normal.

Bayi baru lahir dengan enterovirus dapat mengalami infeksi parah yang menyebabkan gagal hati dan pendarahan hebat, kondisi yang bisa membahayakan jiwa.

Pencegahan Coxsackie

Dikarenakan hingga kini belum tersedia vaksin untuk penyakit ini, mencuci tangan adalah perlindungan terbaik yang bisa dilakukan. Ingatkan setiap anggota keluarga untuk mencuci tangan dengan baik dan benar, terutama setelah menggunakan toilet, mengganti popok, dan sebelum makan.

Selain itu, bersihkan mainan anak-anak secara rutin dengan disinfektan karena virus dapat hidup pada benda-benda tersebut selama berhari-hari.

Apabila seorang anak menjadi sakit karena infeksi enterovirus, sebaiknya anak dijauhkan dari sekolah, tempat penitipan anak, atau kolam renang untuk sementara sampai kondisinya benar-benar membaik. Meski tindakan ini dapat mengurangi penyebaran infeksi, tetapi tidak akan sepenuhnya menghentikannya.

 

  1. Anonim. Coxsackie Virus. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/coxsackie-virus. (Diakses pada 9 September 2020).
  2. Anonim. Coxsackievirus Infections. https://kidshealth.org/en/parents/coxsackie.html. (Diakses pada 9 September 2020).
  3. Anonim. Coxsackieviruses and Other Enterovirus Infections. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/infections/Pages/Coxsackieviruses-and-Other-Enterovirus-Infections.aspx. (Diakses pada 9 September 2020).
  4. Henry, Anita K. 2005. Coxsackie Virus: Facts You Need to Know. https://www.parents.com/baby/health/other-issues/coxsackie-virus-facts/. (Diakses pada 9 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi