Terbit: 17 Agustus 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Banyak orang yang sengaja mengonsumsi cokelat panas untuk mengawali pagi hari atau meminumnya di malam hari. Dengan mengonsumsi cokelat panas, maka kita bisa menghangatkan tubuh di udara yang dingin atau membuat pikiran yang sebelumnya stres atau tegang menjadi lebih tenang. Bahkan, pakar kesehatan menyebutkan bahwa mengonsumsi cokelat panas yang kaya akan theobromine bisa membantu kita mengatasi insomnia atau susah tidur.

Enak dan Menenangkan, Cokelat Panas Ternyata Tidak Sehat

Hanya saja, dibalik berbagai manfaat dan kenikmatan dari cokelat panas, ada baiknya kita tidak terlalu sering mengonsumsinya. Hal ini ternyata disebabkan oleh kandungan dari cokelat panas yang membuatnya memiliki rasa yang gurih, yakni garam.

Banyak orang yang berpikir jika cokelat panas hanya memiliki kandungan seperti kakao atau gula yang membuatnya memiliki rasa manis yang menenangkan pikiran. Padahal, dalam realitanya cokelat panas juga memiliki kandungan garam yang cukup tinggi.

“Ada banyak sekali kandungan garam tersembunyi di makanan dan minuman yang kita konsumsi. Sebagai contoh, di dalam cokelat panas, kita tidak sadar jika di dalam minuman manis ini juga terdapat kandungan garam yang sangat tinggi. Jika sampai sering mengonsumsinya, maka tekanan darah bisa naik dan risiko terkena penyakit pada jantung, ginjal, otak, hingga penyakit seperti stroke dan demensia juga meningkat,” ungkap Katharine Jenner dari Consensus Action of Salt and Health.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Jenner dan kawan-kawan, dihasilkan fakta bahwa kandungan garam yang ada di dalam cokelat bubuk yang diseduh menjadi cokelat panas ternyata jauh lebih tinggi dari yang ada dalam sebungkus keripik kentang, jajanan yang disebut-sebut sangat tidak sehat karena kaya akan sodium.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement

Melihat adanya fakta ini, jangan terlalu sering mengonsumsi cokelat panas demi menjaga kadar tekanan darah tetap normal.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi