Terbit: 15 Mei 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Banyak orang yang mengaku tidak bisa benar-benar menikmati makanan tanpa adanya kerupuk sebagai salah satu lauknya. Memang, kerupuk yang kriuk bisa membuat makanan menjadi terasa lebih nikmat. Hanya saja, pakar kesehatan menyarankan kita untuk tidak sembarangan dalam memilih kerupuk.

Jangan Pernah Memakan Kerupuk dengan Ciri Seperti Ini

Kebanyakan orang berpikir jika kerupuk yang jika dibakar kemudian menyala adalah kerupuk yang berbahaya bagi kesehatan. Padahal, menurut pakar kesehatan, kerupuk memang memiliki kandungan minyak sehingga andai kita bakar pasti akan menyala.

Alih-alih mengecek apakah kerupuk ini bisa dibakar atau tidak, ada baiknya kita justru melihat warna dari kerupuk ini. Jika warnanya terlihat terang atau berpendar, bisa jadi kerupuk ini memiliki kandungan bahan pewarna berbahaya seperti Rhodamin-B.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyebut Rhodamin-B termasuk dalam zat karsinogen atau penyebab kanker. Jika kita sampai mengonsumsi kerupuk yang memakai bahan ini, maka risiko untuk terkena penyakit mematikan ini tentu akan meningkat dengan signifikan.

Yang menjadi masalah adalah, banyak produsen kerupuk yang masih menggunakan bahan pewarna ini karena memiliki harga yang sangat murah. Selain itu, keberadaan Rhodamin-B juga bisa membuat kerupuk memiliki rasa lebih gurih atau renyah.

Lantas, bagaimana dengan isu bahwa ada kerupuk yang sengaja dibuat dengan campuran bahan plastik? BPOM menyebutkan bahwa hal ini sepertinya tidak benar adanya. Hanya saja, saat kita membakar kerupuk, kandungan minyak dari kerupuk akan terbakar dan menyisakan bahan yang mirip seperti karbon atau arang. Hal ini disebabkan oleh keberadaan tepung tapioka yang merupakan bahan utama dari kerupuk yang mudah terbakar.

Meskipun ringan dan tak mengenyangkan, kerupuk kaya akan kalori sehingga sebaiknya kita tidak sering-sering mengonsumsinya setiap hari agar tidak mudah mengalami kenaikan berat badan atau gangguan pencernaan.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi