Terbit: 30 September 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Ciri-ciri pubertas dapat dilihat dari perubahan fisik anak perempuan dan laki di masa remaja, mulai dari payudara, suara, dan pertumbuhan rambut di wajah. Selengkapnya ketahui tanda-tanda pubertas lainnya di bawah ini!

Ciri-Ciri Pubertas Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Perlu Diketahui

Apa Itu Pubertas?

Pubertas adalah ketika tubuh anak mulai berkembang dan mengalami perubahan saat masa remaja atau beranjak dewasa. Perubahan ini terjadi fisik anak laki laki dan perempuan.

Anak perempuan tumbuh payudara dan mulai menstruasi, sedangkan anak laki-laki akan mengembangkan suara yang lebih dalam dan rambut wajah mulai muncul.

Jika dilihat dari usia, anak perempuan lebih cepat mengalami pubertas dari laki-laki. Usia rata-rata anak perempuan untuk memulai pubertas adalah 11 tahun, sedangkan anak laki-laki rata-rata berusia 12 tahun.

Namun, itu berbeda pada setiap orang, untuk itu tidak perlu khawatir jika anak mencapai pubertas sebelum waktunya atau terlambat. Sangat normal jika pubertas dimulai kapan saja dari usia 8-14 tahun. Prosesnya dapat membutuhkan waktu hingga 4 tahun.

Ciri-Ciri Pubertas Pertama pada Anak Perempuan

Tanda pertama pubertas pada anak perempuan umumnya mengalami perubahan fisik, yakni payudara mulai berkembang.

Biasanya puting payudara menjadi sangat lembut atau salah satu sisi payudara mulai berkembang beberapa bulan sebelum sisi payudara lainnya.

Rambut kemaluan juga mulai tumbuh, dan beberapa anak perempuan mungkin mengalami pertumbuhan rambut lebih banyak di kaki dan lengan.

Ciri-Ciri Pubertas Lanjutan pada Anak Perempuan

Masa pubertas lanjutan mulai terjadi setelah satu tahun atau lebih, dan selama beberapa tahun berikutnya. Berikut ini ciri-ciri masa pubertas pada anak perempuan:

  • Payudara anak perempuan terus mengalami pertumbuhan dan ukurannya menjadi lebih besar dan berisi.
  • Sekitar 2 tahun setelah masa pubertas, anak perempuan biasanya mengalami menstruasi pertama
  • Rambut kemaluan menjadi lebih kasar dan keriting.
  • Bulu ketiak mulai tumbuh, beberapa anak perempuan juga mengalami pertumbuhan rambut di bagian lain tubuhnya, seperti di bibir atas (kondisi ini normal).
  • Mulai berkeringat lebih banyak.
  • Sering berjerawat, kondisi kulit yang muncul berbagai jenis bintik, termasuk komedo putih, komedo, dan bintik berisi nanah yang disebut pustula.
  • Mengalami keputihan putih pada vagina.
  • Mengalami lonjakan pertumbuhan dari saat menstruasi dimulai, anak perempuan tumbuh sekitar 5 sampai 7,5 sentimeter setiap tahun selama satu atau dua tahun berikutnya, kemudian mencapai tinggi dewasa.
  • Sebagian besar anak perempuan mengalami penambahan berat badan (yang normal) karena bentuk tubuhnya berubah. Anak perempuan mengembangkan lebih banyak lemak tubuh di sepanjang lengan atas, paha dan punggung atas. Sedangkan pinggul tumbuh lebih bulat dan pinggang semakin ramping.

Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Perempuan Setelah 4 tahun

Setelah masa pubertas 4 tahun, anak perempuan akan memiliki ciri-ciri fisik berikut:

  • Payudara menjadi seperti orang dewasa.
  • Pertumbuhan rambut kemaluan telah menyebar ke paha bagian dalam.
  • Alat kelamin berkembang sepenuhnya.
  • Tubuh berhenti tumbuh lebih tinggi.

Baca Juga: 13 Bentuk Payudara Wanita, Normal atau Tidak?

Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-Laki

Anak laki-laki akan mengalami banyak perubahan fisik selama masa pubertas. Tubuhnya menjadi lebih kuat, suaranya pecah saat berubah, menjadi lebih kuat, dan mulai menjadi dewasa secara seksual.

Ada lima tahap pubertas yang dialami anak laki-laki, tetapi perlu diingat bahwa usia di mana setiap anak laki-laki mulai pubertas sangat bervariasi.

Berikut ini ciri-ciri masa pubertas pada anak laki-laki:

Ciri-Ciri Pubertas Pertama pada Anak Laki-Laki

Masa pubertas anak laki laki sedikit lebih lambat dari perempuan. Pubertas anak laki-laki rata-rata dimulai pada usia 11 tahun, meskipun dimulai pada usia 9 atau paling lambat di usia 14 tahun, ini masih dianggap normal.

Tanda pertama pubertas pada anak laki-laki biasanya adalah testis membesar dan skrotum mulai menipis dan memerah. Begitu pun rambut kemaluan juga mulai muncul di pangkal penis.

Ciri-Ciri Pubertas Lanjutan pada Anak Laki-Laki

Setelah satu tahun atau lebih masa pubertas dimulai, dan selama beberapa tahun berikutnya. Berikut ini tanda-tanda pubertas lanjutan pada anak laki-laki:

  • Penis dan testis tumbuh dan skrotum secara bertahap menjadi lebih gelap (baca lebih lanjut tentang kesehatan penis).
  • Rambut kemaluan menjadi lebih tebal dan keriting.
  • Bulu ketiak mulai tumbuh.
  • Mulai lebih banyak berkeringat.
  • Payudara sedikit membengkak untuk sementara, ini normal dan tidak sama dengan man boobs.
  • Mengalami mimpi basah (ejakulasi air mani yang tidak disengaja saat sedang tidur).
  • Suara pecah dan menjadi semakin dalam (bersifat sementara), dan suaranya mungkin menjadi sangat dalam pada satu menit dan sangat tinggi pada menit berikutnya.
  • Sering memiliki jerawat, suatu kondisi kulit yang muncul berbagai jenis bintik, termasuk komedo putih, komedo, dan bintik berisi nanah yang disebut pustula.
  • Mengalami percepatan pertumbuhan dan menjadi lebih tinggi dengan rata-rata 7 sampai 8 sentimeter setiap tahun, dan lebih berotot.

Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-Laki Setelah 4 tahun

Setelah masa pubertas 4 tahun, anak laki-laki akan memiliki tanda-tanda fisik berikut:

  • Alat kelamin terlihat seperti orang dewasa dan pertumbuhan rambut kemaluan telah menyebar ke paha bagian dalam.
  • Bulu di wajah mulai tumbuh.
  • Tubuh menjadi lebih tinggi dengan kecepatan yang lebih lambat dan berhenti tumbuh sepenuhnya pada sekitar usia 16 tahun (tubuh mungkin terus menjadi lebih berotot).
  • Kebanyakan anak laki-laki akan mencapai kematangan penuh pada usia 18 tahun.

Perubahan Suasana Hati (Mood) saat Pubertas

Pubertas bisa menjadi masa yang sulit untuk anak perempuan dan laki-laki. Ketika sedang menghadapi perubahan secara fisik, termasuk wajah berjerawat dan bau badan membuat mereka mereka merasa minder.

Di sisi lain, pubertas juga bisa menjadi masa yang menyenangkan karena mereka mengembangkan emosi dan perasaan baru. Namun, perubahan yang mereka hadapi dapat memiliki efek psikologis dan emosional, di antaranya:

  • Perubahan suasana hati tanpa sebab yang jelas.
  • Tingkat percaya diri yang rendah.
  • Perilaku agresif.
  • Depresi.

Perubahan Komposisi dan Tinggi Tubuh Masa Pubertas

Kebanyakan anak memiliki penampilan yang lebih kurus atau ramping selama masa kanak-kanak pertengahan (usia 6-12 tahun) daripada selama tahun-tahun prasekolah. Hal ini disebabkan pergeseran akumulasi dan lemak tubuh.

Seiring bertambahnya ukuran tubuh anak, jumlah lemak tubuh relatif stabil, yang membuatnya tampak lebih kurus. Selama tahap kehidupan ini, kaki anak lebih panjang secara proporsional daripada sebelumnya.

Rata-rata pertumbuhan yang stabil pada masa kanak-kanak menengah mengalami peningkatan tinggi badan sedikit di atas 5 sentimeter setahun pada anak laki-laki dan perempuan. Berat badan rata-rata bertambah sekitar 3 kilogram setahun.

Sejumlah faktor, termasuk seberapa dekat anak dengan pubertas, akan menentukan kapan dan seberapa besar anak tumbuh. Biasanya, cenderung ada periode pertumbuhan yang sedikit meningkat antara usia 6 dan 8 tahun.

Hal tersebut dapat disertai dengan munculnya sedikit rambut kemaluan, bulu ketiak, jerawat ringan, dan bau badan.

Pubertas Dini

Pubertas dini atau pubertas sebelum waktunya adalah ketika tubuh anak mulai mengalami perubahan menjadi dewasa terlalu cepat. Umumnya, rata-rata pubertas anak perempuan dimulai antara usia 8 dan 13 tahun, sedangkan pada anak laki-laki antara usia 9 dan 14 tahun.

Dokter mendiagnosis kondisi saat pubertas dimulai lebih awal dan berlanjut melalui percepatan pertumbuhan dan pematangan tulang. Kondisi ini benar-benar tidak diketahui penyebabnya secara pasti.

Anak perempuan yang menunjukkan ciri-ciri masa pubertas yang jelas dan perkembangannya sebelum usia 8 tahun, sedangkan anak laki-laki sebelum usia 9 tahun dianggap dewasa sebelum waktunya. Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 dari 5.000 anak.

Pubertas dini terdiri dari dua jenis, di antaranya:

1. Pubertas Dini Sentral

Jenis yang lebih sering terjadi ini seperti pubertas biasa, tetapi terjadi lebih awal. Kelenjar pituitari mulai membuat hormon gonadotropin.

Hormon tersebut menyebabkan testis atau ovarium membuat hormon lain, termasuk testosteron atau estrogen. Hormon seks ini menyebabkan perubahan masa pubertas, seperti perkembangan payudara pada anak perempuan.

2. Pubertas Dini Perifer

Jenis ini juga disebut pseudopubertas dini adalah kondisi yang berbeda dan jarang terjadi. Hormon estrogen dan testosteron memicu gejala pubertas. Tetapi otak dan kelenjar pituitari tidak terlibat. Kelenjar pituitari berfungsi menghasilkan hormon untuk membantu mengendalikan banyak proses dan fungsi organ dalam tubuh.

Kondisi tersebut biasanya masalah pada ovarium, testis, kelenjar adrenal, atau kelenjar tiroid yang sangat kurang aktif.

Kondisi lainnya yang mungkin tampak seperti pubertas dini, di antaranya:

  • Thelarche prematur. Ini adalah kondisi saat payudara mulai tumbuh di usia muda. Ini sering terjadi pada anak perempuan yang baru berusia beberapa tahun. Kondisi ini tidak memerlukan perawatan, tetapi harus mengunjungi dokter untuk mendapatkan saran medis.
  • Pubarke prematur. Kondisi ketika rambut kemaluan atau ketiak mulai tumbuh pada usia dini. Ini bisa terjadi akibat pubarke prematur, saat kelenjar adrenal mulai melepaskan hormon lebih awal. Ini bukan tanda awal pubertas, tetapi tanda pertama dari pelepasan hormon adrenalin yang tidak biasa dan berat. Kondisi ini harus mengunjungi dokter.

Baca Juga: Pubertas Dini: Jenis, Penyebab, Risiko, dan Efek Samping

Pubertas Terlambat

Meskipun ada banyak hal yang dianggap normal ketika anak laki-laki dan perempuan mulai mengalami pubertas, anak mungkin dapat mengalami pubertas terlambat.

Berikut ini ciri-ciri pubertas anak laki-laki dan perempuan yang terlambat:

  • Anak perempuan belum mengalami perkembangan payudara di usia 13 tahun.
  • Anak laki-laki belum mengalami peningkatan ukuran testis di usia 14 tahun.

Kemungkinan besar pubertas terlambat tidak serius. Jika anak mengalami keterlambatan pubertas tetapi dalam keadaan sehat, anak harus dievaluasi dan mungkin dirawat, tetapi ini bukan kondisi yang dianggap darurat.

Seberapa umum pubertas terlambat pada anak perempuan dan laki-laki sulit diketahui karena anak laki-laki tampaknya lebih cenderung memerhatikan fisiknya, mungkin karena mereka atau orang tuanya lebih peduli dengan tinggi badan teman sebayanya.

Penyebab Pubertas Tertunda

Ada beberapa hal berbeda yang dapat menyebabkan pubertas tertunda, di antaranya:

1. Penundaan Pertumbuhan Konstitusional (CGD)

  • Penundaan pertumbuhan konstitusional atau constitutional growth delay (CGD) adalah penundaan sementara dalam pertumbuhan tulang, yang menyebabkan anak tidak setinggi teman sebayanya.
  • Sekitar 60 persen, keterlambatan pubertas pada anak laki-laki disebabkan oleh keterlambatan pertumbuhan konstitusional.
  • CGD diperkirakan memengaruhi sekitar dua kali lebih banyak anak laki-laki daripada perempuan.
  • CGD adalah bentuk pertumbuhan yang normal, tetapi mungkin masih membuat anak merasa tertekan.
  • Ketika tumbuh dewasa, tulang ‘matang’. Jika anak menderita CGD, dokter dapat mendiagnosis dengan rontgen tangan dan pergelangan tangannya, dan melihat bahwa tulangnya tampak lebih muda dari yang seharusnya.
  • CGD sering kali diwariskan. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat pubertas terlambat, kemungkinan besar anaknya juga demikian.
  • Anak-anak penderita CGD melewati masa pubertas dan mencapai tinggi badan orang dewasa yang sesuai, tidak secepat teman sebayanya.

2. Kondisi Medis yang Mendasari

Berikut ini sejumlah kondisi yang mungkin menyebabkan pubertas terlambat:

  • Kondisi jantung.
  • Penyakit celiac (yang memengaruhi kemampuan anak untuk menambah berat badan, membuatnya lebih sulit tumbuh dengan kecepatan yang sama seperti teman sebayanya)
  • Kondisi yang mencegah hipotalamus atau kelenjar pituitari mengirimkan sinyal untuk memulai pubertas.
  • Kondisi yang menghalangi ovarium atau testis untuk merespons sinyal untuk memulai pubertas.
  • Kondisi genetik tertentu, seperti sindrom Klinefelter pada anak laki-laki dan sindrom Turner pada perempuan

3. Obat-obatan

Beberapa obat psikiatri juga dapat menyebabkan pubertas tertunda. Obat ini termasuk obat antidepresan SSRI, alprazolam, benzodiazepine, chlordiazepoxide, clonazepam, diazepam, dan lorazepam.

_

Itulah ciri-ciri pubertas anak laki-laki dan perempuan yang perlu anak atau orang tua ketahui untuk mengamati perkembangan pertumbuhan. Jika mengalami pubertas dini atau terlambat yang mungkin mengkhawatirkan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasinya!

 

  1. Anonim. Tanpa Tahun. Delayed Puberty | Symptoms & Causes. http://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/d/delayed-puberty-delayed-sexual-development/symptoms-and-causes. (Diakses Pada 30 September 2020)
  2. Anonim. 2014. Physical Changes During Puberty. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/gradeschool/puberty/Pages/Physical-Development-of-School-Age-Children.aspx. (Diakses Pada 30 September 2020)
  3. Anonim. 2018. Stages of puberty: what happens to boys and girls. https://www.nhs.uk/live-well/sexual-health/stages-of-puberty-what-happens-to-boys-and-girls/. (Diakses Pada 30 September 2020)
  4. Anonim. 2020. Precocious (Early) Puberty. https://www.webmd.com/children/causes-symptoms#1. (Diakses Pada 30 September 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi