Cegah Risiko Preeklamsia dengan Rutin Cek Tekanan Darah

DokterSehat.Com – Banyak ibu hamil yang ingin melahirkan normal, termasuk Katarina Br Turnip. Sayangnya, impian untuk bisa melahirkan normal harus ia pendam—terutama saat mengandung anak ketiga. Banyak perubahan fisik yang terjadi pada dirinya yaitu pembengkakan di wajah, tangan, dan kaki. Ibu dari tiga anak tersebut baru menyadari bahwa ia terkena preeklamsia.

Tidak Ada Riwayat Preeklamsia

Saat mengandung anak pertama dan kedua, tekanan darah Katarina menunjukkan angka 100 sampai 110. Namun, saat hamil anak ketiga dan memasuki trimester akhir, tekanan darahnya menjadi tinggi.

“Kalau yang Haganta (nama anak ketiga) itu, trimester ketiga dia (tensinya) 130 (sampai) 135,” ujarnya pada Doktersehat.com, Jumat (25/10/2019).

Di dalam dunia medis, preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi. Pada beberapa kasus, preeklamsia kadang-kadang bisa berkembang tanpa gejala atau hanya muncul gejala ringan.

Salah satu penyebab preeklamsia adalah memiliki riwayat penyakit ini atau memiliki keluarga dengan preeklamsia. Dua faktor ini bukanlah penyebab yang dialami oleh Katarina. Ia menduga penyebab tekanan darah tinggi karena usia yang sudah tidak muda lagi yaitu 39 tahun saat mengandung anak ketiga.

Sementara itu, tanda klinis utama dari preeklampsia adalah tekanan darah yang terus meningkat. Kondisi inilah yang dialami oleh Katarina, di mana tekanan darahnya terus mengalami peningkatan saat beberapa kali melakukan pemeriksaan rutin kehamilan.

Bahkan, ketika pemeriksaan kehamilan pada trimester terakhir tekanan darahnya sangat tinggi yang membuat Katarina tidak diperbolehkan pulang karena harus segera mendapatkan penanganan.

Hal yang tidak diduga-duga pun akhirnya terjadi. Setelah bidan merujuknya ke dokter kandungan, ia disarankan untuk segera melakukan persalinan. Sebelum melakukan persalinan, tekanan darah Katarina menunjukkan angka 220—sebuah kondisi yang mengharuskan proses persalinan dengan operasi caesar.

Tindakan operasi tidak bisa dilakukan saat tekanan darahnya menunjukkan angka yang sangat tinggi, tekanan darah harus diturunkan terlebih dahulu baru operasi caesar bisa dilakukan. 

tensimeter-omron-doktersehat

Pentingnya Cek Tekanan Darah saat Hamil

Menurut dr. Jati Satriyo, pemeriksaan rutin tekanan darah saat hamil adalah sesuatu yang penting untuk mendeteksi ada atau tidaknya hipertensi pada kehamilan. Ia juga mengungkapkan bahwa tekanan darah tinggi adalah sesuatu yang umum terjadi pada ibu hamil.

“Hipertensi sebenarnya umum terjadi selama kehamilan, tapi bagi Bumil yang punya riwayat hipertensi sebaiknya rutin melakukan konsultasi ke dokter sebelum dan selama kehamilan karena kondisi ini dapat menyebabkan masalah bagi Bumil dan juga janin di dalam rahim,” katanya.

Melihat kasus yang terjadi pada Katarina, preeklamsia memang umumnya terjadi pada trimester terakhir dan risiko munculnya kejang (eklamsia) adalah pada saat mendekati persalinan.

“Saya muntah-muntah, terus kepala tegang. Otak kayak mau ngembang gitu,” ungkap Katarina saat menggambarkan kondisi tubuhnya jelang persalinan.

Kejang eklamsia dibagi menjadi 2 fase. Fase pertama adalah kejang sekitar 15-20 detik yang ditandai dengan kedutan di sekitar wajah. Setelah itu, kejang eklamsia akan masuk fase kedua yang ditandai dengan kejang otot di sekitar rahang, otot mata, dan menyebar ke seluruh tubuh selama sekitar 60 detik.

“Kasus hipertensi pada kehamilan bisa menimbulkan eklampsia, pertumbuhan janin yang terhambat, bayi lahir prematur, dan plasenta yang terpisah dari dinding rahim,” ungkap dr. Jati Satriyo.

Lantas apa yang dilakukan untuk mencegah terjadinya preeklamsia? Menurut dr. Jati Satriyo, ibu hamil perlu membatasi asupan garam, membatasi makan makanan yang banyak mengandung lemak, memperbanyak konsumsi serat, olahraga rutin sesuai dengan kemampuan, istirahat yang cukup, menghindari kopi, alkohol, atau rokok, serta memperbanyak asupan cairan minimal 2 liter perhari.

Memantau tekanan darah secara rutin adalah hal yang penting dilakukan selama kehamilan, terutama bila ditemukan angka tekanan darah yang tinggi dalam 2 kali pemeriksaan rutin yang terpisah. Jika ibu hamil mengalami kondisi ini, segera konsultasi dengan dokter kandungan.