Terbit: 1 Maret 2021 | Diperbarui: 2 Maret 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Cedera kepala ringan umumnya diakibatkan oleh benturan atau pukulan di kepala yang mengganggu fungsi normal otak. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala, penyebab, dan cara mengobatinya.

Cedera Kepala Ringan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Cedera Kepala Ringan?

Cedera pada kepala biasanya diakibatkan oleh pukulan keras atau sentakan pada kepala/tubuh. Benda yang menembus jaringan otak juga dapat menyebabkan cedera.

Cedera otak traumatis ringan dapat memengaruhi sel-sel otak untuk sementara. Cedera yang lebih serius dapat menyebabkan memar, jaringan robek, pendarahan, dan kerusakan fisik lainnya pada otak.

Meski keadaan ini umumnya tidak mengancam jiwa, namun efeknya bisa serius dan berlangsung selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan lebih lama.

Gejala Cedera Kepala Ringan

Cedera dapat memiliki efek fisik dan psikologis yang luas. Beberapa tanda atau gejala mungkin muncul segera setelah peristiwa traumatis, sementara yang lain mungkin muncul beberapa hari atau minggu kemudian.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

Tanda dan gejala cedera traumatis ringan mungkin termasuk:

Gejala fisik

  • Sakit kepala.
  • Mual atau muntah.
  • Kelelahan atau mengantuk.
  • Gangguan bicara.
  • Pusing atau kehilangan keseimbangan.

Gejala sensorik

  • Masalah sensorik, seperti penglihatan kabur, telinga berdenging, rasa tidak enak di mulut, atau perubahan kemampuan mencium.
  • Kepekaan terhadap cahaya atau suara.

Gejala kognitif, perilaku, atau mental

  • Kehilangan kesadaran selama beberapa detik hingga beberapa menit.
  • Tidak ada kehilangan kesadaran, tetapi keadaan linglung, bingung, atau disorientasi.
  • Masalah memori atau konsentrasi.
  • Perubahan suasana hati.
  • Merasa tertekan atau cemas.
  • Kesulitan tidur.
  • Tidur lebih lama dari biasanya.

Gejala pada Anak-Anak

Bayi dan anak kecil yang mengalami cedera kepala tidak dapat mengomunikasikan sakit kepala, masalah sensorik, kebingungan, dan gejala-gejala lainnya. Beberapa gejala yang bisa orang tua kenali, antara lain:

  • Perubahan kebiasaan makan atau menyusui.
  • Lebih rewel dibanding biasanya.
  • Tangisan yang terus menerus dan sulit untuk dihibur.
  • Perubahan kemampuan untuk memperhatikan.
  • Perubahan kebiasaan tidur.
  • Kejang.
  • Kehilangan minat pada mainan atau aktivitas favorit.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera temui dokter jika anak atau Anda mengalami benturan atau pukulan di kepala yang menyebabkan perubahan perilaku atau muncul gejala yang membuat Anda khawatir.

Penggunaan istilah ‘ringan’ digunakan untuk efek cedera pada fungsi otak. Cedera kepala ringan sebenarnya merupakan cedera serius yang membutuhkan perhatian segera dan diagnosis yang akurat.

Baca Juga: 14 Obat Sakit Kepala Alami (Terbukti Secara Ilmiah)

Penyebab Cedera Kepala Ringan

Sentakan keras atau pukulan hebat di kepala dapat menyebabkan otak membentur tengkorak dengan keras. Hal ini dapat menyebabkan robeknya serabut saraf dan pecahnya pembuluh darah di bawah tengkorak, keadaan yang menyebabkan penumpukan darah.

Cedera kepala paling sering disebabkan oleh:

  • Kecelakaan kendaraan.
  • Olahraga.
  • Terjatuh.
  • Kecelakaan saat menunggang kuda.
  • Kecelakaan saat bersepeda.
  • Pukulan.
  • Ledakan.

Faktor Risiko Cedera Kepala Ringan

Orang-orang yang paling berisiko mengalami cedera kepala, antara lain:

  • Anak-anak, terutama bayi baru lahir sampai usia 4 tahun.
  • Dewasa muda, terutama yang berusia antara 15 sampai 24 tahun.
  • Orang dewasa berusia 60 tahun ke atas.
  • Laki-laki dalam semua kelompok umur.

Diagnosis Cedera Kepala Ringan

Jika Anda mengalami sentakan parah atau pukulan di kepala yang menyebabkan linglung, bingung, atau hilang keseimbangan, berarti Anda mengalami gegar otak. Pada beberapa kasus, menentukan tingkat keparahan gegar otak lebih sulit karena tanda-tandanya mungkin tidak selalu jelas.

Seorang dokter akan menanyakan detail tentang cedera yang dialami. Pemeriksaan neurologis juga akan dilakukan, yang mencakup evaluasi faktor-faktor berikut:

  • Keseimbangan.
  • Konsentrasi.
  • Koordinasi.
  • Pendengaran.
  • Memori.
  • Refleks.
  • Penglihatan.

CT scan mungkin juga diperlukan jika perdarahan internal atau pembengkakan otak menjadi perhatian.

Pengobatan Cedera Kepala Ringan

Sebagian besar gejala gegar otak atau cedera otak traumatis ringan akan hilang tanpa pengobatan. Beberapa pedoman untuk menangani keadaan ini adalah:

  • Istirahat. Otak membutuhkan waktu untuk pulih, dan pemulihan lebih cepat jika tubuh beristirahat serta tidur nyenyak setiap malam.
  • Sakit kepala. Acetaminophen adalah penghilang rasa sakit yang bisa Anda gunakan untuk cedera kepala. Obat-obatan seperti aspirin, ibuprofen, dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) harus dihindari karena mengencerkan darah dan meningkatkan risiko perdarahan internal.
  • Olahraga. Penting untuk tidak segera kembali ke aktivitas olahraga apa pun. Konsultasi dengan dokter diperlukan sebelum Anda memulai olahraga.
  • Minuman beralkohol. Seseorang harus menghindari konsumsi minuman beralkohol sampai semua gejala benar-benar hilang. Alkohol dapat memperlambat penyembuhan.
  • Migrain. Terjadinya migrain setelah cedera kepala dapat mengindikasikan peningkatan risiko gangguan neurokognitif.

Pembedahan diperlukan hanya pada sebagian kecil penderita cedera kepala ringan.

Waktu Pemulihan

Jika tanda-tanda fisik muncul kembali selama waktu ini, itu adalah indikator kuat bahwa Anda terlalu memaksakan diri. Jangan langsung kembali mengemudikan mobil, mengendarai sepeda, atau mengoperasikan alat berat setelah cedera kepala.

Penting untuk berkonsentrasi pada satu tugas pada satu waktu, menghindari penggunaan komputer terlalu sering, dan menuliskan apa pun yang mungkin sulit untuk diingat.

Kembali bekerja dan beraktivitas normal secara bertahap. Pastikan untuk menghindari aktivitas yang berisiko menimbulkan cedera.

Pencegahan Cedera Kepala Ringan

Berikut tips untuk mengurangi risiko cedera pada kepala, di antaranya:

  • Sabuk pengaman. Selalu kenakan sabuk pengaman saat mengendarai mobil. Seorang anak kecil harus selalu duduk di kursi belakang atau kursi yang sesuai dengan ukuran dan beratnya.
  • Hindari penggunaan alkohol dan narkoba. Jangan mengemudi di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan, termasuk obat resep yang dapat mengganggu kemampuan mengemudi.
  • Helm. Kenakan helm saat mengendarai sepeda, bermain skateboard, atau sepeda motor.
  • Perhatikan kondisi lingkungan. Jangan mengemudi, berjalan, atau menyeberang sambil menggunakan ponsel.

 

  1. Anonim. Traumatic brain injury. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/traumatic-brain-injury/symptoms-causes/syc-20378557. (Diakses pada 1 Maret 2021).
  2. Newman, Tim. 2018. Everything you need to know about concussion. https://www.medicalnewstoday.com/articles/158876#signs. (Diakses pada 1 Maret 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi