Terbit: 11 Agustus 2020 | Diperbarui: 26 Agustus 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Terkena kudis, Anda bisa mengobatinya dengan sejumlah obat kudis baik itu obat medis maupun obat alami. Simak cara mengobati kudis secara medis maupun alami berikut ini!

13 Obat Kudis (Scabies) Medis & Alami

Apa Itu Kudis?

Kudis adalah satu dari sekian banyak masalah kulit yang umum terjadi. Menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia mengalami kudis.

Kudis (scabies) disebabkan oleh tungau bernama Sarcoptes scabiei. Saat terserang penyakit kulit ini, Anda akan mengalami gejala berupa rasa gatal dengan intensitas sedang hingga tinggi, dan disertai kemunculan ruam merah bersisik pada permukaan kulit. Jika tidak segera diobati, tungau akan terus berkembang dan menyebar ke seluruh kulit. Perlu diketahui, kudis juga merupakan penyakit menular.

Obat Kudis Topikal

Munculnya kudis tentu akan membuat Anda merasa tidak nyaman. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir karena sudah banyak obat—mayoritas obat oles (topikal)—yang tersedia untuk mengatasi masalah ini. Apa saja macam-macam obat kudis? Berikut ini adalah informasi selengkapnya.

1. Sulfur

Cara mengobati kudis yang pertama adalah dengan menggunakan krim atau salep kulit dengan kandungan sulfur sebanyak 5-10 persen. Salep kulit dengan kandungan sulfur dapat dioleskan ke bagian yang terdapat kudis setiap habis mandi selama kurang lebih 3 hari.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement

Penggunaan sulfur untuk menghilangkan kudis dapat dilakukan apabila tubuh Anda tidak mampu menolerir jenis obat-obatan lainnya. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat ini.

2. Permethrin

Selain sulfur, salep dengan kandungan Permethrin sebanyak 5 persen menjadi obat selanjutnya yang umum diresepkan oleh dokter guna mengatasi kudis. Permethrin merupakan bahan aktif yang bersifat sebagai insektisida sintetik sehingga dapat membasmi tungau penyebab kudis.

Obat ini merupakan obat keras sehingga penggunaannya harus dengan resep dokter. Dosis obat bisa berbeda-beda tergantung dari kondisi pasien. Akan tetapi, umumnya dokter akan menyarankan penderita kudis untuk mengoleskan obat hanya 1 kali sehari yakni di malam hari sebelum tidur.

Berbeda dengan sulfur, obat permethrin tidak hanya dioleskan pada area kulit yang terdapat kudis, tapi ke hampir seluruh tubuh. Obat ini jarang menimbulkan efek samping sehingga terbilang aman untuk digunakan semua kalangan, termasuk ibu hamil dan bayi.

3. Krotamiton

Apabila penggunaan obat-obatan seperti sulfur dan permethrin tidak cukup efektif untuk mengatasi kudis, dokter mungkin akan meresepkan obat kudis dengan kandungan krotamiton sebanyak 10 persen. Akan tetapi, obat ini biasanya hanya diperuntukkan bagi penderita yang sudah berusia dewasa.

Sementara itu, obat tidak direkomendasikan bagi ibu hamil, anak-anak, dan bayi karena kemungkinan dapat menimbulkan efek samping serius. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Anda.

4. Lindane

Obat kudis selanjutnya adalah salep dengan kandungan bahan berupa lindane sebanyak 1 persen. Sama seperti permethrin, obat ini memiliki sifat insektisida yang berfungsi untuk mematikan tungau pada kulit.

Guna mendapat hasil yang maksimal, disarankan untuk menggunakan salep ini selama 6 jam setiap harinya. Akan tetapi, saran ini mungkin berbeda dengan saran yang diberikan oleh dokter. Pastikan untuk mengikuti semua petunjuk dari dokter.

Penggunaan lindane sayangnya tidak direkomendasikan pada kondisi-kondisi berikut:

  • Masa menyusui
  • Bayi prematur
  • Mengalami kejang
  • Berat badan di bawah 49 kg

5. Benzyl Benzoate

Dokter juga mungkin akan memberikan Anda krim topikal dengan kandungan benzyl benzoate sebanyak 25 persen sebagai cara untuk mengobati kudis. Obat ini juga biasanya dikombinasikan dengan minyak daun teh.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa obat ini kemungkinan akan menimbulkan efek samping berupa iritasi kulit. Selain itu, penggunaan pada anak-anak harus mendapat perhatian khusus dari dokter.

6. Keratolitik

Guna memaksimalkan pengobatan, Anda bisa mengombinasikan benzyl benzoate dengan jenis obat topikal lainnya yakni keratolitik. Sebaiknya tanyakan terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan cara yang satu ini.

7. Kortikosteroid

Cara mengobati gejala gatal parah yang dialami penderita kudis adalah dengan memberikan krim atau salep dengan kandungan kortikosteroid. Obat ini akan bekerja dengan cara menghentikan peradangan (inflamasi) yang terjadi.

Obat Kudis Oral

Berikut adalah beberapa jenis obat oral yang dapat digunakan untuk mengatasi kudis:

1. Ivermectin

Selain dengan obat topikal, dokter juga akan memberikan obat minum (oral) untuk mengobati kudis. Salah satu obat yang digunakan adalah ivermectin. Penggunaan ivermectin ini apabila obat oles seperti permethrin tidak cukup efektif dalam mengatasi kudis.

Kendati demikian, ivermectin tidak masuk ke dalam rekomendasi obat kudis menurut FDA. Efektivitas obat ini mungkin hanya berlaku bagi beberapa orang.

2. Antibiotik

Rasa gatal yang tak tertahankan mendorong Anda untuk menggaruk area kulit yang mengalami kudis. Hal ini berpotensi menyebabkan iritasi kulit. Sayangnya, iritasi kulit berpotensi menyebabkan infeksi dari bakteri maupun kuman.

Guna mengantisipasi hal ini, Anda juga mungkin akan diberikan obat-obatan antibiotik untuk diminum sesuai dengan petunjuk dokter. Selain obat oral, antibiotik juga bisa dalam bentuk krim.

Obat Kudis Alami

Selain dengan obat-obatan medis, cara mengatasi kudis juga bisa dengan menggunakan bahan-bahan alami. Apa saja bahan-bahan alami yang dimaksud? Berikut informasinya.

1. Minyak Daun Teh

Obat kudis alami yang pertama adalah minyak daun teh. Minyak esensial yang satu ini menurut sejumlah penelitian cukup efektif dalam membantu mengobati kudis, khususnya meredakan gejala gatal.

Akan tetapi, penelitian yang dilakukan masih sangat terbatas sehingga belum dapat dipastikan seberapa besar efektivitas minyak daun teh sebagai obat alami untuk mengatasi masalah kulit ini. Selain itu, minyak daun teh juga tidak bisa digunakan untuk membuang telur-telur tungau yang sudah telanjur bersarang di kulit.

2. Minyak Cengkeh

Selain minyak daun teh, jenis minyak esensial lainnya yang diklaim dapat mengobati kudis adalah minyak cengkeh. Menurut sebuah studi, minyak ini bahkan memiliki efektivitas yang lebih baik ketimbang minyak esensial lainnya dalam mengatasi permasalahan kulit tersebut.

Sayangnya, lagi-lagi penelitian yang dilakukan belum cukup kuat untuk mendukung klaim yang satu ini dikarenakan objek penelitian masih sebatas hewan. Penelitian dengan objek manusia perlu dilaksanakan agar dapat mengukur seberapa efektif minyak ini dalam mengobati kudis.

3. Gel Lidah Buaya

Tidak hanya untuk menyuburkan rambut, gel lidah buaya juga ternyata dapat membantu mengatasi kudis. Menurut sebuah penelitian, efektivitas gel lidah buaya sebagai obat kudis bahkan menyamai obat benzyl benzoate.

Selain itu, mengoleskan gel lidah buaya pada kulit yang terkena kudis juga tidak—atau jarang—menimbulkan efek samping. Kendati begitu, sebaiknya tanyakan dulu pada dokter sebelum Anda menggunakannya.

4. Kunyit

Mengoleskan kunyit menjadi cara mengobati kudis lainnya yang bisa Anda coba, kendati bukti ilmiah yang mendukung hal ini masih sangat sedikit. Anda pun tetap harus mengombinasikan kunyit dengan obat-obatan lainnya yang sudah terbukti ampuh guna memaksimalkan penyembuhan.

 

  1. Anonim. Scabies. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/scabies/diagnosis-treatment/drc-20377383 (Diakses pada 11 Agustus 2020)
  2. Fletcher, J. 2018. What is the best way to treat scabies at home? https://www.medicalnewstoday.com/articles/321335#12-home-remedies-for-scabies (Diakses pada 11 Agustus 2020)
  3. Gotter, A. 2019. Can Scabies Be Treated with Over-the-Counter Products. https://www.healthline.com/health/scabies-otc-treatment#otc-treatments (Diakses pada 11 Agustus 2020)
  4. WHO. Scabies. https://www.who.int/westernpacific/health-topics/scabies (Diakses pada 11 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi