Junjungan Kalah Pemilu? Ini yang Harus Dilakukan Biar Nggak Stres

stres-depresi-doktersehat
Photo Source: Flickr/skeyndor

DokterSehat.Com– Sobat Sehat sudah nyoblos hari ini? Apakah juga ikut deg-degan menunggu hasil Quick Count yang biasanya akan mulai keluar malam ini? Meski terlihat sebagai hal yang sepele, dalam realitanya kekalahan jagoan politik baik itu capres atau partai dukungan ternyata memang bisa menyebabkan rasa duka dan kecewa lho. Hal ini juga wajar terjadi di semua negara, termasuk di Indonesia.

Pemilihan Umum di Indonesia

Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia berlangsung 5 tahun sekali. Tak hanya memilih presiden dan wakil presiden, kita juga memilih anggota legislatif yang akan duduk di DPR, DPD, dan DPRD di tingkat provinsi atau kabupaten/kota. Setiap calon memiliki visi misinya sendiri-sendiri sehingga terkadang kita merasa tidak cocok pada calon atau partai tertentu.

Masalahnya adalah tensi politik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung semakin memanas. Polarisasi dua kubu bahkan terlihat semakin parah menjelang proses pemilu dilakukan. Banyak orang yang bahkan sampai memilih untuk tak lagi melihat acara televisi atau media sosial karena menganggap media-media tersebut justru menyebabkan stres, kecemasan, dan gangguan psikologis lainnya.

Kondisi di Indonesia ini ternyata juga terjadi di Amerika Serikat lho. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Psikolog AS yang menyebut 52 persen warga AS berusia dewasa mengalami stres akibat sengitnya masa kampanye saat pertarungan presiden antara Hillary Clinton dan Donald Trump pada 2016 lalu.

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mary McNaughton-Cassill dari University of Texas, San Antonio, dihasilkan fakta bahwa jika junjungan politik kalah saat pemilu, ada kemungkinan kecil hal ini bisa memicu stres, tekanan emosional, dan depresi. Bahkan, banyak orang yang mengaku merasa terancam atau khawatir akibat kekalahan ini.

Cara Mengatasi Stres Jika Junjungan Kalah Pemilu

Meski terlihat sepele, stres bisa membuat produktivitas kita menurun. Selain itu, stres juga bisa memicu datangnya peradangan yang tentu menyebabkan datangnya penyakit. Karena alasan inilah sebaiknya kita segera mengatasi stres jika junjungan kita sampai kalah saat pemilu.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu kita lakukan.

  1. Lakukan aktivitas dengan normal dan mulailah melakukan hal-hal yang menyehatkan

Meskipun kecewa, ada baiknya kita tidak mengurung diri atau meratapi nasib. Lakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa demi melupakan rasa kecewa ini. Selain itu, cobalah untuk melakukan kegiatan yang sehat seperti berolahraga, berkumpul dengan keluarga, atau teman-teman demi membuat suasana hati menurun sekaligus menurunkan stres.

  1. Cobalah untuk tidak membicarakan soal pemilu

Jika ada anggota keluarga atau teman yang memiliki pandangan politik yang berbeda, sebaiknya tidak mengajak mereka berbicara mengenai pemilu. Hal ini bisa menyebabkan kecemasan atau bahkan perasaan tidak nyaman. Bahkan, bisa jadi hal ni akan semakin menekan kondisi psikologis kita sehingga stres pun akan menjadi semakin parah.

  1. Berpikir positif

Meskipun capres atau partai kita kalah, bukan berarti kondisi negara akan menjadi amburadul. Kondisi negara demokrasi tidak hanya bergantung pada satu tokoh atau satu partai saja. Ada banyak pihak yang berperan dalam menjalankan pemerintahan sehingga kondisi negara tidak akan seburuk yang kita bayangkan.

Selain itu, meski junjungan kita kalah, bukan berarti rival junjungan kita tidak ingin negara kita maju, bukan? Mereka pasti akan berjuang untuk membangun negara ini sebaik-baiknya. Hal ini tentu tidak perlu lagi membuat kita risau.

  1. Menjaga emosi

Meski masih merasa marah atau kecewa, pastikan untuk menjaga emosi agar tidak mudah meluapkannya di depan orang lain karena bisa saja memicu pertengkaran atau hal-hal yang lebih buruk.

  1. Batasi penggunaan media sosial atau berita

Media sosial dan media-media lainnya biasanya akan memberitakan tentang hasil pemilu hingga beberapa saat . Demi kesehatan mental kita, sebaiknya kita puasa melihat media sosial atau berita lainnya demi memperbaiki kondisi mental kita terlebih dahulu.