Terbit: 9 Juli 2020
Ditulis oleh: dr. Dicky Yulianda | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Perlu diingat bahwa penularan COVID-19 berasal dari percikan air yang menyebar melalui saluran napas.  Jika terhirup, maka terjadi penularan langsung (transmisi langsung). Jika percikan menempel di permukaan benda, lalu tersentuh orang lain dan tangannya menyentuh mulut atau mata, maka bisa terjadi penularan (transmisi tidak langsung). Penyebaran COVID-19 bisa dihentikan dengan mencegah penyebaran percikan napas, membersihkan tangan, dan rutin membersihkan permukaan yang terinfeksi (Shereen et al., 2020).

efektivitas-face-shield-covid-19-doktersehat

Perlengkapan dan Cara Mencegah Penularan COVID-19

1. Face Shield

Face shield adalah bagian alat pelindung diri (APD) untuk mata, hidung dan mulut. Alat ini memiliki pembatas plastik yang melindungi wajah.

Sebagai pelindungan yang optimal, plastik ini harus menjangkau dagu pada bagian depan, telinga pada bagian samping, dan tidak ada celah antara dahi dan penyangga pembatas tersebut.

Face shield memiliki ketahanan yang lebih baik dan dapat dibersihkan kembali. Alat ini lebih nyaman digunakan dan dapat melindungi pintu masuk virus (hidung, mulut, dan mata) dan mengurangi autoinokulasi dari pengguna yang menyentuh wajah mereka.

Face shield dapat mengurangi paparan inhalasi dari virus influenza dan virus lainnya yang menyebar melalui percikan udara. Dengan rentang efikasi 68 hingga 96% mengurangi paparan virus melalui percikan udara (Perencevich, Diekema and Edmond, 2020).

Penelitian oleh Chu dan Duda menunjukkan bahwa risiko tertular COVID-19 pada pengguna face shield sebanyak 5,5% dibandingkan 16,0% yang tidak menggunakan face shield (Chu et al., 2020). Saat ini face shield bisa dibilang sebagai alat pelindung diri yang baik digunakan untuk masyarakat berkegiatan di luar rumah.

2. Face Mask (Masker)

Face mask atau yang biasa disebut masker adalah alat untuk menutupi mulut dan hidung.

Ada berbagai jenis masker. Ada yang bersifat medical grade (standar medis), seperti masker sekali pakai seperti masker bedah dan masker N95. Ada juga masker non-medis yang biasanya terbuat dari berbagai bahan kain.

Center of Disease Control (CDC) merekomendasikan masker non-medis minimal terbuat olah 2 lapis kain katun (Centers for Disease Control and Prevention, 2020; World Health Organization, 2020).

Penelitian yang menarik oleh Verma memberikan visualisasi perbedaan pergerakan udara pada simulasi batuk tanpa menggunakan masker, dengan masker kain dan masker medis.

Penelitian ini menunjukkan bahwa tanpa menggunakan masker percikan udaranya dapat pergi hingga lebih dari 4 meter, sementara jika menggunakan masker hanya bisa pergi kurang dari 5 sentimeter (Verma, Dhanak and Frankenfield, 2020).

ilustrasi-percikan-napas-tanpa-masker-covid-19-doktersehat

Gambar 1. Pergerakan percikan nafas ketika batuk tanpa menggunakan masker (3 feet = 1 meter). Percikan bisa mencapai 12 meter.

ilustrasi-percikan-napas-pakai-masker-2-lapis-covid-19-doktersehat

Gambar 2. Pergerakan percikan udara jika batuk menggunakan masker kain 2 lapis. Percikan tidak lebih dari 5 cm.

ilustrasi-percikan-napas-pakai-masker-bedah-covid-19-doktersehat.png

Gambar 3. Pergerakan percikan udara jika batuk menggunakan masker bedah. Percikan tidak lebih dari 5 cm.

Sejak pandemi COVID-19, sempat terjadi kelangkaan masker medis dan semakin banyak kasus COVID-19 yang asimtomatik. Pada akhirnya, CDC dan WHO merekomendasikan masker non-medis digunakan oleh yang memiliki resiko rendah dan masker medis untuk lansia atau memiliki penyakit penyulit (diabetes, hipertensi, asma, dll) (Centers for Disease Control and Prevention, 2020; World Health Organization, 2020).

Pengguna masker memiliki risiko 3,1% tertular COVID-19, sedangkan yang tidak memakai masker memiliki risiko 12,8% (Chu et al., 2020). Penggunaan masker masih sangat direkomendasikan, terutama di area yang sulit menerapkan physical distancing, seperti di pasar atau swalayan.

3. Physical Distancing

Physical distancing atau menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter dilakukan untuk mengurangi tertular COVID-19. Menjaga jarak 2 meter memiliki efek proteksi yang lebih baik dan begitu juga jika jaraknya bertambah (Chu et al., 2020).

Hal tersebut sesuai dengan rekomendasi WHO yang menyatakan bahwa jarak 1 meter dapat mengurangi risiko tertularnya COVID-19 (World Health Organization, 2020).

Seseorang yang menjaga jarak 1 meter atau lebih memiliki risiko tertular 2,6%, sedangkan seseorang yang menjaga jarak kurang dari 1 meter berisiko 12,8%. Dibandingkan dengan penggunaan face shield atau masker, physical distancing memiliki risiko yang paling rendah. Sayangnya, hal ini tidak bisa selalu dilakukan, seperti di pasar atau swalayan (Chu et al., 2020).

4. Populasi Khusus

Anak-anak berusia di bawah 2 tahun tidak direkomendasikan untuk menggunakan masker karena berisiko kesulitan bernafas. Ole karena itu, lebih disarankan untuk physical distancing, mencuci tangan, dan menghindari menjilat atau memasukkan benda-benda ke mulut (Centers for Disease Control and Prevention, 2020; Esposito and Principi, 2020).

Anak-anak di atas 2 tahun, disarankan untuk menggunakan masker non-medis. Salah satu syarat pentingnya yaitu anak harus kooperatif saat pakai masker dan menggunakan masker yang pas.

Jika anak tidak kooperatif, maka pencegahaan lainnya harus dilakukan yaitu tetap tinggal di rumah saja dan rutin mencuci tangan. Kusus untuk anak-anak dengan risiko tinggi atau mempunyai penyakit sistem imun, maka masker N95 direkomendasikan untuk melindungi diri mereka (Esposito and Principi, 2020).

Berdasarkan seluruh metode pencegahan penularan COVID-19 ini, tidak ada yang dapat melindungi 100%. Tidak ada metode yang bisa menggantikan metode lain, misalnya penggunaan face shield itu tidak membutuhkan penggunaan masker. Beberapa cara di atas perlu dilakukan bersamaan agar bisa menurunkan risiko tertular COVID-19.

perbandingan-metode-pencegah-transmisi-covid-19-doktersehat

Gambar 4. Perbandingan metode pencegah infeksi atau transmisi COVID-19.

Informasi kesehatan ini disponsori:
logo-cimsa-ugm-doktersehat

 

 

 

  1. Centers for Disease Control and Prevention (2020) How to Protect Yourself & Others | CDC. Available at: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prevent-getting-sick/prevention.html (Diakses pada 21 Mei 2020).
  2. Chu, D. K. et al. (2020) ‘Physical distancing, face masks, and eye protection to prevent person-to-person transmission of SARS-CoV-2 and COVID-19: a systematic review and meta-analysis’, The Lancet, 6736(20), pp. 1–15. doi: 10.1016/s0140-6736(20)31142-9.
  3. Esposito, S. and Principi, N. (2020) ‘To mask or not to mask children to overcome COVID-19’, European Journal of Pediatrics. European Journal of Pediatrics, 27, pp. 9–12. doi: 10.1007/s00431-020-03674-9.
  4. Perencevich, E. N., Diekema, D. J. and Edmond, M. B. (2020) ‘Moving Personal Protective Equipment Into the Community’, JAMA, 323(22), p. 2252. doi: 10.1001/jama.2020.7477.
  5. Shereen, M. A. et al. (2020) ‘COVID-19 infection: Origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses’, Journal of Advanced Research. THE AUTHORS, 24, pp. 91–98. doi: 10.1016/j.jare.2020.03.005.
  6. Verma, S., Dhanak, M. and Frankenfield, J. (2020) ‘Visualizing the effectiveness of face masks in obstructing respiratory jets’, Physics of Fluids – Invited (in revision), 061708(May), pp. 1–7. doi: 10.1063/5.0016018.
  7. World Health Organization (2020) Advice on the use of masks in the context of COVID-19: interim guidance, 5 June 2020. Geneva PP – Geneva: World Health Organization. https://apps.who.int/iris/handle/10665/332293.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi