Terbit: 6 Mei 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Osteoporosis adalah kondisi pengeroposan tulang yang sering sekali dialami oleh wanita. Kondisi ini menyebabkan tulang di bagian belakang tubuh rawan patah dan rasa nyeri kerap muncul. Wanita yang memiliki osteoporosis biasanya tidak diperkenankan melakukan aktivitas berat atau mengambil posisi tertentu saat seks karena bisa saja berbahaya.

Cara Melakukan Seks yang Aman pada Penderita Osteoporosis

Nah, kalau pasangan memiliki osteoporosis pada tulang belakangnya, apa yang harus dilakukan saat seks? Coba simak beberapa tips singkat di bawah ini.

  1. Jangan memilih gaya seks yang sulit

Jangan memilih gaya seks yang sulit seperti doggy style atau mungkin woman on top. Penderita osteoporosis yang sebagian besar adalah wanita tidak akan mampu melakukannya. Tubuh akan mendapatkan rasa sakit dan peluang terjadi parah tulang cukup tinggi.

Pilih posisi seks yang ringan dan hanya pria yang berfokus pada penetrasinya. Gaya yang bisa dicoba adalah misionaris atau spooning yang membuat wanita tidak perlu bergerak. Jangan lakukan gaya yang menekuk pinggang.

  1. Gunakan pelindung punggung

Gunakan pelindung punggung seperti handuk atau kain yang bisa dililitkan. Punggung yang terlindungi ini akan mengurangi risiko terjadinya cedera pada wanita. Selain dengan kain, punggung juga bisa diganjal dengan bantal atau guling.

  1. Lakukan perlahan-lahan

Lakukan penetrasi perlahan-lahan saja. Jangan tergesa-gesa dan memberikan guncangan yang hebat pada area punggung. Kalau punggung sampai terguncang rasa sakit akan dirasakan oleh wanita dan peluang terjadi patah jadi tinggi.

  1. Jaga pinggul agar selalu lurus

Jaga pinggul agar tetap lurus. Kondisi ini harus dilakukan untuk mengurangi tekanan pada tulang belakang yang cukup tinggi dan bisa membahayakan kondisi tulang yang mulai keropos.

  1. Lakukan konsultasi dengan fisioterapis

Lakukan konsultasi sebelum melakukan aktivitas seks. Fisioterapis akan menganjurkan apa saja yang boleh dilakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan.

Semoga ulasan di atas bermanfaat!


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi