Cacing Kremi – Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

penyebab-cacing-kremi-doktersehat
Image by Darko Djurin from Pixabay

DokterSehat.Com – Apakah anus Anda sering terasa gatal? Hati-hati, bisa jadi Anda terinfeksi cacing kremi. Cacing kremi adalah salah satu jenis parasit dari golongan nematoda yang sering kali menginfeksi saluran pencernaan manusia.

Oleh karena itu, ketahui lebih lanjut tentang apa itu cacing kremi, penyebab cacing kremi bisa menginfeksi tubuh, gejala yang dialami bila terinfeksi cacing kremi, diagnosis cacing kremi, cara menghilangkan cacing kremi, obat cacing kremi, dan lainnya.

Apa itu cacing kremi?

Cacing kremi adalah nematoda dari genus Enterbius yang sering kali menginfeksi manusia terutama anak-anak kecil. Nama latin cacing kremi adalah Enterobius vermicularis atau Oxyuris vermicularis.

Dalam bahasa Inggris, cacing kremi disebut dengan istilah pinwormbuttworm, dan seatworm. Cacing kremi betina memiliki ukuran panjang 8-15 mm dan lebar 0,3 – 0,5 mm, sedangkan cacing kremi jantan berukuran panjang 2-5 mm dan lebar 0,1-0,2 mm.

Telur cacing berbentuk bola tangan dengan ukuran panjang 50-60µm dan lebar 20-30µm. Cacing kremi jantan memiliki perbedaan ujung ekor. Ujung ekor cacing kremi betina meruncing dan pada cacing kremi jantan menggulung.

Penyebab cacing kremi pada manusia

Tubuh manusia tentunya tidak memproduksi cacing kremi. Lantas, kenapa cacing kremi bisa ada di dalam tubuh manusia dan menginfeksi? Penyebab cacing kremi bisa menginfeksi manusia dikarenakan adanya kontak sentuhan dengan orang atau benda yang telah terkontaminasi telur cacing kremi.

Cacing kremi yang telah masuk ke dalam tubuh baik dengan cara tertelan maupun terhirup akan berkembang dan menjadi dewasa dan melakukan perkembangbiakan di dalam saluran pencernaan.

Setelah mencapai dewasa, cacing kremi jantan akan membuahi cacing kremi betina lalu mati dan terbuang bersama feses. Cacing kremi betina pun bertelur dan selama kira-kira 4 minggu, sang induk akan meletakkan telur-telurnya di sekitar lubang anus pada malam hari.

Peletakkan telur tersebut disertai dengan pengeluaran lendir oleh cacing kremi betina. Lendir itulah yang mengakibatkan rasa gatal di sekitar anus. Cacing dewasa tidak akan bertahan selama lebih dari 6 minggu tetapi tidak menghentikan infeksi selama ada proses regenerasi.

Hal ini dikarenakan telur-telur yang diletakkan oleh sang induk akan menetas dan masuk lagi ke dalam usus dan terjadi begitu terus bila tidak ditangani. Terlebih lagi, area infeksi bisa mencapai rahim dan vagina.

Berikut ini adalah beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan peluang terjadinya infeksi cacing kremi:

  • Tidak menjaga kebersihan tubuh, pakaian, dan makanan
  • Buruknya higienitas lingkungan sekitar
  • Serumah dengan penderita infeksi cacing kremi
  • Anak kecil usia di bawah 8 tahun
  • Tidak rutin mencuci tangan sebelum makan dan minum
  • Tinggal di hunian yang sangat padat
  • Sering berbagi fasilitas bersama

Gejala penyakit cacing kremi

Apabila Anda terinfeksi cacing kremi, maka ada beberapa gejala yang biasanya muncul. Perhatikan beberapa gejala penyakit cacing kremi ini:

  • Rasa gatal di sekitar anus
  • Sering menggaruk anus
  • Nyeri dan ruam di sekitar anus
  • Sakit perut
  • Rasa mual
  • Nafsu makan berkurang
  • Penurunan berat badan
  • Sulit tidur atau tidur terganggu karena rasa gatal dan nyeri pada anus
  • Nyeri di vagina atau rahim (bila cacing kremi mulai merambah infeksi area tersebut)

Diagnosis infeksi cacing kremi

Setelah Anda mengalami gejala yang telah disebutkan, Anda bisa segera memeriksakan diri ke dokter untuk dilakukan tindakan diagnosis lebih lanjut. Diagnosis infeksi cacing kremi adalah dengan menggunakan tes plester.

Anda akan diminta untuk menempelkan plester khusus pada kulit di sekitar anus pada pagi hari sesaat setelah bangun tidur. Setelah itu, plester tersebut akan diperiksa dengan menggunakan mikroskop untuk mendeteksi ada atau tidaknya telur cacing.

Diagnosis tersebut perlu dilakukan selama 3 hari berturut. Hal ini bertujuan agar tingkat akurasi hasil diagnosis lebih tepat. Jika hasil diagnosis telur cacing positif, maka Anda akan direkomendasikan untuk mendapatkan pengobatan.

Pengobatan cacing kremi

Pengobatan cacing kremi adalah dengan cara menghilangkan cacing kremi dewasa dan telur-telurnya di dalam tubuh dan anus. Anda harus rajin membersihkan area anus dengan sabun antiseptik selama pengobatan agar telur cacing di anus mati dan tidak masuk lagi.

Cacing kremi yang ada di dalam tubuh dihilangkan dengan menggunakan obat cacing kremi. Obat cacing kremi yang umum digunakan adalah obat-obatan yang mengandung Mebedazol dan Piperazin.

Kedua bahan aktif dari obat cacing kremi tersebut bisa digunakan pada orang dewasa dan anak di atas usia 2 tahun. Akan tetapi, penggunaannya pada wanita hamil dan ibu menyusui perlu mendapatkan anjuran dokter terlebih dahulu.

Obat cacing kremi yang mengandung Piperazin bahkan bisa mengobati infeksi gelang juga, sedangkan obat cacing berbahan Mebedazol bisa mengatasi cacing kremi, cacing tambang, cacing gelang, dan cacing cambuk.

Pencegahan penyakit infeksi cacing kremi

Tentunya Anda sering mendengar bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati bukan? Hal ini memang benar. Sebelum Anda terinfeksi cacing kremi lagi dan harus minum obat cacing kremi, sebaiknya Anda melakukan tindakan pencegahan.

Anda bisa melakukan beberapa cara mencegah infeksi cacing kremi seperti di bawah ini:

  • Selalu menjaga kebersihan diri
  • Rajin mencuci tangan setiap sebelum makan atau setelah kontak fisik
  • Hindari menggunakan peralatan orang lain seperti handuk, sisir, sendok, dan lainnya
  • Mengobati anggota keluarga yang terinfeksi cacing kremi
  • Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal
  • Tinggal di tempat yang memiliki higienitas dan sanitasi baik

Lakukanlah cara-cara tersebut agar tidak terkena infeksi cacing kremi. Hal ini bisa menjaga kesehatan tubuh Anda.

 

 

Sumber:

  1. PIONAS-BPOM:; Cacing Kremi (Oxyuris). http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-5-infeksi/56-infeksi-cacing/561-cacing-kremi-oxyuris [diakses pada 29 April 2019]
  2. Unimus: Tinjauan Pustaka (E. Vermicularis). http://repository.unimus.ac.id/1091/3/BAB%20II.pdf [diakses pada 29 April 2019]