Kita tentu pernah mendengar anggapan yang menyebut penderita cacar air tidak boleh terkena udara luar atau angin. Belum jelas apa alasan dari larangan ini, namun ada yang menyebut udara luar bisa membuat kondisi cacar air akan menjadi semakin parah. Apakah anggapan ini memang sesuai dengan fakta medis?

cacar-air-doktersehat

Cacar Air dan Paparan Udara Luar

Pakar kesehatan menyebut cacar air sebagai masalah kesehatan yang dipicu oleh infeksi virus berjenis varicella zoster. Biasanya, masalah kesehatan ini hanya akan muncul sekali seumur hidup. Seringkali, cacar air menyerang anak-anak dengan gejala kulit terasa gatal, demam, badan lemas, dan munculnya lentingan berwarna merah yang berisi cairan pada kulit.

Penderita cacar air ternyata memang sangat tidak disarankan untuk terpapar udara luar atau angin. Hanya saja, alasan dari larangan ini bukanlah karena bisa membuat gejalanya menjadi semakin parah. Hal ini lebih disebabkan oleh mudahnya penyakit ini menular ke orang lain.

Udara ternyata bisa menjadi media untuk memindahkan virus penyebab cacar air dari penderitanya ke orang lain. Hal ini biasanya terjadi jika penderitanya mengalami batuk-batuk atau bersin. Biasanya, mereka yang menderita penyakit ini bisa menyebarkan virus dalam kurun waktu lima hari sebelum dan setelah lentingan berwarna merah muncul di kulit. Di hari-hari awal lentingan ini muncul, risiko terjadinya penularan paling besar.

Anggota keluarga yang merawat penderita cacar air juga sangat tidak disarankan untuk sering-sering berada di dalam satu ruangan yang sama karena bisa saja membuat penyakit ini menular, apalagi jika mereka belum pernah terkena penyakit ini sebelumnya.

Melihat fakta ini, anak-anak yang menderita cacar air sangatlah disarankan untuk tidak bersekolah terlebih dahulu demi mencegah penularan pada teman-teman lainnya. Lebih baik penderitanya fokus untuk beristirahat dan memulihkan diri hingga penyakit ini bisa sembuh.

Cacar Air Juga Bisa Menular dengan Media Lainnya

Selain lewat angin, pakar kesehatan menyebut cacar air juga bisa mudah menular lewat media lainnya seperti kain yang sempat dipakai dengan penderita cacar air layaknya pakaian, seprai, handuk, hingga mainan yang mereka gunakan.

Melihat fakta ini, pastikan untuk tidak sembarangan menyentuh benda-benda yang dipakai penderita cacar air. Bahkan, handuk sebaiknya ditempatkan di posisi terpisah agar tidak mudah bersentuhan dengan handuk atau kain lainnya sehingga potensi penularan bisa diturunkan dengan signifikan.

Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan Penderita Cacar Air

Penderita cacar air sebaiknya segera diperiksakan ke dokter demi mendapatkan penanganan medis yang tepat. Biasanya, dokter akan memberikan obat gatal demi menurunkan gejala gatal yang sangat terasa. Sebagai informasi, sensasi gatal ini bisa membuat kita tak tahan untuk menggaruk lentingan berwarna merah yang berisi cairan. Masalahnya adalah jika sampai hal ini terjadi, lentingan bisa terluka dan bekas lukanya tidak akan mudah hilang.

Pastikan untuk menjaga kuku berada dalam kondisi pendek atau terpotong. Selain itu, kita juga bisa memakai sarung tangan dan kaus kaki demi mencegah garukan atau goresan saat tidur.

Penderita cacar air sangatlah disarankan untuk mencukupi kebutuhan air putih demi mencegah dehidrasi. Selain itu, mereka bisa mengonsumsi makanan tinggi kandungan cairan seperti sup dan jus. Khusus untuk bayi, sebaiknya mereka diberikan ASI dengan frekuensi yang lebih sering demi membuat sistem kekebalan di dalam tubuhnya semakin kuat dan cacar air pun bisa diatasi dengan lebih baik.

 

Sumber:

  1. Anonim. 2012. Facts About Chickenpox. www.healthlinkbc.ca/healthlinkbc-files/chickenpox. (Diakses pada 21 Januari 2020).