Terbit: 17 April 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Cabin fever adalah istilah populer untuk menjelaskan sebuah emosi sedih, sepi, terputus dari dunia luar, dan bingung saat Anda terisolasi atau terkurung di akhir pekan. Sindrom ini kemudian dikaitkan dengan efek lockdown dari pandemi COVID-19. Ketahui apa itu cabin fever, gejala, penyebab, pencegahan, dll.

Cabin Fever: Gejala dan Cara Mengatasinya – Dampak Buruk COVID-19?

Apa Itu Cabin Fever?

Cabin fever adalah istilah untuk mengungkapkan perasaan sedih, sepi, takut, bosan, bingung, dan lesu saat Anda terperangkap atau terkurung di suatu tempat selama beberapa jam atau beberapa hari. Kondisi ini diibaratkan seperti Anda terjebak di dalam sebuah kabin dan tidak bisa keluar walaupun Anda sudah berusaha keras.

Perasaan kacau tersebut berpengaruh pada kondisi mental dan psikis Anda. Faktor lain dari pemicu kesedihan tersebut adalah saat Anda menyadari bahwa Anda tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari, tidak dapat berinteraksi sosial, dan serangkaian perasaan negatif yang tidak dapat dijelaskan saat terisolasi dari dunia luar.

Beberapa pengamat mengungkapkan bahwa cabin fever adalah semacam sindrom musiman atau efek dari claustrophobia (ketakutan dan serangan panik irasional karena tidak dapat melarikan diri dari situasi berbahaya). Kondisi ini tidak dianggap sebagai gangguan psikologi. Walaupun demikian, kondisi ini dapat meningkatkan tingkat stres dan gejala depresi.

Belakangan ini, sindrom cabin fever dikabarkan melanda banyak orang di seluruh dunia akibat efek isolasi diri yang dianjurkan untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19. Beberapa faktor seperti pembatasan jarak sosial, karantina diri di rumah, hilangnya berbagai aktivitas, dan keterbatasan hidup sehari-hari di masa pandemi COVID-19 ini meningkatkan risiko sindrom cabin fever.

Baca Juga: 10 Cara Mencegah Penyebaran Virus Corona yang Harus Diketahui

Gejala Cabin Fever

Gejala cabin fever adalah perasaan terperangkap, terkurung, dan terisolasi yang kemudian memicu berbagai emosi keputusasaan. Orang yang mengalami akan merasakan:

  • Sedih
  • Kesepian
  • Kegelisahaan
  • Keputusasaan
  • Lekas marah
  • Tidak sabar
  • Lemas dan lesu
  • Kehilangan semangat
  • Stres
  • Bingung
  • Ketakutan
  • Perasaan kacau
  • Gangguan tidur
  • Sulit konsentrasi
  • Perubahan berat badan
  • Mengidam makanan tertentu
  • Halusinasi
  • Mudah tersinggung
  • Tidak mampu mengatasi diri sendiri
  • Penurunan motivasi hidup
  • Tidak percaya diri dan orang sekitar

Gejala ini umum terjadi pada kondisi seperti saat Anda tidak berinteraksi sosial dalam jangka waktu tertentu. Kepribadian dan diri Anda sendiri yang dapat menentukan sampai kapan ini akan terjadi. Beberapa orang dapat mengatasinya dengan mudah dengan menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas baru. Sementara beberapa kelompok lainnya mungkin sulit mengatasi kesedihan tersebut.

Kapan Harus ke Dokter?

Cabin fever umumnya dapat diatasi segera setelah Anda memutuskan untuk mulai berinteraksi sosial. Kondisi ini tidak termasuk sebagai gangguan kesehatan mental. Walaupun demikian, perasaan sedih akibat terputus dengan dunia luar atau orang-orang yang Anda cintai mungkin dapat berlangsung lebih lama.

Anda harus mencari jalannya sendiri dengan menghilangkan perasaan terisolasi, terlupakan, tertinggal, atau depresi tersebut. Bila perasaan tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari Anda, segera hubungi dokter atau psikiater untuk konsultasi. Anda mungkin memiliki gangguan kecemasan yang menjadi dasar semua kesedihan tersebut.

Apabila Anda mengalami cabin fever akibat isolasi diri dari pandemi COVID-19, Anda dapat berkonsultasi dengan penyedia layanan konsultasi medis online, klik di sini. Selain itu, ada banyak cara mengatasi cabin fever karena sindrom ini umumnya bersifat sementara.

Penyebab Cabin Fever 

Penyebab cabin fever adalah perasaan terisolasi yang dapat diakibatkan oleh apapun, seperti:

  • Bencana alam
  • Badai
  • Keterbatasan akses transportasi
  • Pembatasan sosial akibat pandemi, perang, atau kondisi berbahaya lainnya
  • Kondisi lain yang tidak memungkinkan Anda untuk berinteraksi sosial

Faktor-faktor tersebut dapat menciptakan emosi dan perasaan seperti Anda terkurung dalam kabin. Kondisi ini mungkin dirasakan oleh seseorang dengan penyebab lainnya yang belum dipastikan. Umumnya, kondisi ini juga akan membaik bila faktor lingkungan mulai kembali normal.

Pengobatan Cabin Fever

Anda mungkin mengatasinya dengan bantuan terapis, namun tidak ada perawatan dasar untuk mengatasinya karena sindrom ini tidak termasuk dalam kondisi psikologis. Anda mungkin mengatasinya sendiri dengan memfokuskan otak dan diri Anda. Berikut ini beberapa cara mengatasi cabin fever:

1. Refreshing

Salah satu penyebab umum cabin fever adalah karena Anda tinggal di rumah dalam waktu yang lama dan tidak berinteraksi sosial. Anda dapat memutus sindrom ini dengan refreshing, jalan-jalan ke suatu tempat, atau mulai berkomunikasi dengan orang lain. Anda mungkin juga harus berolahraga, bergerak, dan menghabiskan waktu di alam bebas.

Bila Anda mengalami sindrom cabin fever akibat suatu kondisi berbahaya yang tidak memungkinkan Anda untuk keluar rumah, seperti adanya bencana alam, kerusuhan, badai, banjir, atau pembatasan sosial seperti di masa pandemi COVID-19 ini, Anda tetap dapat melakukan penyegaran dengan cara lain, seperti:

  • Membuka jendela untuk mendapatkan udara segar
  • Berjalan-jalan di pekarangan rumah
  • Duduk di balkon
  • Menggunakan pengharum ruangan atau aromaterapi
  • Menanam bunga atau tumbuhan lain yang menyegarkan

Anda juga dapat berolahraga di dalam kamar Anda. Anda dapat membawa kebiasaan atau kehidupan yang ada di luar masuk ke kamar Anda. Buat diri Anda senyaman mungkin dengan berbagai metode penyegaran yang dapat Anda nikmati di dalam rumah.

2. Buat Rutinitas

Apabila isolasi diri yang Anda lakukan berkaitan dengan faktor luar yang harus Anda patuhi, maka Anda tetap harus membuat rutinitas agar hidup Anda tetap produktif. Misalnya, Anda tetap harus bekerja dari rumah. Anda juga harus membuat jadwal dan kegiatan baru seperti berolahraga, membaca buku, latihan musik, belajar memasak, dan sebagainya yang sesuai dengan tujuan Anda.

3. Buat Tujuan atau Rencana

Anda mungkin tidak bisa berdiam diri di rumah karena itu akan mengacaukan pikiran Anda sendiri. Anda dapat menyibukkan diri dengan berbagai hal atau rencana yang selama ini tertunda. Pastikan bahwa rencana tersebut masuk akal untuk dipenuhi dalam situasi tersebut. Misalnya, rencana untuk membersihkan lemari, aquarium, rak buku, peralatan dapur, dll.

Baca Juga: Depresi: Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

4. Menjalin Komunikasi Sosial

Karantina atau isolasi diri di rumah tidak berarti Anda harus memutuskan komunikasi dengan orang-orang yang Anda cintai. Anda tetap bisa bertemu mereka dengan cara virtual. Kemajuan teknologi memungkinkan Anda untuk melakukan panggilan video sehingga Anda tetap terkoneksi dengan teman, kolega, atau keluarga jauh lainnya. Komunikasi dengan orang lain akan membantu Anda untuk mengatasi kesedihan dan kesepian.

5. Waktu untuk Mengenal Diri Sendiri

Anda dapat memanfaatkan waktu isolasi diri dengan berbicara dengan diri Anda sendiri. Beri waktu pada diri sendiri untuk berpikir, beristirahat, atau menikmati apa pun yang Anda miliki sekarang. Anda mungkin juga dapat meditasi, berdoa, atau menghargai berbagai momen dan apapun yang selama ini terlewat. Pada dasarnya, gunakan waktu sendiri untuk lebih mengenal diri Anda sendiri.

6. Menciptakan Sesuatu

Alihkan kesedihan yang Anda rasakan dengan menciptakan sesuatu, mungkin hal-hal kreatif atau menu makanan baru. Apapun yang ingin Anda ekspresikan, lakukan saja. Bila Anda suka bermain musik, memasak, membaca, mengumpulkan foto liburan tahun lalu, atau hobi lain yang mungkin dilakukan sendiri di rumah. Berbagai kegiatan bermanfaat akan membantu Anda mengatasi sindrom ini.

7. Olahraga

Ada berbagai gerakan olahraga yang dapat Anda lakukan di dalam rumah atau bahkan di dalam kamar Anda. Olahraga atau latihan fisik ringan dapat membantu melepaskan hormon endorfin, yaitu hormon kebahagiaan. Anda dapat melakukan beberapa jenis olahraga, seperti:

  • pushups
  • squats
  • burpees
  • lunges
  • planks

Selain itu, terdapat banyak manfaat olahraga untuk kesehatan fisik dan mental. Anda dapat memanfaatkan waktu “isolasi” dengan berbagai hal positif lainnya. Olahraga juga dapat membuat Anda jadi bahagia.

Itulah penjelasan lengkap tentang apa itu cabin fever. Cabin fever adalah sebuah sindrom yang mungkin dialami saat Anda terisolasi akibat suatu hal, seperti di masa pembatasan sosial akibat pandemin COVID-19 ini.

Walaupun demikian, Anda harus mengontrol perasaan dan pikiran Anda untuk memanfaatkan waktu tersebut untuk suatu kegiatan positif. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda dalam mengatasi cabin fever akibat COVID-19.

 

  1. Fritscher, Lisa. 2020. Cabin Fever Symptoms and Coping Skills. https://www.verywellmind.com/cabin-fever-fear-of-isolation-2671734. (Diakses pada 17 April 2020).
  2. Healthline Editorial Team. 2020. How to Deal With Cabin Fever. https://www.healthline.com/health/cabin-fever. (Diakses pada 17 April 2020).
  3. Rogers, Kristen CNN. 2020. Do I have ‘cabin fever?’ What it is, how to ‘cure’ it. https://edition.cnn.com/2020/03/19/health/coronavirus-cabin-fever-definition-quarantine-wellness/index.html. (Diakses pada 17 April 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi