Terbit: 13 Februari 2020 | Diperbarui: 19 Mei 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Bronkitis adalah infeksi umum yang menyebabkan peradangan dan iritasi pada saluran udara utama paru-paru atau bronkus. Hal ini menyebabkan terjadinya peradangan atau inflamasi pada saluran tersebut.

Bronkitis: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

Penyakit bronkitis dan pneumonia memiliki gejala yang mirip, termasuk batuk, demam, kelelahan, dan perasaan berat di dada. Penyakit ini terkadang dapat berkembang menjadi pneumonia. 

Meski begitu, kedua penyakit ini berbeda. Pertama, penyakit ini terjadi pada saluran bronkial, sementara pneumonia terjadi pada alveoli atau kantung udara di paru-paru. Kedua, gejala pneumonia biasanya lebih buruk dan bahkan mengancam jiwa, terutama pada orang tua dan orang yang rentan.

Jenis Bronkitis

Berdasarkan keparahannya, bronkitis terbagi menjadi dua jenis:

1. Bronkitis Akut

Jenis ini adalah salah satu infeksi sistem pernapasan yang paling umum terjadi dan paling sering menyerang anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Biasanya berlangsung selama satu hingga dua minggu. 

2. Bronkitis Kronis

Adalah infeksi bronkus yang berlangsung lebih dari dua minggu. Jenis ini lebih sering terjadi pada orang dewasa di atas usia 40 tahun. Penyakit bronkitis kronis adalah gangguan serius jangka panjang yang sering memerlukan perawatan medis yang teratur.

Baca Juga: Bronkitis Akut: Penyebab, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan

Penyebab Bronkitis

Penyebab penyakit bronkitis adalah hal yang perlu diketahui oleh dokter sebelum pemberian obat.

1. Infeksi Virus dan Bakteri

Umumnya disebabkan oleh infeksi paru-paru dan 90% kasus yang ditemukan disebabkan oleh virus. Serangan berulang dari bronkitis akut, yang melemahkan dan mengiritasi bronkus dari waktu ke waktu dapat mengakibatkan bronkitis kronis.

Dalam kebanyakan kasus, bronkitis akut biasanya diakibatkan infeksi virus, tapi kadang-kadang juga bisa disebabkan oleh bakteri. Jika kondisi pertahanan tubuh baik, selaput lendir dapat kembali normal setelah sembuh dari infeksi. Proses kesembuhan ini biasanya berlangsung selama beberapa hari.

2. Menghirup Zat Iritan

Penyakit ini dapat disebabkan oleh menghirup zat iritan, seperti asap, asap tembakau, dan bahan kimia dalam produk rumah tangga. Merokok adalah penyebab bronkitis kronis, baik perokok aktif maupun perokok pasif. Merokok jangka panjang dapat menyebabkan saluran bronkus menghasilkan lendir yang berlebihan.

Penderita bronkitis kronis sering mengembangkan penyakit paru lain terkait dengan merokok yang disebut emphysema. Emphysema adalah kondisi kantung udara di dalam paru-paru mengalami kerusakan, yang menyebabkan sesak napas.

3. Paparan di Tempat Kerja

Bronkitis kronis biasanya diderita pada orang yang kerja atau tinggal di sekitar kawasan industri seperti pertambangan. Pekerja mungkin berisiko terkena bronkitis kronis dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) lainnya jika sering terpapar bahan yang dapat merusak paru-paru. Penyakit ini biasanya akan mereda setelah tidak lagi terkena zat iritasi di tempat kerja.

Berikut beberapa bahan atau zat yang menjadi penyebab bronkitis:

  • Butiran debu
  • Tekstil (serat kain)
  • Asam kuat
  • Amonia
  • Klorin

Faktor Risiko Bronkitis

Berikut beberapa faktor yang meningkatkan risiko terserang bronkitis:

  • Merokok.
  • Menderita asma dan alergi.
  • Memiliki sistem kekebalan yang lebih lemah, yang terkadang terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, penderita penyakit yang berkelanjutan, serta bayi dan anak kecil. Bahkan pilek lebih mungkin meningkatkan risiko, karena tubuh melawan kuman-kuman.

Sementara hal berikut ini dapat meningkatkan risiko terkena bronkitis kronis:

  • Perokok wanita lebih berisiko daripada perokok pria.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit paru-paru.

Apakah Bronkitis Menular?

Jawabannya bisa bervariasi. Apabila disebabkan oleh virus, maka penyakit ini ini biasanya menular. Namun untuk kondisi yang tergolong kronis, biasanya tidak menular.

Gejala Bronkitis

Gejala utamanya adalah batuk kering. Tetapi kemungkinan batuk akan mengeluarkan lendir kental berwarna kuning keabu-abuan (meski hal ini tidak selalu terjadi).

Gejala bronkitis akut dan kronis dapat memengaruhi pernapasan, di antaranya:

  • Sesak di dada – ketika dada terasa penuh atau tersumbat
  • Batuk disertai lendir yang bening, putih, kuning, atau hijau
  • Sesak napas
  • Bunyi mengi atau suara nyaring seperti bersiul saat bernapas

Bronkitis kronis, batuk berlangsung setidaknya selama tiga bulan dan mungkin akan kembali dua tahun berturut-turut.

Sementara pada bronkitis akut, batuk mungkin akan bertahan selama beberapa minggu setelah gejala lainnya menghilang. Berikut gejala lainnya:

  • Tubuh terasa sakit dan meriang
  • Demam ringan
  • Pilek – hidung tersumbat
  • Sakit tenggorokan

Kapan Harus ke Dokter?

Gejalanya yang ringan mungkin tidak perlu menemui dokter, tapi ciri-ciri bronkitis mirip dengan pneumonia. Sangat penting untuk memerhatikan perubahan pada gejala yang dialami. Segera temui dokter jika Anda memiliki gejala seperti berikut:

  • Batuk yang menyebabkan nyeri dada yang persisten. Batuk yang seperti ini bisa merusak kantung udara dalam paru-paru.
  • Batuk bertahan lebih dari seminggu dan lendir menjadi lebih gelap, lebih tebal, peningkatan volume dahak disertai keluarnya darah. 
  • Diikuti dengan masalah paru-paru, jantung kronis, atau infeksi. Infeksi pernapasan dapat membuat tubuh rentan terhadap penyakit paru-paru yang lebih serius seperti pneumonia.
  • Kesulitan untuk bernapas. Ini mungkin merupakan gejala dari kondisi medis seperti asma, emfisema (paru obstruktif kronis) atau penyakit jantung.
  • Demam tinggi atau demam yang bertahan lebih dari tiga hari.

Diagnosis Bronkitis

Awalnya mungkin Anda sulit untuk membedakan gejala penyakit ini dengan pilek biasa. Untuk itu, sebaiknya periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Selama pemeriksaan fisik, dokter akan menggunakan stetoskop untuk memeriksa paru-paru.

Berikut beberapa tes yang mungkin disarankan dokter:

1. Tes Dahak

Dahak atau lendir yang keluar ketika batuk dapat dites untuk melihat apakah penyakit yang yang diderita dapat diobati dengan antibiotik. Dahak juga bisa dites untuk mengetahui tanda-tanda infeksi paru lain seperti TBC.

2. Rontgen Dada

Selain mendiagnosis penyakit ini, X-ray dada dapat membantu menentukan apakah Anda menderita pneumonia atau kondisi lain yang dapat menjelaskan kondisi batuk Anda. Tes ini sangat penting jika Anda pernah atau seorang perokok.

3. Tes Fungsi Paru

Tes ini mengharuskan Anda meniup ke alat yang disebut spirometer, untuk mengukur seberapa banyak udara yang bisa ditahan paru-paru dan seberapa cepat Anda bisa mengeluarkan udara dari paru-paru. Tes ini juga berfungsi untuk memeriksa gejala asma atau emfisema.

Komplikasi

Pneumonia adalah komplikasi yang paling umum. Penyakit ini terjadi ketika infeksi menyebar ke paru-paru, menyebabkan kantung udara kecil di dalam paru-paru terisi oleh cairan. Sekitar 1 dari 20 penderitanya juga mengalami pneumonia.

Orang yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami pneumonia termasuk, orang yang lebih tua, perokok, kondisi kesehatan (penderita penyakit jantung, hati atau ginjal), dan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Pengobatan dan Pencegahan Bronkitis

Pengobatan bronkitis akut bisa dilakukan dengan melakukan langkah-langkah sederhana seperti berikut ini:

  • Banyak istirahat
  • Minum banyak air putih
  • Menghindari paparan (asap, zat kimia)
  • Menggunakan inhalasi bronkodilator

Setelah bronkitis akut sembuh, pencegahannya adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat dengan menghindari rokok dan menggunakan masker polusi jika udara tercemar. Dalam kasus bronkitis kronis yang parah, steroid oral, inhaler atau oksigen tambahan dapat diberikan untuk mengurangi peradangan.

Pengobatan dengan antibiotik tidak akan diberikan pada kasus penyakit ini yang disebabkan oleh virus karena tidak akan memberi efek apa-apa. Pemberian antibiotik diperlukan jika ada kemungkinan terjadi infeksi bakteri. Jika mengalami peningkatan jumlah lendir dan kekentalannya, berarti Anda sudah terinfeksi bakteri. Resep antibiotik yang diberikan biasanya adalah untuk minimal lima hari.

Jika Anda mengalami bronkitis kronis, paru-paru rentan terhadap infeksi. Sebaiknya segera mendapatkan vaksinasi pneumonia. Pemberian vaksinasi akan melindungi Anda dari bakteri atau virus dari penyakit ini. Disarankan untuk mengonsultasikan dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi.

Baca juga: Gejala dan Pengobatan Bronkitis pada Anak dan Bayi

Perlu diingat, jangan mengonsumsi obat antitusif (penekan batuk) tanpa resep dokter. Sama halnya dengan bronkitis yang akut, batuk produktif yang berhubungan dengan bronkitis kronis dapat membantu membersihkan paru-paru dari lendir yang berlebihan. Bahkan, dokter dapat merekomendasikan ekspektoran (pengencer dahak) jika batuk relatif kering.

Namun, jika terdapat perubahan dalam warna, volume, atau ketebalan dahak, itu menandakan bahwa seseorang sudah terinfeksi bakteri. Dalam hal ini, dokter mungkin meresepkan antibiotik untuk melawan bakteri.

Sementara itu, jika pasien memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), biasanya dokter meresepkan obat bronkodilator sementara untuk membantu melebarkan saluran napas. Jika terdapat kecacatan dalam transfer oksigen dari paru-paru ke dalam aliran darah, dokter mungkin meresepkan terapi oksigen yang dapat diberikan di rumah sakit.

Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang menghentikan kebiasaan merokok meskipun telah berada dalam tahap bronkitis kronis dan PPOK yang parah, tidak hanya dapat mengurangi keparahan gejala, tetapi juga dapat meningkatkan harapan hidup.

 

  1. Bronchitis. https://www.webmd.com/lung/understanding-bronchitis-basics#1. (Diakses 18 Desember 2019)
  2. Bronchitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bronchitis/diagnosis-treatment/drc-20355572/. (Diakses 18 Desember 2019)
  3. Bronchitis. https://www.nhs.uk/conditions/bronchitis/. (Diakses 18 Desember 2019)
  4. McIntosh, James. 2019. Symptoms and treatment of bronchitis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/8888.php. (Diakses 18 Desember 2019)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi