Terbit: 6 Agustus 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Pembesaran prostat jinak adalah penyakit yang harus diwaspadai oleh para pria. Ketahui lebih lanjut mengenai penyakit ini mulai dari ciri-ciri, penyebab, faktor risiko, hingga pengobatan dan pencegahannya.

Pembesaran Prostat Jinak: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Pembesaran Prostat Jinak?

Pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah pembesaran yang terjadi pada kelenjar prostat. Kondisi ini lantas menyebabkan aliran urine menjadi terhambat.

Penyakit BPH ini tergolong jinak dan tidak memiliki keterkaitan dengan kanker prostat. Pembesaran kelenjar prostat sendiri sebenarnya dialami oleh hampir semua pria, yakni ketika mereka memasuki usia lanjut (60 tahun ke atas). Akan tetapi, pembesaran yang terjadi bervariasi dan ada yang masih tergolong wajar tanpa menimbulkan masalah berarti.

Ciri dan Gejala Pembesaran Prostat Jinak

Apa saja yang menjadi ciri atau gejala pembesaran prostat jinak? Berikut adalah ciri-ciri yang umumnya dirasakan oleh penderita penyakit ini:

  • Sering buang air kecil
  • Buang air kecil terasa tidak tuntas
  • Aliran urine lemah atau lambat
  • Urine tetap menetes meskipun berkemih sudah selesai
  • Mengejan untuk buang air kecil
  • Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil

Sementara itu, ada juga ciri-ciri atau gejala lainnya yang akan dialami oleh penderita BPH meskipun terbilang jarang. Gejala yang dimaksud meliputi:

  • Infeksi saluran kemih (ISK)
  • Tidak bisa buang air kecil
  • Urine disertai darah

Seberapa besar pembesaran yang terjadi pada prostat tidak selalu menentukan tingkat keparahan gejala. Beberapa pria dengan pembesaran prostat yang terbilang minor pun dapat mengalami gejala yang signifikan, sementara pria lain dengan prostat yang sangat membesar hanya merasakan gejala dengan intensitas ringan.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala di atas, terlebih jika gejala yang dirasakan termasuk gejala tidak umum. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan jika gejala tersebut memang disebabkan oleh penyakit BPH.

Pasalnya, sejumlah masalah kesehatan lainnya juga memiliki gejala yang mirip. Masalah kesehatan yang dimaksud di antaranya sebagai berikut:

  • Prostatitis
  • Penyempitan uretra
  • Luka pada kandung kemih
  • Batu ginjal
  • Gangguan saraf kemih
  • Kanker prostat
  • Kanker kandung kemih

Penyebab Pembesaran Prostat Jinak

Pembesaran prostat jinak menyebabkan uretra menyempit, sehingga kandung kemih harus berkontraksi lebih kuat untuk mendorong urine keluar melalui tubuh. Seiring waktu, otot kandung kemih secara bertahap menjadi lebih kuat, lebih tebal, dan terlalu sensitif. Hal ini menyebabkan kemih mudah berkontraksi bahkan ketika hanya mengandung sejumlah kecil urine.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Hingga saat ini belum dapat dipastikan apa yang menjadi penyebab pembesaran prostat jinak, namun sejumlah ahli medis menduga ada keterkaitan antara BPH dengan perubahan hormon seksual yang dipengaruhi oleh bertambahnya usia.

Faktor Risiko Pembesaran Prostat Jinak

Sementara itu, ada sejumlah faktor yang diklaim dapat meningkatkan risiko pria untuk mengalami penyakit BPH. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:

  • Usia. Pembesaran kelenjar prostat umumnya menyerang pria di rentang usia 60-80 tahun.
  • Riwayat keluarga. Pria yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama berpotensi untuk mengalami kondisi ini juga di kemudian hari.
  • Penderita diabetes. Penderita diabetes lebih berisiko untuk mengalami BPH.
  • Penyakit jantung. Penyakit jantung juga menyebabkan penderitanya lebih berisiko untuk terkena BPH.
  • Obat-obatan. Penggunaan obat jenis penghambat beta (beta-blockers) bisa berdampak pada pembesaran kelenjar prostat.
  • Gaya hidup. Mereka yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas) lebih tinggi potensinya untuk mengalami BPH. Hal ini juga berlaku untuk mereka yang jarang berolahraga.

Diagnosis Pembesaran Prostat Jinak

Diagnosis penyakit pembesaran prostat jinak terbagi menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu:

1. Anamnesis

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien terkait dengan keluhan yang dirasakan. Pertanyaan meliputi:

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah ada anggota keluarga dengan penyakit yang sama?
  • Apakah sedang mengalami penyakit lain?
  • Apakah sedang mengonsumsi obat-obatan? Jika ya, obat apa?

2. Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya, dokter akan memeriksa kondisi fisik pasien, dalam hal ini prostat. Medium yang biasanya digunakan adalah ultrasonografi (USG). Melalui pemeriksaan fisik tersebut, dokter dapat mengidentifikasi tingkat keparahan kondisi yang dialami oleh pasien.

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk memperkuat hasil diagnosis. Pemeriksaan penunjang untuk kasus BPH umumnya terdiri dari:

  • Tes urine, untuk mencari tahu apakah ada infeksi.
  • Tes darah, untuk mencari tahu apakah ada masalah pada organ ginjal.
  • Tes PSA, untuk mengukur kadar antigen dalam darah (PSA). PSA akan bertambah volumenya saat prostat membesar.

Pengobatan Pembesaran Prostat Jinak

Pengobatan umumnya tidak diperlukan kecuali pembesaran prostat jinak menyebabkan gejala terutama yang mengganggu atau komplikasi (seperti infeksi saluran kemih, gangguan fungsi ginjal, darah dalam urine, kerikil dalam kandung kemih). Beberapa pilihan pengobatan untuk pembesaran prostat jinak adalah:

1. Alpha-Blocker

Obat ini tidak mengurangi ukuran prostat, tetapi efektif dalam mengurangi gejala urine yang sulit keluar. Obat ini bekerja dengan merelaksasi otot-otot sekitar prostat dan leher kandung kemih, sehingga urine bisa mengalir lebih mudah.

Obat alpha-blocker bekerja dengan cepat, sehingga gejala membaik dalam satu atau dua hari. Obat ini paling efektif untuk pria dengan kelenjar prostat yang membesar namun belum menyumbat saluran kemih. Obat-obatan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Tamsulosin
  • Alfuzosin
  • Terazosin
  • Doxazosin
  • Silodosin

Pusing, iritasi lambung dan hidung tersumbat adalah efek samping yang paling umum terjadi. Perlu diketahui, obat ini tidak diberikan untuk pria dengan retensi urine signifikan dan infeksi saluran kemih berulang.

2. 5-Alpha Inhibitor Reduktase

Obat ini dapat mengecilkan prostat dengan mengurangi kadar hormon laki-laki yaitu dihidrotestosteron (DHT), yang terlibat dalam pertumbuhan prostat. Obat ini memakan waktu lebih lama daripada alpha blockers, tapi ada peningkatan aliran urine setelah tiga bulan.

Obat dapat mengurangi risiko retensi akut (ketidakmampuan untuk buang air kecil) dan juga mengurangi kecendrungan indikasi operasi prostat. Obat mungkin perlu dikonsumsi selama 6 sampai 12 bulan untuk melihat efek kerja obatnya. Obat-obatan ini antara lain:

  • Finasteride
  • Futasteride

Kemungkinan efek samping yang terjadi adalah masalah ereksi, penurunan gairah seksual dan jumlah sperma yang menurun. Efek samping ini umumnya ringan dan dapat hilang ketika pasien berhenti minum obat atau setelah tahun pertama konsumsi obat.

Ada juga terapi kombinasi obat yang mungkin efektif terhadap gejala yang berhubungan dengan BPH. Beberapa contoh obat gabungan termasuk alpha-blocker dan inhibitor 5-alpha-reductase atau alpha-blocker dan antikolinergik.

Jika penggunaan obat tidak mampu mengatasi pembesaran prostat, maka prosedur terapi invasif minimal sampai dengan pembedahan dapat dilakukan. Pembedahan yang dilakukan umumnya meliputi:

  • Transurethral incision of the prostate (TUIP)
  • Transurethral resection of the prostate (TURP)

Sementara terapi invasif yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Water-induced thermotherapy (WIT)
  • High-intensity focused ultra sonography (HIFU)

Komplikasi Pembesaran Prostat Jinak

Jika tidak segera ditangani, BPH mungkin akan menyebabkan penderitanya mengalami komplikasi seperti:

  • Kerusakan ginjal
  • Kerusakan kandung kemih
  • Tidak bisa buang air kecil
  • Infeksi saluran kemih

Pencegahan Pembesaran Prostat Jinak

Sejauh ini belum ada cara yang benar-benar bisa dilakukan untuk mencegah pembesaran prostat jinak. Akan tetapi, Anda bisa mencegah agar kondisi ini tidak semakin memburuk. Cara-cara yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Olahraga secara teratur.
  • Menjaga berat badan.
  • Tidak minum terlalu banyak sebelum tidur.
  • Hindari menunda buang air kecil.

 

  1. Anonim. Benign Prostatic Hyperplasia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/benign-prostatic-hyperplasia/symptoms-causes/syc-20370087  (Diakses pada 6 Agustus 2020)
  2. Anonim. What is BPH? https://www.webmd.com/men/prostate-enlargement-bph/what-is-bph#1 (Diakses pada 6 Agustus 2020)
  3. Lights, V. 2012. What Do You Want to Know About Enlarged Prostate? https://www.healthline.com/health/enlarged-prostate#surgery (Diakses pada 6 Agustus 2020)
  4. NHS. Benign Prostate Enlargement. https://www.nhs.uk/conditions/prostate-enlargement/ (Diakses pada 6 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi