Terbit: 24 Maret 2021 | Diperbarui: 25 Maret 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Boraks adalah sebutan umum untuk menyebut zat kimia natrium tetraborat. Apa efeknya bagi tubuh jika Anda mengonsumsi makanan mengandung zat kimia yang sering digunakan dalam produk pembersih ini? Bagaimana ciri-ciri makanan yang mengandung boraks? Simak penjelasan lengkapnya.

Ciri Makanan yang Mengandung Boraks dan Efeknya bagi Tubuh

Berbagai Efek Samping Boraks pada Tubuh

Sebelum menjelaskan mengenai bahaya zat kimia yang merupakan turunan logam berat boron ini, perlu Anda ketahui bahwa bahan kimia ini sering digunakan sebagai bahan anti jamur, pengawet kayu, dan antiseptik pada kosmetik.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 1168/MENKES/PER/X/1999, boraks dinyatakan sebagai suatu bahan berbahaya dan dilarang untuk dipergunakan dalam proses pembuatan makanan.

Boraks di dalam tubuh akan diserap melalui sistem pencernaan, kemudian mengalir di darah, disimpan, dan terakumulasi di dalam organ. Beberapa efek negatif yang bisa terjadi pada tubuh, antara lain:

  • Iritasi kulit, mata, dan pernapasan.
  • Masalah pencernaan.
  • Infertilitas.
  • Gagal ginjal.
  • Syok.
  • Kematian.

Bahaya boraks lainnya adalah menyebabkan gangguan pada janin, gangguan pada sistem reproduksi, menyebabkan iritasi pada lambung, dan menimbulkan gangguan testis, hati, serta ginjal.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

Meskipun berasal dari mineral alami, bukan berarti zat kimia ini sepenuhnya aman. National Institutes of Health telah menemukan bahwa boraks telah dikaitkan dengan beberapa efek kesehatan yang merugikan, di antaranya:

Iritasi

Paparan zat kimia ini dapat mengiritasi kulit, mata, dan juga dapat mengiritasi tubuh jika terhirup. Beberapa orang dilaporkan mengalami luka bakar akibat paparan ke kulit. Tanda-tanda paparan zat kimia lainnya, antara lain:

  • Ruam kulit
  • Infeksi mulut.
  • Muntah.
  • Mual.
  • Masalah pernapasan

Masalah Hormon

Paparan tinggi terhadap boraks (dan asam borat) diyakini dapat mengganggu hormon tubuh, terutama dapat merusak sistem reproduksi pria, mengurangi jumlah sperma, dan menurunkan libido. Pada wanita, zat kimia ini dapat mengurangi ovulasi dan kesuburan.

Dalam sebuah penelitian, tikus yang diberi makan zat kimia ini mengalami atrofi pada testis atau organ reproduksinya. Pada hewan laboratorium yang bunting, paparan tingkat tinggi terhadap boraks ditemukan melewati batas plasenta, merusak perkembangan janin, dan menyebabkan berat lahir rendah.

Toksisitas

Zat kimia ini dengan cepat diurai oleh tubuh jika tertelan dan terhirup. Beberapa ahli mengaitkan paparan boraks (dari kosmetik) dengan kerusakan organ dan keracunan serius.

Kematian

Jika seorang anak menelan sedikitnya 5 sampai 10 gram boraks, mereka mungkin mengalami muntah-muntah hebat, diare, syok, hingga kematian. Anak-anak umumnya terpapar dari slime yang terbuat dari zat kimia ini dan penggunaan pestisida pada lantai. Sementara dosis fatal paparan untuk orang dewasa diperkirakan 10 sampai 25 gram.

Anak-anak harus menghindari kontak dengan boraks dan produk yang mengandung zat kimia ini karena memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami keracunan. Bahkan, 5 gram senyawa ini dapat berbahaya dan berpotensi fatal jika seorang anak menelannya

Ciri Makanan yang Mengandung Boraks

Meski zat kimia ini tidak dipergunakan untuk makanan, boraks pada makanan masih ditemui di beberapa daerah di Indonesia. Menambahkan zat kimia ini pada makanan bertujuan untuk membuat produk dengan tekstur yang kenyal, padat, tahan lama, dan menarik perhatian pembeli.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), penyalahgunaan senyawa ini sering ditemukan pada bakso, mi, kerupuk, dan empek-empek. Berikut ciri-ciri makanan yang mengandung boraks adalah:

  • Memiliki tekstur yang sangat kenyal.
  • Tidak mudah hancur atau sangat renyah.

Bakso yang mengandung zat kimia ini memiliki warna cenderung agak putih dengan tekstur yang kenyal. Sementara pada kerupuk dapat terlihat dari tekstur yang sangat renyah dan memiliki rasa pahit agak pedas.

Baca Juga: Keracunan Arsenik: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Proses Metabolisme Boraks di Dalam Tubuh

Zat kimia ini tidak dimetabolisme di dalam tubuh, hal ini disebabkan karena diperlukan energi yang besar (523kJ/Mol) untuk memecah ikatan antara oksigen dengan boron.

Sementara itu boraks dalam bentuk asam borat tidak terdisosiasi dan akan terdistribusi pada semua jaringan. Zat kimia ini akan diekskresikan >90% melalui urine dalam bentuk yang tidak dimetabolisme. Selain diekskresi melalui urine, zat kimia ini juga diekskresikan dalam jumlah yang minimal melalui saliva, keringat dan feses.

Pengaruh Boraks terhadap Kerusakan Hati

Mengonsumsi makanan yang mengandung zat kimia ini memang tidak secara langsung berakibat buruk terhadap kesehatan. Penumpukan zat kimia ini sedikit demi sedikit yang kemudian akan diserap tubuh secara kumulatif. Apabila Anda sering mengonsumsi makanan yang mengandung senyawa ini maka gangguan hati bisa terjadi.

Masuknya zat kimia ini secara terus menerus akan menyebabkan rusaknya membran sel hati, yang  kemudian diikuti kerusakan pada sel parenkim hepar. Hal ini terjadi karena gugus aktif boraks B-O-B (B=O) akan mengikat protein dan lipid tak jenuh, keadaan yang menyebabkan peroksidasi lipid.

Peroksidasi lipid dapat merusak permeabilitas sel karena membran sel kaya akan lipid. Dampak negatif lanjutannya adalah semua zat dapat keluar masuk ke dalam sel.

Hati memiliki peranan utama dalam metabolisme dan memiliki banyak fungsi dalam tubuh, termasuk penyimpanan glikogen, pemecahan sel darah merah, sintesis protein plasma, produksi hormon, dan detoksifikasi.

Toksisitas Boraks pada Tubuh

Zat kimia ini dan sejenisnya merupakan pestisida turunan elemen boron. Boron jarang sekali digunakan dalam bentuk tunggal, jenis-jenisnya ditemukan dengan bentuk kombinasi dengan elemen-elemen lain, umumnya dikombinasikan dengan asam borat atau boraks.

Perlu diketahui juga, zat kimia ini mempunyai beberapa keuntungan sebagai pestisida karena memiliki toksisitas yang rendah terhadap manusia daripada pestisida lainnya, dan lebih sedikit serangga yang resisten karenanya. Namun demikian boraks dan zat-zat kimia yang berhubungan dapat menyebabkan keracunan.

 

  1. Anonim. http://eprints.undip.ac.id/44112/3/NurjayaAdinugroho_G2A009136_bab2KTI.pdf. (Diakses pada 24 Maret 2021).
  2. Anonim. 2019. Apa itu Boraks?. https://www.pom.go.id/new/view/more/artikel/14/Apa-itu-Boraks-.html. (Diakses pada 24 Maret 2021).
  3. Erica Cirino. 2018. Is Borax Toxic?. https://www.healthline.com/health/is-borax-safe#safe-uses. (Diakses pada 24 Maret 2021).
  4. Fletcher, Jenna. 2019. Is borax safe to use?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324167#what-is-borax. (Diakses pada 24 Maret 2021).
  5. PW, Ni Putu Ayu Dewanthi, Arfi Syamsun, dan Eva Triani. Analisis Kualitatif Penggunaan Boraks pada Tahu di Pasar Tradisional se-kota Mataram. http://jku.unram.ac.id/article/view/203/144. (Diakses pada 24 Maret 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi