Penderita Kolesterol Tak Boleh Makan Telur, Apa Benar?

kuning-telur-putih-telur-doktersehat

DokterSehat.Com– Telur masih menjadi salah satu makanan yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tak hanya harganya yang cenderung terjangkau, telur juga memiliki rasa yang enak dan mudah diolah menjadi masakan yang lezat. Hanya saja, ada anggapan yang menyebut kebiasaan makan telur setiap hari bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan jantung. Apakah anggapan ini sesuai bagi fakta medis?

Manfaat makan telur

Telur dikenal sebagai sumber protein bagi kesehatan. Kandungan ini bisa dijadikan sumber energi selain karbohidrat dan lemak. Protein juga dibutuhkan tubuh untuk membentuk atau memperbaiki jaringan serta sel-sel tubuh. Hal ini berarti, tanpa adanya asupan protein, tubuh bisa jadi akan mengalami masalah kesehatan.

Tak banyak orang yang tahu jika telur ternyata juga memiliki kandungan antioksidan. Hal ini berarti, rutin mengonsumsinya bisa membantu tubuh melawan paparan buruk dari radikal bebas yang bisa memicu datangnya penyakit. Selain itu, telah ada penelitian yang membuktikan bahwa antioksidan dari telur mampu menurunkan risiko terkena katarak dan membuat mata menjadi semakin sehat.

Benarkah telur berbahaya bagi kesehatan jantung?

Banyak orang yang berpikir jika telur bisa menyebabkan penyakit jantung karena kuning telurnya memiliki kolesterol. Padahal, menurut pakar kesehatan, mengonsumsi kuning telur tidak akan memberikan dampak buruk bagi kadar kolesterol tubuh. Bahkan, penelitian membuktikan bahwa mengonsumsi telur secara rutin tidak akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit jantung atau stroke.

Bolehkah penderita kolesterol tinggi makan telur?

Pakar kesehatan menyebut penderita kolesterol tinggi masih boleh mengonsumsi telur. Hanya saja, porsi dan frekuensinya sebaiknya dikonsultasikan ke dokter karena kondisi penderita kolesterol yang berbeda-beda. Selain itu, telur sebaiknya tidak digoreng agar tidak mengalami pertambahan kadar kolesterol jahat.

Sebagaimana kita ketahui, makanan yang digoreng mengalami peningkatan kadar lemak trans dan lemak jenuh. Jika sampai masuk ke dalam tubuh, bisa memicu peningkatan kadar kolesterol dengan signifikan.

Selain itu, jika kita memiliki risiko terkena penyakit jantung, maka sebaiknya kita membatasi konsumsi telur sekitar satu butir saja setiap hari. Bahkan, jika risiko ini cukup tinggi, konsumsi telur bisa dibatasi hingga maksimal 3 butir saja dalam seminggu.

Apakah telur puyuh juga masih boleh dikonsumsi?

Di Indonesia, kita terbiasa mengonsumsi telur ayam dan telur puyuh. Selain dijadikan sate, telur puyuh juga bisa dijadikan campuran sayuran atau makanan tertentu. Berbeda dengan telur ayam, banyak orang yang takut dengan telur puyuh karena dianggap memiliki kadar kolesterol yang tinggi.

Telur puyuh memang memiliki kadar kolesterol sekitar dua kali lebih banyak jika dibandingkan dengan telur ayam untuk setiap gramnya, namun mengingat telur ayam memiliki ukuran yang lebih besar, kadar kolesterolnya juga cenderung lebih banyak. Sebagai contoh, jika kita mengonsumsi telur ayam, maka kita bisa mendapatkan hampir 115 mg kolesterol per butirnya.

Melihat fakta ini, telur puyuh juga masih aman untuk dikonsumsi. Hanya saja, pastikan untuk mengonsumsinya dengan porsi yang tepat dan tidak berlebihan demi mencegah kenaikan kadar kolesterol tubuh.

Cara memasak telur yang paling sehat

Pakar kesehatan menyebut telur rebus sebagai pengolahan telur yang paling baik bagi kesehatan. Kita bisa merebusnya bersama dengan cangkangnya atau mengupas cangkangnya terlebih dahulu. Cara memasak ini tidak akan membuat kadar kalori atau lemak jahat di dalam telur meningkat. Rasanya juga tidak kalah nikmat jika dibandingkan dengan telur goreng sehingga sangat direkomendasikan untuk dikonsumsi secara rutin.