Terbit: 23 September 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Paru-paru kita rentan terhadap sejumlah gangguan kesehatan, bisinosis salah satunya. Simak informasi lengkap mengenai penyakit paru-paru yang satu ini mulai dari gejala, penyebab, diagnosis, hingga pengobatan dan pencegahannya.

Bisinosis: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Bisinosis?

Bisinosis adalah penyakit paru-paru yang terjadi ketika seseorang menghirup partikel-partikel kecil yang berasal dari rami, kapas, dan flax. Itu sebabnya, gangguan medis yang satu ini sangat umum dialami oleh mereka yang bekerja di pabrik pengolahan kapas.

Masuknya partikel-partikel tersebut ke dalam paru-paru lantas akan menghasilkan reaksi yang tampak seperti gejala asma. Kondisi ini tentu harus segera ditangani karena dapat mengganggu aktivitas penderitanya.

Penyakit bisinosis juga memiliki sebutan lain, yaitu:

  • Brown lung disease
  • Cotton worker’s lung
  • Mill fever
  • Monday Fever

Ciri dan Gejala Bisinosis

Bisinosis ditandai oleh sejumlah gejala. Gejala tersebut biasanya akan langsung muncul begitu seseorang terpapar partikel-partikel yang menjadi penyebabnya. Ciri atau gejala yang dimaksud meliputi:

  • Sesak napas
  • Napas terengah-engah
  • Batuk

Pada perkembangannya, penderita juga kemungkinan akan mengalami gejala yang tampak menyerupai gejala flu, yaitu:

  • Demam
  • Batuk kering
  • Meriang
  • Nyeri otot
  • Nyeri sendi

Gejala-gejala tersebut biasanya hanya berlangsung selama beberapa waktu. Akan tetapi, ada kemungkinan dampak paparan partikel-partikel tersebut terhadap fungsi paru-paru bersifat permanen jika penderita terus terpapar partikel pemicunya.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala yang mengarah pada gangguan paru-paru ini. Penanganan medis sedini mungkin bertujuan untuk mengoptimalkan pengobatan, pun mencegah kondisi bertambah buruk yang mana bisa saja membahayakan diri.

Penyebab Bisinosis

Penyebab bisinosis adalah paparan bahan-bahan tekstil seperti kapas. Pada bahan-bahan tersebut, terdapat elemen biologis yang diklaim dapat memicu reaksi tubuh berupa reaksi alergi maupun reaksi-reaksi lainnya.

Elemen biologis yang dimaksud yakni endotoksin yang tidak lain berasal dari bakteri gram negatif. Bakteri jenis ini memang lumrah ditemui pada kapas dan bahan mentah tekstil lainnya. Akan tetapi, klaim bahwa endotoksin memicu terjadinya penyakit paru-paru yang satu ini sebenarnya masih ‘abu-abu’, dalam artian belum jelas dikarenakan belum adanya bukti ilmiah yang mencukupi.

Ditambah lagi, pada beberapa sektor pekerjaan lain yang juga bersinggungan dengan endotoksin tidak ditemukan adanya kasus bisinosis ini.

Faktor Risiko Bisinosis

Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami penyakit brown lung disease ini. Faktor-faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Bekerja di industri tekstil (pabrik pengolahan kapas)
  • Memiliki riwayat reaksi alergi
  • Memiliki riwayat asma
  • Merokok

Bicarakan dengan dokter mengenai langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan apabila Anda memiliki faktor-faktor risiko di atas guna meminimalisir risiko terkena penyakit gangguan paru-paru ini.

Diagnosis Bisinosis

Diagnosis bisinosis terbagi ke dalam 3 (tiga) tahapan pemeriksaan, yaitu:

  • Anamnesis
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan penunjang

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien guna menggali informasi mengenai riwayat medis dan juga aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh pasien. Pertanyaan yang diajukan meliputi:

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama mengalami gejala ini?
  • Apakah pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya? Jika ya, seberapa sering?
  • Pekerjaan atau aktivitas apa yang dilakukan sehari-hari?
  • Apakah merokok?
  • Apakah memiliki riwayat penyakit pernapasan lainnya?

Sampaikan informasi sejelas mungkin kepada dokter. Informasi yang jelas membantu dokter untuk dapat mengidentifikasi gejala yang dialami oleh Anda.

2. Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan paru-paru dengan menggunakan medium pencitraan (imaging) seperti rontgen atau bahkan CT scan.

Pemeriksaan fisik ini bertujuan untuk mengetahui kondisi paru-paru pasien. Biasanya, pemeriksaan fisik ini sudah cukup untuk memastikan apakah pasien menderita bisinosis atau tidak. Jika ya, dokter juga dapat menentukan seberapa parah dampak yang telah ditimbulkan oleh penyakit ini.

3. Pemeriksaan Penunjang

Selain pemeriksaan fisik, dokter juga mungkin merasa perlu untuk melakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud berupa peak flow meter yakni menganalisis kemampuan paru-paru dalam mengeluarkan udara.

Pemeriksaan ini nantinya dapat memberikan informasi kepada dokter mengenai kemungkinan waktu dan tempat pasien terpapar partikel pemicu bisinosis.

Pengobatan Bisinosis

Pengobatan bisinosis yang umum dilakukan adalah dengan memberikan bronkodilator pada pasien. Bronkodilator berfungsi untuk melebarkan saluran pernapasan yang mengalami penyempitan akibat penyakit ini.

Apabila kondisi ini sudah masuk dalam kategori parah, dokter juga akan memberikan obat kortikosteroid. Tujuan dari diberikannya obat kortikosteroid ini tidak lain untuk membantu meminimalisir peradangan pada paru-paru. Gunakan obat sesuai petunjuk dokter karena jika tidak, obat dapat memicu terjadinya infeksi jamur di mulut dan tenggorokan.

Sementara apabila pasien mengalami kekurangan oksigen, dokter akan memberikan nebulizer guna membantu pasien untuk bernapas dengan baik. Pasien juga biasanya diminta untuk melakukan terapi pernapasan guna mengembalikan fungsi paru-paru.

Tidak lupa, selama masa pengobatan, dokter akan meminta pasien untuk sementara waktu menghentikan segala aktivitas yang dapat memicu kembali penyakit ini. Apabila pasien memang bekerja di pabrik tekstil, maka sebaiknya hindari terlebih dahulu pekerjaan tersebut sampai waktu yang ditentukan oleh dokter.

Pencegahan Bisinosis

Penyakit ini tentu saja dapat dicegah. Beberapa hal yang bisa Anda terapkan untuk mencegah diri dari terkena penyakit ini adalah sebagai berikut:

  • Gunakan masker pelindung saat bekerja (jika bekerja di tempat yang berisiko).
  • Hindari kebiasaan merokok karena dapat meningkatkan risiko untuk mengalami kondisi ini.

Itu dia informasi mengenai bisinosis yang perlu Anda ketahui dan waspadai. Semoga bermanfaat!

 

  1. Anonim. Byssinosis. https://medlineplus.gov/ency/article/001089.htm#:~:text=To%20use%20the%20sharing%20features,or%20sisal%20while%20at%20work. (diakses pada 24 September 2020)
  2. Anonim. Byssinosis. https://www.britannica.com/science/byssinosis (diakses pada 24 September 2020)
  3. Wint, C. 2017. Byssinosis: Brown Lungs and What You Need to Know About Them
    https://www.healthline.com/health/byssinosis#:~:text=Byssinosis%20is%20a%20rare%20lung,a%20form%20of%20occupational%20asthma (diakses pada 24 September 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi