Terbit: 24 Agustus 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Biduran adalah reaksi pada kulit yang ditandai dengan ruam kemerahan menonjol dan sangat gatal. Kondisi ini bisa hilang dengan sendirinya, tetapi juga bisa berbahaya jika menyerang saluran pernapasan! Simak informasi selengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, pengobatan, dan lainnya di bawah ini.

Biduran: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Biduran?

Biduran atau dalam istilah medis disebut urtikaria adalah ruam kemerahan yang menonjol di kulit dan terasa gatal. Urtikaria memiliki ukuran bervariasi, dari yang kecil hingga besar seukuran piring makan. Benjolan kemerahan yang berukuran kecil dapat bergabung membentuk benjolan lebih luas yang dikenal sebagai plak.

Ruam yang juga disebut kaligata ini biasanya muncul disertai dengan rasa gatal yang hebat dan dapat pula disertai dengan sensasi menyengat atau seperti terbakar. Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba di mana pun pada kulit, termasuk di wajah, bibir, lidah, tenggorokan, telinga, atau bahkan pada saluran pernapasan.

Biduran yang disebabkan reaksi alergi ini biasanya akan hilang dalam beberapa menit hingga beberapa jam di satu tempat, tetapi bisa datang dan hilang selama berhari-hari atau berminggu-minggu, bahkan terkadang bertahan lebih lama.

Tanda dan Gejala Biduran

Ruam yang terkait dengan gatal-gatal bisa berupa:

  • Bentol kemerahan di kulit.
  • Gatal mulai dari yang ringan hingga intens.
  • Benjolan bulat, lonjong, atau berbentuk seperti cacing di kulit.
  • Bentol kemerahan berukuran seperti kacang polong atau sebesar piring makan.

Berdasarkan periode gejalanya, bentol kemerahan ini terbagi menjadi dua jenis, di antaranya:

  • Biduran akut biasanya muncul dengan cepat dan hilang dalam waktu 24 jam.
  • Biduran kronis yang tergolong jarang terjadi ini bisa berlangsung lebih lama, yakni selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Jenis yang jauh lebih jarang dikenal sebagai urtikaria vaskulitis, yang dapat menyebabkan pembuluh darah di dalam kulit meradang. Ruam dapat berlangsung lebih dari 24 jam, lebih menyakitkan, dan bisa meninggalkan memar.

Kapan Harus ke Dokter?

Biduran adalah kondisi yang dapat hilang dengan sendirinya. Namun, segera kunjungi dokter jika gejalanya tidak hilang dalam waktu 48 jam. Anda juga harus segera menghubungi dokter jika memiliki gejala berikut:

  • Gatal-gatal yang mengkhawatirkan pada anak.
  • Ruam menyebar di bagian tubuh lainnya.
  • Gatal-gatal muncul terus-menerus, kemungkinan alergi terhadap sesuatu.
  • Demam dan merasa tidak enak badan.
  • Pembengkakan di bawah kulit (mungkin angioedema).
  • Mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Ruam muncul bersamaan dengan gejala lainnya.

Penyebab Biduran

Biduran adalah kondisi yang terjadi sebagai respons dari zat kimia tubuh yang disebut histamin sehingga menyebabkan jaringan pada kulit membengkak. Histamin dan bahan kimia lainnya menyebabkan pembuluh darah membesar dan menjadi bocor sehingga cairan dari dalam darah bocor keluar dari pembuluh darah yang menyebabkan gatal-gatal dan bengkak.

Reaksi alergi, bahan kimia dalam makanan, sengatan serangga, paparan sinar matahari atau obat-obatan, semuanya juga bisa menyebabkan pelepasan histamin. Kadang-kadang sulit untuk mencari tahu apa penyebabnya.

Berikut adalah sejumlah penyebab biduran lainnya:

  • Makanan, termasuk kacang-kacangan, kerang, aditif makanan, telur, stroberi, alkohol, kafein, dan produk makanan berbahan gandum.
  • Obat-obatan, termasuk beberapa antibiotik dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti aspirin dan angiotensin-converting enzyme (ACE), yang digunakan untuk tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Infeksi, termasuk influenza, pilek, demam kelenjar, hepatitis B, dan infeksi virus.
  • Infeksi bakteri, termasuk infeksi saluran kemih dan radang tenggorokan.
  • Parasit usus.
  • Suhu ekstrem atau perubahan suhu.
  • Demam tinggi.
  • Bulu hewan peliharaan seperti anjing, kucing, kuda, dan sebagainya.
  • Gigitan dan sengatan serangga.
  • Tungau debu.
  • Kecoak dan kotorannya.
  • Getah dan serbuk sari.
  • Beberapa tanaman, termasuk jelatang, poison ivy, dan poison oak.
  • Penyakit kronis seperti penyakit tiroid atau lupus.
  • Goresan dan getaran yang berlebihan pada kulit.
  • Olahraga.
  • Stres.

Baca Juga: 12 Penyebab Mata Gatal dan Cara Mengatasinya Secara Alami

Faktor Risiko Biduran

Meskipun urtikaria biasanya dikaitkan dengan alergi terhadap makanan, serangga, obat-obatan, dan zat pengiritasi lainnya, urtikaria juga dapat memiliki penyebab non-alergi seperti penyakit autoimun, dan bahkan keracunan makanan. Kasus-kasus lain adalah idiopatik, artinya penyebab biduran tidak diketahui.

Urtikaria dapat mengenai siapa saja, namun lebih sering dijumpai pada penderita yang mempunyai riwayat alergi sebelumnya terutama pada anak-anak dan wanita berusia 30 sampai 60 tahun. Diperkirakan antara 15 persen hingga 23 persen orang dewasa akan mengalami setidaknya satu kali terkena urtikaria.

Diagnosis Biduran

Diagnosis untuk penyakit kulit ini akan tergantung pada jenisnya, yaitu yang akut dan kronis.

1. Biduran Akut

Dokter dapat mendiagnosis urtikaria akut dengan memeriksa ruam pada kulit. Penentuan penyebab biduran dapat membantu pasien mencegah kekambuhan di kemudian hari.

Selain itu, dokter mungkin akan menanyakan beberapa hal berikut:

  • Kapan dan di mana episode ruam dimulai.
  • Apakah telah digigit serangga.
  • Apakah pernah tinggal atau bekerja di tempat di mana pemicu potensial mungkin ada, seperti sarung tangan lateks, bahan kimia, atau hewan.
  • Obat apa pun yang telah diminum, termasuk suplemen herbal.
  • Riwayat kesehatan.
  • Riwayat keluarga yang memiliki biduran.

Sering kali pemicunya tidak jelas, tetapi jika tampaknya ada pemicu tertentu, dokter mungkin merujuk Anda ke klinik alergi. Klinik alergi dapat menguji darah dan kulit untuk mengetahui apakah ada alergi terhadap zat tertentu, termasuk bahan kimia, tungau debu, atau beberapa makanan.

2. Biduran Kronis

Jika urtikaria berlanjut selama lebih dari 6 minggu, pemicunya mungkin bukan dari luar, jadi para ahli tidak merekomendasikan tes alergi pada saat ini.

Beberapa tes dapat memeriksa kondisi kesehatan yang mendasarinya, termasuk:

  • Tes darah untuk memeriksa anemia.
  • Sampel tinja untuk mengidentifikasi parasit.
  • Tes laju sedimentasi eritrosit (ESR) untuk mengidentifikasi gangguan pada sistem kekebalan tubuh.
  • Tes fungsi tiroid untuk menilai tiroid yang terlalu aktif, yang dikenal sebagai hipertiroidisme atau hipotiroidisme, tiroid yang kurang aktif.
  • Tes fungsi hati, jika ada masalah pada hati.

Jenis Biduran pada Kulit

Terdapat beberapa jenis urtikaria pada kulit yang bermanfaat untuk membedakan biduran ringan hingga kronis, di antaranya:

1. Biduran Akut

Jenis pertama adalah ruam atau pembengkakan yang berlangsung kurang dari enam minggu. Penyebab dari jenis urtikaria ini paling umum adalah makanan, obat-obatan, lateks atau infeksi, juga disebabkan gigitan serangga.

Makanan yang paling sering menyebabkan gatal-gatal adalah kacang-kacangan, cokelat, ikan, tomat, telur, beberapa buah segar, kedelai, gandum, dan susu.

Zat aditif pada makanan tertentu dan pengawet juga dapat menjadi penyebab urtikaria. Obat-obatan yang dapat menyebabkan gatal-gatal termasuk aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) lainnya seperti ibuprofen.

Timbulnya urtikaria akut juga dapat dipicu oleh infeksi, perubahan suhu, olahraga, dan stres.

2. Biduran Kronis

Jenis ini muncul dengan ruam kemerahan atau bengkak yang berlangsung lebih dari enam minggu. Penyebab biduran kronis biasanya lebih sulit untuk diidentifikasi daripada jenis akut.

Penyebabnya bisa mirip dengan yang akut tetapi juga dapat mencakup autoimun seperti lupus dan rheumatoid arthritis, infeksi kronis, gangguan hormonal, dan keganasan.

3. Biduran Fisik

Urtikaria juga bisa disebabkan oleh stimulasi fisik langsung dari kulit, misalnya cuaca dingin, panas, paparan sinar matahari, getaran, tekanan, berkeringat, dan olahraga.

Jenis ini biasanya terjadi secara langsung pada area kulit yang terkena paparan dan tidak menyebar ke tempat lain. Sebagian besar gatal-gatal muncul dalam waktu satu jam setelah paparan.

4. Dermatographism

Jenis biduran ini terbentuk dengan tegas setelah tergores atau menggaruk kulit. Gatal-gatal juga dapat terjadi bersama dengan bentuk-bentuk lain.

5. Angioedema

Angioedema juga dapat terjadi pada kulit. Kondisi ini mirip dengan gatal-gatal, tetapi terjadi di lapisan kulit yang lebih dalam.

Baca Juga: Alergi Dingin: Penyebab, Gejala, Obat, Cara Mencegah, dll

Pengobatan Biduran

Dalam kebanyakan kasus, pengobatan rumahan adalah semua yang Anda butuhkan untuk mendapatkan bantuan. Berikut beberapa cara untuk menenangkan kulit yang gatal:

  • Kompres dingin. Menerapkan es yang dibungkus handuk pada kulit dapat membantu meredakan iritasi. Lakukan cara ini selama 10 menit dan ulangi sesuai kebutuhan.
  • Mandi dengan larutan antigatal. Terdapat beberapa produk yang bisa ditambahkan ke dalam bak mandi untuk menghilangkan rasa gatal. Cara mengatasi biduran ini termasuk oatmeal (oatmeal koloid untuk mandi) atau satu sampai dua genggam soda kue.
  • Hindari produk tertentu yang dapat mengiritasi kulit. Sabun tertentu bisa memicu kulit kering dan menyebabkan gatal-gatal lebih banyak. Pastikan untuk menggunakan sabun khusus kulit sensitif. Sabun ini biasanya tanpa wewangian dan bahan kimia yang mengiritasi lainnya.
  • Menghindari pelembap atau losion yang mengiritasi. Pilihlah pelembap atau losion yang khusus untuk kulit sensitif. Sebaiknya mengoleskan segera setelah mandi untuk membantu meredakan gatal.
  • Menjaga suhu ruangan tetap sejuk. Suhu panas bisa memperburuk rasa gatal di kulit. Untuk itu, gunakanlah pakaian yang ringan dan menjaga suhu ruangan tetap sejuk dan nyaman. Hindari pula duduk di bawah sinar matahari langsung.

Jika pengobatan alami di atas tidak efektif, dokter mungkin akan meresepkan obat biduran untuk meredakan gejala berdasarkan jenisnya.

1. Biduran Akut

Cara mengatasi biduran yang akut, termasuk antihistamin nonpenenang yang diminum secara teratur selama beberapa minggu. Beberapa golongan antihistamin seperti cetirizine atau fexofenadine, yang membantu menghentikan efek histamin dan mengurangi ruam serta menghentikan rasa gatal.

Beberapa obat biduran ini menyebabkan kantuk, terutama jika Anda juga mengonsumsi alkohol. Obat ini juga tidak cocok selama kehamilan kecuali jika diresepkan oleh dokter.

Jika mengalami pembengkakan pada lidah atau bibir, atau jika sulit bernapas, dokter mungkin dapat meresepkan injektor otomatis epinefrin, misalnya EpiPen yang diberikan dalam keadaan darurat.

2. Urtikaria Kronis

Jenis ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan jangka panjang dan terkadang menyebabkan komplikasi. Penggunaan obat biduran pun berbeda dengan yang akut.

Obat antibiotik seperti Dapone untuk mengurangi kemerahan dan bengkak di kulit. Sedangkan omalizumab atau Xolair, adalah obat suntik yang menghentikan imunoglobulin E, zat yang berperan dalam respons alergi. Cara mengatasi biduran ini dapat mengurangi gejala urtikaria idiopatik kronis, sejenis gatal-gatal yang tidak diketahui asalnya yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Baca Juga: Obat Biduran: 23 Pengobatan yang Alami dan Medis (Ampuh!)

Komplikasi Biduran

Sekitar seperempat orang penderita urtikaria akut dan setengah dari orang dengan urtikaria kronis juga mengembangkan angioedema. Urtikaria kronis juga dapat mengganggu dan berdampak negatif pada suasana hati (mood) dan kualitas hidup seseorang.

1. Angioedema

Angioedema adalah pembengkakan di lapisan dalam kulit. Kondisi ini biasanya parah dan disebabkan oleh penumpukan cairan. Gejalanya dapat memengaruhi bagian tubuh mana pun, tetapi biasanya memengaruhi bagian tubuh tertentu, termasuk mata, bibir, alat kelamin, tangan, dan kaki.

2. Dampak Emosional

Memiliki biduran dalam jangka panjang bisa menyulitkan penderitanya. Urtikaria kronis dapat memiliki dampak negatif yang cukup besar pada suasana hati dan kualitas hidup seseorang. Memiliki kulit yang gatal juga bisa sangat mengganggu.

Sebuah penelitian menemukan bahwa urtikaria kronis dapat berdampak negatif yang sama dengan penyakit jantung. Ditemukan juga bahwa 1 dari 7 orang penderita urtikaria kronis memiliki masalah psikologis atau emosional seperti stres, depresi, dan gelisah.

3. Anafilaksis

Biduran bisa menjadi salah satu gejala pertama dari reaksi alergi parah yang dikenal sebagai anafilaksis. Kondisi ini harus ditangani sebagai keadaan darurat medis. Gejala anafilaksis lainnya, termasuk:

  • Pembengkakan di mata, bibir, tangan dan kaki.
  • Merasa pusing atau pingsan.
  • Penyempitan saluran pernapasan yang menyebabkan sesak napas dan mengi.
  • Sakit perut, mual, dan muntah.
  • Kolaps dan hilang kesadaran.

Pencegahan Biduran

Guna mengurangi kemungkinan mengalami gatal-gatal atau angioedema, lakukan tindakan pencegahan berikut ini:

  • Hindari pemicu yang diketahui. Jika Anda tahu apa yang memicu gatal-gatal pada kulit, cobalah untuk menghindari zat itu.
  • Mandi dan mengganti pakaian. Jika serbuk sari atau kontak hewan telah memicu gatal-gatal sebelumnya, sesegera mungkin mandi dan mengganti pakaian jika terpapar alergen tersebut.
  • Suntikan alergi. Obat biduran ini adalah pilihan lain yang dapat membantu untuk mengurangi risiko mengalami gatal-gatal kembali.

 

  1. Anonim. 2020. Urticaria (hives). https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/skin-hair-and-nails/urticaria-hives. (Diakses pada 24 Agustus 2020)
  2. Anonim. 2020. Hives and Your Skin. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/hives-urticaria-angioedema#1. (Diakses pada 24 Agustus 2020)
  3. Brazier, Yvette. 2017. What are hives (urticaria)?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/157260#diagnosis. (Diakses pada 24 Agustus 2020)
  4. Healthline Editorial Team. 2012. Hives. https://www.healthline.com/health/hives#treatment. (Diakses pada 24 Agustus 2020)
  5. Mayo Clinic Staff. 2019. Hives and angioedema. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hives-and-angioedema/symptoms-causes/syc-20354908. (Diakses pada 24 Agustus 2020)
  6. Silver, Natalie. 2019. 15 Ways to Get Rid of Hives. https://www.healthline.com/health/skin-disorders/how-to-get-rid-of-hives#home-remedies. (Diakses pada 24 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi