DokterSehat.Com– Mom, berbohong memang bukan hal yang baik dilakukan termasuk pada anak-anak. Namun kadang orang tua tidak punya pilihan lain selain harus berbohong pada si kecil. Sebenarnya, bolehkah orang tua berbohong pada anak dan apa dampaknya bagi anak?

bohong-pada-anak

Penyebab orang tua berbohong pada anak

Ada beberapa situasi yang menyebabkan orang tua berbohong pada anak. Umumnya, hal ini dilakukan orang tua untuk melindungi perasaan anak agar ia tidak kecewa atau sedih. Kebohongan jenis ini termasuk jenis white lies atau kebohongan yang dimaksudkan untuk tujuan baik.

Salah satu kebohongan yang paling sering dilakukan orang tua adalah ketika ayah dan ibu berangkat kerja, ayah dan ibu sering mengatakan “Ayah cuma pergi sebentar kok, nanti pulang waktu adik sudah selesai mandi sore”, “Ibu keluar sebentar ya, adik di rumah dulu sama Eyang”.

Jika tidak berkata demikian, anak mungkin saja menghalangi ayah dan ibu untuk pergi bekerja. Padahal ayah dan ibu meiliki tanggung jawab di kantor yang harus diselesaikan. Meskipun anak belum memahami dengan baik omongan orang tua, namun anak tetap merasa bahwa ia menunggu lama hingga ayah dan ibunya kembali.

Efek dari orang tua yang sering berbohong pada anak

Meskipun tujuannya baik, namun orang tua perlu mempertimbangkan akibatnya pada anak. Sering berbohong pada anak dapat menyebabkan nalar anak kurang berkembang dan dapat membuat anak bingung. Selain itu kebohongan orang tua sering menimbulkan tanda tanya dan rasa tidak nyaman pada anak.

Yang juga perlu diwaspadai, sering berbohong pada anak dapat membuat anak meniru apa yang dicontohkan oleh orang tuanya. Anda tentu tidak mau si kecil tumbuh menjadi pembohong cilik kan?

Bagaimana menghindari berbohong pada anak?

Memang tidak mudah untuk menghindari berbohong pada anak. Namun sebaiknya Anda mulai mencobanya dari sekarang. Cobalah untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada anak meskipun hal tersebut adalah hal yang pahit atau menyakitkan. Gunakan kata-kata halus yang dapat diterima anak.

Anak mungkin akan bereaksi marah, sedih, atau kecewa, namun di masa depan, Anda tidak perlu menutupi kebohongan ini dengan kebohongan yang lain dan anak tidak akan merasa dibohongi.

Misalnya, jika ayah ingin berangkat bekerja, Anda bisa mengatakan “Ayah mau berangkat kerja dulu, biar nanti bisa belikan mainan untuk adik”, “Ibu pergi kerja dulu ya, supaya ibu bisa belikan popok dan baju-baju cantik untuk adik.”

Membiasakan diri berkata jujur pada anak-anak akan membuat anak lebih mudah menghadapi situasi sulit di masa depan. Selain itu anak juga akan merasa percaya pada orang tuanya.