Mana Yang Lebih Berbahaya, Lemak Jenuh Atau Lemak Trans?

doktersehat-lemak-jenuh-dan-trans
Photo Credit: Flickr.com/Joe Loong

DokterSehat.Com– Anda tentu sudah tak asing lagi dengan dua jenis ini yaitu lemak jenuh dan lemak trans. Kedua jenis lemak ini kerap disebut sebagai jenis lemak yang berbahaya. Namun diantara keduanya, mana sih yang paling banyak memberikan kerugian bagi kesehatan?

Sebelum membahas mana yang lebih berbahaya, maka tentu ada baiknya kita mengetahui apa perbedaan lemak jenuh dan lemak trans.

Lemak jenuh ada pada bahan makanan secara alami

Lemak jenuh akan kita peroleh dari konsumsi bahan makanan alami, yaitu daging merah, daging unggas atau seafood.

Kandungan lemak jenuh juga cukup tinggi pada beberapa jenis minyak yang digunakan untuk menggoreng berulang atau minyak dari pangan hewani misalnya mentega.

Lemak trans terbentuk dari proses pengemasan makanan serta secara alami dalam tubuh

Lemak trans adalah perubahan bentuk lemak yang sebelumnya cair menjadi padat akibat adanya proses hidrogenasi proses pangan, utamanya makanan kemasan. Namun hal ini bisa pula terbentuk secara alami saat lemak telah berada dalam pencernaan tubuh.

Lalu, dari kedua perbedaan di atas, mana jenis lemak yang lebih berbahaya?

Baik lemak jenuh dan lemak trans memiliki risiko bagi kesehatan, apalagi jika konsumsinya berlebihan.

Beberapa studi telah menunjukkan bahwa konsumsi lemak jenuh dan lemak trans sama-sama berkontribusi terhadap peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh.

Bahaya utama konsumsi lemak jenuh berlebihan adalah peningkatan kadar kolesterol jahat atau LDL akan semakin tinggi. Namun konsumsi lemak jenuh juga telah dapat meningkatkan kadar kolesterol baik atau HDL dalam tubuh.

Lain dengan lemak jenuh, pada lemak trans, tidak hanya kadar kolesterol jahat semakin meningkat namun juga menyebabkan kadar kolesterol baik menurun. Hal ini yang menyebabkan konsumsi lemak trans harus benar-benar dibatasi.

Untuk itu, selalu batasi konsumsi berbagai jenis lemak, baik lemak pada makanan yang digoreng maupun makanan kemasan maksimal lima porsi dalam satu hari, ya.