Terbit: 20 Agustus 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Anda tentu sering mendengar bahwa sebagian besar orang mengganggap jika makan nasi adalah hal yang seakan membahayakan.

Benarkah Mengurangi Makan Nasi Membuat Tubuh Lebih Sehat?

Nasi erat kaitannya dengan berbagai kondisi yang berdampak negatif, mulai dari kegemukan, obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular lainnya.

Kondisi ini tentu wajar jika membuat sebagian besar orang mengganggap bahwa dengan mengurangi makan nasi, atau bahkan tidak mengonsumsi nasi sama sekali, dapat secara otomatis membuat tubuh jadi lebih sehat.

Kira-kira, benarkah demikian?

Alasan nasi dianggap menjadi bahan makanan yang harus dikurangi porsinya

doktersehat-nasi-putihSeperti yang kita tahu, nasi merupakan makanan pokok di Indonesia. Hal ini membuat nasi menjadi salah satu hasil pertanian yang paling banyak di produksi di Indonesia.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

Ketersediaan nasi di Indonesia juga sangat besar, kondisi ini tentu secara otomatis membuat kita memilih nasi sebagai makanan pokok utama sehari-hari.

Nasi dikonsumsi dalam jumlah besar
Nasi, sebagai makanan berkarbohidrat, tentu sangat umum dikonsumsi dalam jumlah yang besar. Hal ini wajar mengingat bahwa kebutuhan karbohidrat harian orang dewasa cukup besar untuk memenuhi kebutuhan energi dasar tubuh.

Kandungan indeks glikemik yang tinggi
Sayangnya konsumsi nasi dalam porsi yang besar, bahkan cenderung berlebihan dari kebutuhan, bisa berbahaya, karena nasi memiliki nilai indeks glikemik yang tinggi. Hal ini bisa meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh dengan cepat.

Kandungan serat yang rendah
Selain indeks glikemik yang tinggi, nasi juga memiliki kandungan serat yang rendah jika dibandingkan dengan makanan berkarboihdrat lainnya. Kondisi ini berpengaruh pada asupan serat harian yang bisa jadi kurang tercukupi.

Nasi dikonsumsi rutin sebanyak 2-3 kali sehari
Dari ketiga hal di atas, hal yang paling berbahaya dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit akibat konsumsi nasi, adalah nasi dikonsumsi rutin dan sebanyak 2-3 kali sehari.

Hal ini bisa jadi dilakukan banyak orang dalam jangka waktu yang panjang dan telah menjadi kebiasaan, sehingga dampak negatif dari konsumsi nasi bisa saja mengintai.

Lantas, benarkah mengurangi konsumsi nasi bisa membuat tubuh menjadi lebih sehat

nasi-putih-doktersehat

Photo Credit: flickr/ Quinn Dombrowski

Mengurangi makan nasi, atau tidak makan nasi sama sekali, biasanya dipilih sebagai jalan keluar untuk mengurangi dampak akibat kebiasaan konsumsi nasi.

Mengurangi kebiasaan konsumsi nasi memang akan memberikan beberapa manfaat yaitu:

  • Menekan indeks glikemik yang tinggi dalam tubuh, sehingga risiko diabetes dan penyakit kardiovaskular bisa berkurang.
  • Jika dilakukan dengan cara yang tepat, maka asupan gizi bisa lebih beragam dan asupan serat dapat terpenuhi

Hal tersebut, baru dapat terpenuhi jika mengurangi makan nasi dilakukan dengan cara yang tepat yaitu:

1. Memilih jenis makanan pengganti yang tepat dan lebih sehat

Mengganti nasi dengan makanan berkarbohidrat rendah indeks glikemik dan tinggi serat, misalnya nasi merah, umbi-umbian, oat, roti gandum.

2. Mencukup kebutuhan karbohidrat dengan tepat

Makanan pengganti nasi harus dikonsumsi dalam porsi yang tepat, agar kebutuhan karbohidrat tetap terpenuhi.

3. Tetap memvariasikan jenis makanan pengganti

Agar konsumsi suatu jenis makanan tidak menjadi kebiasaan yang lama kelamaan bisa memberikan dampak buruk.

Jika tidak dilakukan dengan 3 cara di atas

Maka hanya mengurangi atau tidak makan nasi sama sema sekali, justru akan menyebabkan:

1. Tubuh kekurangan gizi, ingat bahwa karbohidrat merupakan kebutuhan gizi makro terbesar untuk suplai energi tubuh.
2. Asupan gizi tubuh tidak seimbang, kondisi ini dalam jangka panjang akan mengganggu metabolisme zat gizi lain dan mengganggu fungsi sietem dan organ tubuh.

Jadi, mengurangi makan nasi harus dilakukan dengan cara yang tepat, agar kita bisa merasakan manfaat sehatnya dengan maksimal, ya.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi