Terbit: 20 April 2021 | Diperbarui: 21 April 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Aspartam adalah pemanis buatan yang sering kali digunakan sebagai pengganti gula pada makanan dan minuman rendah kalori. Simak penjelasan lengkap mengenai efek samping hingga fungsi aspartam lainnya.

Mengenali Fungsi Aspartam dan Efek Sampingnya bagi Tubuh

Apa Itu Aspartam?

Aspartam adalah pemanis buatan yang terbuat dari asam amino alami yaitu aspartic acid and phenylalanine. Aspartic acid diproduksi oleh tubuh, sementara phenylalanine adalah asam amino esensial yang bisa Anda dapatkan dari makanan.

Pemanis buatan ini kira-kira 200 kali lebih manis daripada gula, hal itu membuat penggunaanya sangat sedikit. Pada makanan atau minuman siap saji, zat kimia pengganti gula ini sering dicampur dengan pemanis atau komponen makanan lainnya untuk meminimalkan rasa pahit dan meningkatkan rasa secara keseluruhan.

Seberapa Aman Penggunaan Aspartam?

Sejumlah organisasi kesehatan telah mempertimbangkan dengan baik penggunaan pemanis buatan ini. Aspartam telah mendapat persetujuan dari:

  • Food and Drug Administration (FDA).
  • United Nations Food and Agriculture Organization.
  • World Health Organization.
  • American Heart Association.
  • American Dietetic Association.

Senada dengan hal di atas, European Food Safety Authority (EFSA) telah melakukan tinjauan terhadap ratusan studi terkait aspartam. Hasilnya, tidak ditemukan alasan untuk menghilangkan pemanis buatan ini dari pasaran.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

Selain itu, EFSA mengatur batasan konsumsi pemanis buatan ini 40 mg/kilogram berat badan. Sedangkan menurut FDA adalah 50 mg/kilogram berat badan. Sebagai acuan, sekaleng soda diet mengandung sekitar 190 mg aspartam.

Produk-Produk yang Mengandung Aspartam

Penting untuk diketahui, meski banyak makanan dan minuman berlabel ‘bebas gula’ namun bisa saja mengandung pemanis buatan. Berikut ini adalah beberapa kemungkinan makanan dan minuman yang mengandung aspartam adalah:

  • Soda diet.
  • Permen karet.
  • Permen bebas gula.
  • Es krim bebas gula.
  • Yoghurt rendah kalori.
  • Jus buah rendah kalori.

Selain itu, beberapa obat pencahar dan suplemen vitamin yang dapat dikunyah juga menggunakan pemanis buatan ini dalam proses pembuatannya.

Pemanis Alternatif Selain Aspartam

Bagi Anda yang ingin membatasi asupan pemanis buatan ini, sepertinya Anda dapat mencoba pemanis alternatif lain, antara lain:

  • Madu.
  • Sirop maple.
  • Sirop agave.
  • Daun stevia.
  • Molase.

Meski beberapa pilihan di atas dapat menjadi alternatif, Anda harus mengonsumsinya dalam jumlah yang wajar.

Baca Juga: 11 Pengganti Gula yang Lebih Sehat, Pernah Coba?

Efek Samping Aspartam

Meski pemanis buatan ini penggunaannya aman pada berbagai produk makanan dan minuman, produk ini juga memiliki efek negatif, di antaranya:

Meningkatkan Berat Badan

Meski pemanis buatan ini memiliki kandungan kalori yang rendah, namun jika Anda mengonsumsinya secara rutin hal tersebut bisa meningkatkan lingkar pinggang dan berat badan. Bahkan, sebuah studi mengungkapkan seseorang yang mengonsumsinya secara teratur memiliki risiko lebih besar terkena penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Meningkatkan Nafsu Makan

Salah satu cara aspartam dan pemanis non-nutritif lainnya dapat memengaruhi berat badan adalah dengan meningkatkan nafsu makan. Sebuah studi yang dilakukan pada hewan mengungkapkan, asupan pemanis non nutritif secara teratur terkait dengan peningkatan asupan makanan.

Pemanis buatan dapat meningkatkan nafsu makan dengan mengganggu proses pensinyalan yang biasanya terjadi ketika seseorang makan dengan jumlah kalori yang tinggi. Gangguan ini membuat tubuh tidak mampu membaca sinyal untuk berhenti makan ketika kenyang.

Jika keadaan ini terjadi secara teratur, tubuh akan melupakan hubungan antara rasa manis dan kalori. Pembalikan ini berarti makanan berkalori tinggi tidak lagi memicu perasaan kenyang. Hal ini membuat seseorang makan secara berlebihan.

Penelitian lebih lanjut pada partisipan manusia mungkin mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara konsumsi aspartam dan pengendalian nafsu makan.

Mengganggu Proses Metabolisme

Sebuah studi mengungkapkan, konsumsi pemanis buatan secara teratur dan jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan dan keragaman bakteri yang hidup di dalam usus.

Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa gangguan jenis ini dapat menyebabkan intoleransi glukosa, yang merupakan faktor risiko diabetes tipe 2.

Para peneliti menemukan hubungan antara penggunaan aspartam dan intoleransi glukosa yang lebih besar di antara mereka yang mengalami obesitas. Namun, tidak satupun gula dan pemanis buatan yang diuji memiliki efek negatif pada orang dengan berat badan sehat.

Risiko Lainnya

Berikut ini adalah beberapa risiko yang belum dapat dikonfirmasi atau disangkal terkait dengan keterlibatan aspartam, antara lain:

  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Kejang.
  • Depresi.
  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
  • Penyakit Alzheimer.
  • Multiple sclerosis.
  • Kanker.
  • Lupus.
  • Cacat bawaan.

Siapa saja yang Seharusnya Menghindari Aspartam?

Seseorang dengan kondisi berikut harus menghindari pemanis buatan ini, antara lain:

  • Fenilketonuria

Fenilketonuria (PKU) adalah kelainan metabolisme bawaan yang meningkatkan kadar asam amino esensial bernama phenylalanine dalam darah.

Karena penderita PKU tidak dapat memetabolisme phenylalanine dengan baik, ia harus menghindari atau membatasi asupannya dari makanan dan minuman.

Phenylalanine adalah salah satu dari tiga senyawa yang menyusun aspartam. Namun, pemanis buatan ini memberikan jumlah yang jauh lebih rendah daripada sumber makanan sehari-hari, seperti daging, ikan, telur, dan produk olahan susu

  • Tardive Dyskinesia

Tardive dyskinesia (TD) adalah kelainan neurologis yang menyebabkan gerakan menyentak wajah dan tubuh secara tiba-tiba dan tidak terkendali. Keadaan ini paling sering terjadi akibat penggunaan obat antipsikotik jangka panjang.

Beberapa penelitian tentang penyebab TD menunjukkan phenylalanine dapat memicu gerakan otot yang menjadi ciri tardive dyskinesia.

Selain dua kondisi seperti di atas, seseorang yang sedang mengonsumsi obat untuk skizofrenia juga harus menghindari pemanis buatan ini.

Kesimpulan

Meski penggunaan pemanis buatan ini masih kontroversial, keamanannya telah diakui oleh banyak otoritas kesehatan internasional.

Memilih makanan dan minuman  dengan pemanis rendah kalori seperti aspartam adalah salah satu cara untuk mengurangi konsumsi gula tambahan dan menjaga kalori tetap terkendali.

 

  1. Anonim. 2018. The Truth About Aspartame Side Effects. https://www.healthline.com/health/aspartame-side-effects. (Diakses pada 20 April 2021).
  2. Anonim. 2020. Everything You Need to Know About Aspartame. https://foodinsight.org/everything-you-need-to-know-about-aspartame/. (Diakses pada 20 April 2021).
  3. Lillis, Charlotte. 2018. What are the side effects of aspartame?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322266. (Diakses pada 20 April 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi