Terbit: 17 Maret 2021
Ditulis oleh: dr. Monica Djaja Saputera | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Bell’s palsy adalah suatu penyakit saraf yang dapat menyebabkan kelumpuhan di satu sisi wajah. Ketahui selengkapnya tentang penyakit ini mulai dari gejala, penyebab, hingga pengobatannya berikut ini!

Bell’s Palsy: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

Apa Itu Bell’s Palsy?

Bell’s palsy atau paralisis fasialis idiopatik adalah suatu penyakit saraf yang ditandai dengan adanya kelumpuhan pada 1 sisi area wajah yang terjadi tiba-tiba, yang terjadi akut, unilateral, dan sering melibatkan saraf kranialis ke-7. Kondisi ini dapat terjadi pada segala usia dan dapat sembuh sempurna dalam beberapa waktu.

Gejala Bell’s Palsy

Gejala umumnya terjadi secara tiba-tiba dan mencapai puncak dalam 48 jam dan mulai mengalami perbaikan dalam 2 minggu. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk mencapai pemulihan total dapat mencapai waktu 3 sampai 6 bulan.

Tanda dan gejala paralisis fasialis idiopatik adalah:

  • Kelumpuhan 1 sisi area wajah yang terjadi mendadak dalam beberapa jam atau hari, yang ditandai dengan adanya tonus otot wajah yang tidak simetris, sudut bibir yang tidak simetris saat tersenyum, sisi dahi yang datar, serta tinggi alis yang berbeda satu sama lain.
  • Keluarnya air liur dari mulut.
  • Nyeri pada mata.
  • Keluarnya air mata yang berlebihan.
  • Ketidakmampuan menutup mata secara rapat yang dapat menyebabkan mata kering.
  • Gangguan penglihatan berupa penglihatan yang kabur.
  • Nyeri pada area telinga dan mastoid.
  • Hiperakusis atau hipersensitivitas suara.
  • Gangguan dalam mengecap.

Baca Juga: Kelumpuhan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan

Penyebab Bell’s Palsy

Hingga saat ini penyebab bell’s palsy secara pasti belum diketahui dengan jelas. Beberapa teori menyebutkan bahwa penyakit ini terjadi akibat adanya pembengkakan dan reaksi inflamasi atau peradangan pada saraf kranialis ke-7 yang mempengaruhi otot di area wajah.

Beberapa keadaan yang dianggap berpengaruh terhadap kondisi tersebut adalah:

  • Riwayat infeksi virus sebelumnya, seperti herpes simpleks, herpes zoster, rubella atau campak jerman, mumps atau gondongan, flu, hand-foot-mouth disease, dll.
  • Proses inflamasi atau peradangan.
  • Autoimun.
  • Keadaan iskemik lainnya, misal stroke.

Faktor Risiko Bell’s Palsy

Bell’s palsy dapat terjadi pada semua orang tanpa melihat usia. Namun, beberapa kelompok tertentu yang memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit ini adalah:

  • Usia dewasa.
  • Wanita hamil, terutama pada trimester ke-3 atau 1 minggu setelah melahirkan.
  • Sedang mengalami infeksi saluran napas atas.
  • Memiliki riwayat penyakit komorbid, seperti diabetes, hipertensi, dll.

Diagnosis Bell’s Palsy

Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan setelah melakukan eksklusi terhadap penyakit saraf lain. Gambaran klinis bell’s palsy yang dapat digunakan untuk membantu membedakan diagnosis penyakit ini dengan penyakit saraf lain adalah:

  • Kelumpuhan 1 sisi area wajah yang terjadi mendadak.
  • Tidak ada tanda dan gejala penyakit saraf lainnya.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengeksklusi penyakit saraf lainnya adalah:

  • Elektromiografi. Pemeriksaan untuk melihat adanya kerusakan saraf dengan menilai aktivitas listrik terhadap stimulasi yang diberikan pada otot tertentu.
  • MRI atau CT-scan. Pemeriksaan untuk melihat kemungkinan penyebab adanya penekanan saraf kranial, seperti tumor.
  • Laboratorium. Pemeriksaan seperti darah rutin, gula darah, serta ureum dan kreatinin dapat dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya penyakit diabetes.

Pengobatan Bell’s Palsy

Pengobatan penyakit ini bertujuan untuk memperbaiki fungsi saraf kranial ke-7. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam pengobatan bells palsy adalah:

1. Farmakologis

Obat-obatan yang biasa digunakan untuk mengobati bell’s palsy adalah:

  • Steroid, bertujuan untuk mengurangi proses inflamasi atau peradangan.
  • Antivirus.
  • Analgetik, bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri.
  • Air mata artifisial atau buatan, bertujuan untuk mencegah mata kering.

2. Nonfarmakologis

Fisiologi dan akupuntur dapat dilakukan untuk menstimulasi saraf kranialis.

Pencegahan

Hingga saat ini belum ada cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit ini. Hal ini disebabkan karena penyebab bell’s palsy yang belum dapat diketahui secara pasti.

Komplikasi

Paralisis fasialis idiopatik umumnya dapat membaik dalam jangka waktu tertentu dan jarang menimbulkan komplikasi. Namun pada beberapa kasus, komplikasi dapat terjadi apabila perawatan pada mata tidak dilakukan dengan baik.

 

  1. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. (2016). Panduan Praktik Klinis Neurologi. Indonesia: PP Perdossi; 116-121.
  2. John Hopkins Medicine. Bells Palsy. (Online). Available at: http//www.hopkinsmedicine.org/ (Updated March 01)
  3. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Bells Palsy Fact Sheet. (Online). Available at: http//www.ninds.nih.gov/  (Updated March 01).
  4. National Health Service. (2020). Bells Palsy. (Online). Available at: http//www.nhs.uk/ (Updated March 01).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi