Kasihan, Baru Dilahirkan, Bocah Ini Menjalani Kemoterapi

doktersehat_annaleise_leukemia
Photo Source: Fox News/Brandy Sisneros

DokterSehat.Com– Hanya 14 hari setelah dilahirkan, Annaleise Sisneros harus menjalani kemoterapi karena mengidap kanker yang terbentuk selama berada di dalam kandungan. Gadis kecil ini pun harus merelakan rambutnya rontok akibat terapi ini.

Dilansir dari Fox News, bayi yang kini berusia 9 bulan ini didiagnosis terkena acute myeloid leukemia, kanker darah langka yang bisa menyerang anak-anak pada Agustus 2017 lalu. Awalnya, dokter berpikir jika ruam-ruam kemerahan pada kulitnya adalah alergi, namun, hasil tes darah justru menunjukkan bahwa Anneleise ternyata mengidap kanker ganas ini.

Sang ibu, Brandy Sisneros, berkata bahwa ruam-ruam kemerahan ini sudah muncul sejak Annaleise dilahirkan. Hal ini berarti, besar kemungkinan kanker ini terbentuk tatkala sang bayi masih di dalam kandungan. Brandy pun mengaku merasa bersalah saat melihat buah hatinya menderita.

“Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku bahkan terus mencari tahu obat atau bahan kimia apa yang kukonsumsi saat hamil dan bisa memicu datangnya kanker ini pada Annaleise,” ucap Brandy sedih.

Lima hari setelah dilahirkan, bintik-bintik dan ruam kemerahan pada tubuh Annaleise semakin bertambah. Sang bayi pun kemudian dilarikan ke Presbyterian Hospital di Alburquerque, New Mexico, Amerika Serikat. Disanalah Annaleise didiagnosis terkena leukemia.

Beberapa hari kemudian, bayi mungil ini mendapatkan kemoterapi dan transfusi darah selama 10 hari. Sayangnya, di hari ke-8, kondisinya menurun drastis. Dokter pun kemudian berjuang keras untuk menyelamatkan nyawanya.

Beberapa minggu kemudian, kondisi Annaleise mulai pulih dan ia pun kembali menjalani kemoterapi dosis tinggi. Pada Oktober 2017, kondisinya pun semakin membaik dan diperbolehkan untuk pulang.

Sempat merasa sangat khawatir dengan keselamatan sang bayi dan kasihan saat melihat penderitaannya menjalani kemoterapi, kini orang tua Annaleise merasa jauh lebih lega saat melihat kondisinya.