Terbit: 24 Desember 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Sudah menjadi rahasia umum jika gorengan adalah camilan yang paling digemari di Indonesia. Di musim hujan seperti sekarang ini, gorengan hangat bahkan akan terasa jauh lebih nikmat untuk dikonsumsi. Hanya saja, jika dicermati, kita seperti merasakan sensasi tidak nyaman dan gatal-gatal pada tenggorokan setelah makan gorengan. Apa penyebab dari hal ini?

Batuk Setelah Makan Gorengan, Ternyata Ini Penyebabnya

Penyebab Batuk Setelah Makan Gorengan

Pakar kesehatan menyebut batuk setelah makan gorengan sebagai hal yang wajar terjadi. Apalagi jika kita mengonsumsi gorengan yang diolah dengan menggunakan minyak jelantah atau minyak yang sudah dipakai berkali-kali untuk menggoreng hingga warnanya kehitaman. Masalahnya adalah banyak penjual gorengan yang menggunakan minyak ini demi menghemat biaya produksi.

Tanpa disadari, penggunaan minyak jelantah untuk mengolah gorengan ini membuat minyak ini memiliki kandungan akrolein, sejenis senyawa yang bisa menyebabkan peradangan pada tenggorokan. Tak harus mengonsumsi gorengan dalam jumlah yang banyak. Mengonsumsinya satu buah saja sudah bisa menyebabkan sensasi gatal pada tenggorokan.

Sebagaimana kita ketahui, batuk adalah refleks alami yang dikeluarkan oleh sistem pernapasan jika ada benda asing yang masuk seperti kotoran, debu, lendir, bakteri, dan lain-lain. Hal ini juga akan dilakukan oleh sistem pernapasan begitu merasakan adanya senyawa akrolein yang berasal dari gorengan yang kita konsumsi.

Bisa Jadi Terkait dengan Kenaikan Asam Lambung

Tak hanya disebabkan oleh senyawa akrolein, pakar kesehatan menyebut ada hal lain yang bisa menyebabkan batuk-batuk saat makan gorengan, yakni kenaikan asam lambung. Hal ini disebabkan oleh kandungan lemak di dalam gorengan yang sangat tinggi dan bisa merangsang produksi asam lambung.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement

Jika sampai asam lambung ini mencapai kerongkongan bagian atas atau bahkan pangkal mulut, maka akan menyebabkan peradangan di bagian tersebut dan akhirnya memicu refleks batuk-batuk.

Bagi mereka yang mengalami riwayat penyakit asam lambung tinggi atau GERD, makan gorengan bahkan bisa membuat saluran pernapasan menyempit. Gejala dari masalah kesehatan tersebut bisa berupa batuk-batuk dan mengi.

Berbagai Efek dari Kebiasaan Makan Gorengan

Pakar kesehatan menyebut ada beberapa dampak kesehatan yang bisa didapatkan jika kita terbiasa makan gorengan. Berikut adalah dampak-dampak tersebut.

  1. Mengantuk

Dampak pertama yang akan didapatkan jika kita makan gorengan dalam jumlah yang banyak adalah tubuh yang lemas dan mengantuk. Hal ini disebabkan oleh konsumsi lemak berlebihan yang akhirnya membebani kinerja saluran pencernaan dan memperlambat laju metabolisme. Tubuh pun akan mencurahkan energinya jauh lebih banyak ke saluran pencernaan dan akhirnya membuat otak kekurangan asupan oksigen dan mengantuk.

  1. Gangguan Pencernaan

Tak hanya membuat kita mudah mengantuk, tingginya kandungan lemak di dalam gorengan juga akan membuat pencernaan berjalan dengan jauh lebih lambat. Hal ini akan berimbas pada munculnya sensasi tidak nyaman pada perut seperti perut kembung, begah, atau masalah asam lambung.

  1. Sensasi Nyeri Pada Dada

Kenaikan asam lambung yang disebabkan oleh konsumsi gorengan dengan kandungan minyak yang tinggi akan memicu sensasi nyeri pada dada. Hal ini disebabkan oleh adanya sensasi panas dan terbakar akibat kondisi ini. Jika tak kunjung ditangani, bisa jadi hal ini akan menyebabkan mual dan muntah.

  1. Tukak Lambung

Sering makan gorengan bisa membuat masalah asam lambung tinggi sering terjadi. Dampaknya akan membuat risiko terkena masalah tukak lambung akan semakin meningkat. Sebagai informasi, tukak lambung sebenarnya adalah luka atau bisul yang muncul di dinding bagian dalam lambung yang bisa menyebabkan sensasi nyeri.

 

Sumber:

  1. Erickson, Rose. 2017. Foods to Avoid for a Sore Throat. livestrong.com/article/243967-foods-to-avoid-for-a-sore-throat/. (Diakses pada 24 Desember 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi