DokterSehat.Com– Daya tahan tubuh anak umumnya masih rendah sehingga mudah terserang batuk. Namun Anda perlu waspada jika anak mengalami batuk yang berlangsung lama dan diiringi dengan napas terengah-engah serta suara napas berbunyi. Kondisi ini merupakan gejala batuk rejan dan berisiko meningkatkan epilepsi.



Apa itu batuk rejan (pertusis)?

Batuk rejan atau pertusis adalah salah satu gangguan pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini menular dan sering dialami oleh anak-anak berusia kurang dari setahun dan anak-anak yang berusia 1-6 tahun.

Proses infeksi batuk rejan dapat dibagi menjadi tiga fase. Pertama adalah fase katarhal yang ditandai dengan hidung tersumbat, batuk, bersin-bersin, dan demam ringan. Fase ini perlu diwaspadai karena merupakan fase paling menular dan dapat berlangsung hingga beberapa minggu setelah batuk muncul.

Fase selanjutnya adalah paroksismal, yang memiliki gejala khas batuk yang terjadi terus-menerus selama beberapa menit. Batuk ini juga diiringi napas yang berbunyi saat si kecil menarik napas. Biasanya, batuk ini paling sering terjadi di malam hari. Sedangkan fase terakhir adalah konvalenses, dimana batuk sudah mulai mereda.

Benarkah batuk rejan memicu epilepsi?

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa batuk rejan dapat memicu epilepsi pada anak. Selain epilepsi, batuk rejan juga dapat memicu penumonia, kejang, kerusakan otak, bahkan kematian.

Dalam penelitian tersebut membandingkan antara 47 ribu pasien yang terdiagnosis pertusis, setengah dari mereka didiagnosis sebelum usia enam bulan. Dari hasil penelitian tersebut juga ditemukan bahwa individu dengan diagnosis pertusis saat bayi berisiko mengalami epilepsi pada masa anak-anak.

Para ahli menduga hal ini disebabkan karena batuk-batuk kecil dapat merusak otak yang dapat meningkatkan risiko epilepsi. Selain itu, batuk juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan dalam pembuluh darah di otak dan perdarahan yang menyebabkan kerusakan saraf.

Mengingat pertusis dapat memicu komplikasi yang serius, maka sebaiknya orang tua lebih mewaspadai gejala pertusis. Selain dengan memenuhi kebutuhan nutrisi dan kebutuhan cairan anak, pertusis juga dapat dicegah dengan memberi vaksin Dtap dan TdaP.