Terbit: 29 Oktober 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Kabar tentang balita berusia 2,5 tahun yang tewas karena digelonggong air dalam jumlah yang banyak oleh ibunya sendiri, NP, masih menjadi perbincangan hangat masyarakat. Meski terlihat sepele, dalam realitanya menelan air dalam jumlah yang sangat banyak memang berpotensi membahayakan nyawa.

Fakta Tentang Balita Tewas Digelonggong Ibu Sendiri

Balita Tewas Digelonggong oleh Ibunya

Kasus yang sangat menghebohkan ini terjadi pada Jumat, 18 Oktober 2019 lalu di kontrakan keluarga NP di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta.

Ibu berusia 21 tahun ini gelap mata dan marah dengan salah satu dari anak kembarnya ini sehingga memaksanya untuk terus minum air dalam jumlah yang sangat banyak hingga tewas. Sempat membawa buah hatinya ke rumah sakit, sang ibu kemudian digiring ke aparat kepolisian karena pihak tenaga medis yang menangani menganggap kondisi tubuh sang anak tidak wajar.

Sempat mengelak saat diinterogasi polisi, sang ibu akhirnya mengakui perbuatannya. Sang balita tewas setelah digelonggong air dari galon berisi 19 liter selama sekitar 20 menit. Tak hanya membuat badannya membengkak, sang balita bahkan sampai muntah-muntah dan kejang-kejang. Bahkan, olah TKP menyebut sang ibu sempat mencekik korban.

NP mengaku melakukan hal ini karena merasa depresi akibat tekanan dari suami, mertua, dan hingga tetangganya yang menganggapnya tidak becus merawat anak. Menurut pengakuannya, banyak orang yang menganggap balita dengan inisial ZNL ini lebih kurus dibandingkan dengan saudara kembarnya. Suaminya juga sering mengancam cerai karena terus menganggap NP tidak bisa merawat anak.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

Selain itu, keluarga NP juga terhimpit masalah ekonomi sehingga tidak bisa benar-benar memberikan gizi yang cukup pada buah hatinya. Ditambah dengan anaknya yang cenderung rewel dan tidak mau makan nasi, NP kesal hingga akhirnya menggelonggong anaknya dengan air dalam jumlah yang banyak.

Saat ditanya tentang tindakannya, NP mengaku menyesal melakukan perbuatan ini. Ia juga mengaku sedang stres dan bingung mengapa sampai tega melakukan tindakan yang menewaskan buah hatinya sendiri. Satu hal yang pasti, pelaku kini dijerat dengan UU perlindungan Anak serta KUHP dengan pasal 338 dan 251.

Bahaya Kebanyakan Minum Air

Sebagian warganet ada yang menganggap tindakan NP sepertinya terkait dengan masalah mental karena tekanan dari pihak-pihak di sekitarnya. Hanya saja, apa yang dilakukannya, yakni meminumkan air dalam jumlah yang sangat banyak pada sang anak memang bisa memberikan dampak yang sangat buruk.

Berikut adalah berbagai bahaya terlalu banyak minum air:

  1. Memicu Gangguan Jantung

Jika kita minum air dalam jumlah yang berlebihan, maka hal ini akan membuat volume darah juga ikut naik. Masalahnya adalah hal ini akan berimbas pada peningkatan tekanan darah dengan drastis yang membuat jantung harus bekerja jauh lebih keras dan membuatnya lebih rentan rusak.

  1. Membuat Sel-Sel Tubuh Membengkak

Terlalu banyak minum air akan memicu kekacauan keseimbangan elektrolit yang bisa membuat sel-sel tubuh membengkak. Hal ini bisa berimbas pada kejang-kejang, mual-mual, atau bahkan membuat masalah pada otak bernama hidrosefalus.

  1. Menurunkan Kadar Kalium

Kalium memiliki peran besar bagi fungsi saraf, metabolisme, dan tekanan darah. Jika sampai konsumsi air berlebihan, kadar kalium menurun dan akan memberikan efek buruk bagi berbagai hal tersebut.

  1. Memicu Iritasi pada Perut

Ketidakseimbangan elektrolit sebagai imbas dari minum air terlalu banyak bisa menyebabkan iritasi pada perut.

  1. Sering Buang Air Kecil

Semakin banyak air yang kita minum, semakin sering pula frekuensi buang air kecil. Hal ini adalah mekanisme alami tubuh untuk menyeimbangan kadar cairan tubuh. Masalahnya adalah hal ini bisa sangat merepotkan, buka?

 

Sumber:

  1. 2019. Akhir Ngenas Balita Digelonggong Air oleh Ibu hingga Tewas. news.detik.com/berita/d-4760433/akhir-ngenas-balita-digelonggong-air-oleh-ibu-hingga-tewas. (Diakses pada 29 Oktober 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi