Lebih Bahaya Mana, Mie Instan atau Kerupuk?

Risiko-bumil-mie-instan-doktersehat-1
Photo Credit: Flickr.com/Else Hui

DokterSehat.Com– Mie instan dan kerupuk adalah dua jenis makanan yang disukai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Keduanya memiliki rasa yang enak, apalagi jika dikonsumsi bersamaan. Bahkan, ada yang menjadikan mie instan dan kerupuk sebagai lauk saat makan meskipun kandungan kalori di dalamnya cukup tinggi.

Masalahnya adalah pakar kesehatan menyebut mie instan dan kerupuk sebagai makanan yang tidak sehat. Jika dikonsumsi dengan berlebihan, keduanya bisa menyebabkan sindrom metabolik, masalah kesehatan yang akhirnya berimbas pada datangnya diabetes, gangguan pada organ jantung, dan masalah kesehatan pada pembuluh darah.

Mie instan kaya akan kandungan MSG atau monosodium glutamat dan karbohidrat. Sementara itu, kerupuk dikenal luas memiliki kandungan lemak tidak sehat yang tinggi. Di dalam mie instan terdapat 460 kalori, 19 gram lemak, dan 66 gram karbohidrat. Sementara itu, untuk 100 gram kerupuk bawang atau 6 buah kerupuk aci, kita bisa mendapatkan 480 kalori. Di dalam 100 gram kerupuk aci terdapat 476 kalori, 21 gram lemak, dan 71 gram karbohidrat. Hal ini berarti, kandungan di dalam mie instan dan kerupuk cenderung setara sehingga tidak ada yang lebih sehat diantara keduanya.

Jika kita suka mengonsumsi mie instan dan kerupuk setiap hari, atau bahkan mengonsumsinya dengan bersamaan, maka kita pun akan mengonsumsi kalori, karbohidrat, dan lemak dengan berlebihan. Risiko untuk mengalami kenaikan berat badan hingga obesitas pun meningkat. Sebagai informasi, gangguan obesitas ditandai dengan indeks massa tubuh yang melebih angka 30 kg/m2 dan kondisi overweight ditandai dengan nilai indeks massa tubuh di antara 25 hingga 30 kg/m2.

Melihat adanya fakta ini, ada baiknya memang kita tidak lagi sering mengonsumsi mie instan dan kerupuk. Batasi asupan keduanya dan ada baiknya kita juga tidak lagi mengonsumsinya secara bersamaan. Sebagai contoh, kita sebaiknya membatasi konsumsi mie instan hingga 1 atau 2 kali saja dalam seminggu. Selain itu, konsumsi kerupuk juga sebaiknya tidak lagi dilakukan setiap kali kita makan besar.

Demi mencegah datangnya sindrom metabolik, pakar kesehatan menyarankan kita untuk menerapkan pola makan yang sehat dengan kadar gizi yang seimbang, khususnya dalam hal mencukupi kebutuhan sayur dan buah, rajin berolahraga, tidur cukup setiap malam, dan tidak merokok ataupun mengonsumsi alkohol.