Bahaya Membakar Sampah di Pekarangan

bakar_sampah_doktersehat_1
Photo Source: Flickr/Indi Samarajiva

DokterSehat.Com– Salah satu aktivitas yang sering dilakukan banyak orang di akhir pekan seperti sekarang ini adalah membersihkan sekitar rumah dan kemudian membakar sampah di pekarangan. Dengan melakukannya, maka kita bisa membuat lingkungan rumah menjadi lebih bersih dan rapi. Sayangnya, menurut pakar kesehatan, kebiasaan membakar sampah di pekarangan ternyata bisa membahayakan kesehatan.

Para ahli dari Scientific American menyebutkan bahwa sekitar 40 persen sampah atau sekitar 1,1 miliar ton sampah setiap tahunnya dibakar oleh manusia di tempat terbuka. Meskipun hal ini akan membuat sampah bisa hancur, dalam realitanya hal ini akan memicu polusi udara yang sangat parah karena bahan kimia yang ada di dalam sampah juga ikut-ikutan menguap ke udara.

US Environmental Protection Agency menyebutkan bahwa dua kandungan utama yang akan menguap ke udara jika kita membakar sampah adalah formaldehida dan karbonmonoksida. Yang menjadi masalah adalah, dua kandungan ini bisa memicu penyakit pernapasan.

Christine Wiedinmyer dari National Center for Atmosperic Research menyebutkan bahwa 29 persen dari asap yang berasal dari pembakaran sampah mengandung logam dengan ukuran yang sangat kecil. Kandungan logam ini bisa memasuki paru-paru orang yang berada dekat dengan tempat pembakaran sampah tersebut. Kandungan lain yang bisa merusak kesehatan kita adalah 10 persen merkuri dan 40 persen hidrokarbon aromatic polisiklik (PHA).

Berbagai kandungan lain yang bisa muncul dari pembakaran sampah adalah hydrogen sianida, arsen, stiren, timbal, benzene, PCB, dan lain-lain.

Sering berada dekat dengan pembakaran sampah di pekarangan rumah bisa memicu gejala kesehatan seperti gangguan pernapasan, penyakit paru, gangguan sistem saraf, hingga memicu penyakit mematikan seperti kanker atau serangan jantung. Melihat adanya fakta ini, ada baiknya kita tak lagi membakar sampah di pekarangan dan membuangnya di tempat penampungan akhir sampah saja agar dikelola dengan lebih baik oleh pemerintah.