Kabut Asap di Kalimantan dan Sumatera Semakin Parah, Ini Bahayanya

kabut-asap-doktersehat
Photo Source: Twitter/dnvrag - Budi Imanto

DokterSehat.Com– Di media sosial sedang viral foto-foto yang menunjukkan kabut asap yang melanda sebagian wilayah di Kalimantan dan Sumatera. Bahkan, banyak warganet di area-area terdampak yang sampai meminta tolong karena menganggap kualitas udara yang mereka hirup sudah sangat berbahaya.

Kabut Asap di Kalimantan dan Pekanbaru Sangat Berbahaya

Tak hanya foto-foto yang beredar di media sosial yang menunjukkan tebalnya kabut asap di berbagai wilayah, pantauan di situs Air Visual pada Jumat, 13 September 2019 pagi menunjukkan bahwa di wilayah Senapelan, Kota Pekanbaru Riau, kualitas udaranya sudah mencapai angka 539 atau sangat beracun!

Di wilayah KLHK, Kota Jambi, angka kualitas udaranya mencapai 347 atau juga sudah dianggap bisa beracun dari dalam tubuh. Sementara itu, di Pontiudar, Pontianak, Kalimantan Barat, kualitas udaranya sudah mencapai angka 377.

Akun Twitter @kyungsoomyeon bahkan sampai mengunggah papan Indeks Standar Pencemaran Udara ISPU di Kota Pekanbaru yang menunjukkan tulisan “Tinggalkan Riau!!”. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas udara di wilayah yang terkena kabut asap sudah tidak layak untuk dihirup.

Berbagai Dampak Kesehatan dari Kabut Asap

Pakar kesehatan menyebut kabut asap memiliki kandungan berbahaya seperti karbondioksida, karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur oksida, serta senyawa organik volatile. Selain itu, tedapat partikel yang berisi seperti debu dan pasir yang bisa mengiritasi saluran pernapasan.

Berikut adalah berbagai dampak kesehatan yang bisa didapatkan masyarakat yang terkena kabut asap.

  1. Kesulitan Bernapas

Jika kita berada di dekat asap pembakaran, tentu akan merasakan sensasi tidak nyaman dan sulit bernapas, bukan? Hal inilah yang juga dirasakan masyarakat yang terpapar kabut asap dalam beberapa bulan terakhir. Dampak ini bahkan bisa menjadi semakin parah jika kita beraktivitas di luar ruangan.

Pakar kesehatan menyebut sering menghirup kabut asap dalam jangka panjang bisa memicu infeksi paru-paru, penyakit paru obstruktif kronis, hingga menyebabkan kanker paru yang mematikan!

  1. Bisa Mengiritasi Tenggorokan

Paparan asap terus-menerus akan membuat tenggorokan mengalami iritasi. Hal ini akan menyebabkan gejala berupa batuk-batuk. Masalahnya adalah jika paparan asap ini berlangsung dalam waktu yang lama, maka iritasi bisa menjadi semakin parah dan akhirnya memicu gangguan pernapasan yang lebih buruk.

  1. Membuat Kondisi Penyakit Paru Menjadi Semakin Parah

Bagi orang-orang yang sudah mengidap masalah paru-paru sebelumnya, paparan kabut asap bisa membuat masalah kesehatan yang diderita menjadi semakin parah. Sebagai contoh, penderita asma akan lebih sering mengalami gejala sesak napas.

Berdasarkan sebuah penelitian, disebutkan bahwa paparan kabut asap meningkatkan jumlah kedatangan pasien yang menderita masalah asma dan penyakit paru obstruktif kronis dengan signifikan.

  1. Bisa Membahayakan Jantung

Dampak dari kabut asap tak hanya akan menyerang organ pernapasan. Realitanya, partikel-partikel berbahaya dari asap akan memasuki alirah darah dan menyebabkan dampak buruk bagi kondisi pembuluh darah dan jantung. Hal ini disebabkan oleh partikel asap yang ukurannya sangat kecil sehingga bisa menyebabkan dampak kesehatan yang sangat parah.

Paparan kabut asap terus-menerus dalam waktu yang lama bahkan terbukti mampu meningkatkan risiko terkena penyakit jantung koroner dan aterosklerosis, penyebab utama dari stroke dan serangan jantung yang mematikan.

  1. Bisa Membahayakan Mata

Mata juga bisa mendapatkan dampak buruk dari paparan kabut asap. Hal ini disebabkan oleh partikel asap yang bisa mengiritasi mata. Masyarakat di wilayah kabut asap diminta untuk memakai obat tetes mata demi mencegah dampak buruk dari hal ini.

 

Sumber:

  1. 2015. Masalah Kesehatan Akibat Kabut Asap Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2015. depkes.go.id/article/view/16010500006/masalah-kesehatan-akibat-kabut-asap-kebakaran-hutan-dan-lahan-tahun-2015.htmll. (Diakses pada 13 September 2019).