Inversio Uteri, Komplikasi yang Membahayakan dari Persalinan


DokterSehat.Com – Inversio uteri adalah komplikasi persalinan yang membuat rahim ikut turun dan berputar sehingga menyebabkan bagian atas rahim (fundus) bergerak ke bawah menuju leher rahim atau keluar area vagina, tepat setelah melahirkan. Pada beberapa kasus, dokter dapat secara manual melepaskan plasenta dan mendorong rahim ke posisi semula. Namun, operasi terkadang juga diperlukan untuk memosisikan rahim ke tempat semula.

inversio-uteri-doktersehat

Apa itu Inversio Uteri?

Pengertian inversio uteri sendiri adalah suatu keadaan di mana rahim wanita yang baru melahirkan, berputar arah sehingga menyebabkan bagian atas rahim (fundus) bergerak kearah bawah menuju leher rahim atau hingga keluar menuju area vagina.

Jika hanya fundus menekuk ke dalam dan tidak ke luar ostium uteri, hal itu disebut inversio prolaps. Inversio uteri dapat terjadi pada kasus pertolongan persalinan kala III aktif khususnya bila dilakukan tarikan tali pusat terkendali pada saat masih belum ada kontraksi uterus dan keadaan ini termasuk klasifikasi tindakan iatrogenik.

Kala III merupakan saat di mana setelah bayi keluar hingga keluarnya plasenta. Pada saat fase tersebut, maka dapat terjadi beberapa komplikasi seperti rahim yang keluar atau biasa disebut sebagai inversio uteri.

Meskipun inversio uteri adalah kasus yang jarang terjadi, namun ketika inversio uteri terjadi terdapat risiko tinggi kematian akibat syok dan pendarahan hebat. Selain itu, inversio uteri terdiri dari berbagai macam derajat dan tipe. Apabila rahim yang keluar tidak semuanya, maka dapat dilakukan tindakan lain selain pengangkatan rahim. Namun, tindakan tersebut tergantung dari kondisi rahim Anda saat itu.

Penyebab Inversio Uteri

Karena inversio uteri merupakan suatu keadaan di mana dinding atas rahim keluar ke arah vagina, berikut adalah beberapa dugaan yang bisa menyebabkan seseorang mengalami inversio uteri, di antaranya:

  • Mengedan berlebihan ketika sedang mengeluarkan plasenta.
  • Adanya tarikan yang terlalu kuat saat mengeluarkan plasenta.
  • Plasenta menempel keras pada dinging rahim.
  • Persalinan berlangsung sangat lama.
  • Persalinan prematur
  • Tali pusat pendek
  • Kondisi rahim abnormal atau lemah
  • Memiliki riwayat inversio uteri sebelumnya
  • Konsumsi obat relaksan otot selama persalinan.
  • Plasenta akreta, di mana plasenta terlalu dalam tertanam di dinding rahim.

Gejala Inversio Uteri

Guna mendapatkan diagnosis inversio uteri yang tepat, dokter biasanya akan melihat dari sejumlah gejala yang muncul. Berikut adalah gejala inversio uteri yang bisa dikenali, di antaranya:

  • Uterus terlihat dengan benjolan mengkilat atau merah lembayung di vagina.
  • Plasenta masih melekat (tampak tali pusat).
  • Munculnya perdarahan.
  • Syok berat.

Sementara itu, gejala inversio uteri akibat kehilangan banyak darah, di antaranya:

  • Penglihatan tidak fokus.
  • Muncul pusing.
  • Sesak napas.
  • Kedinginan.
  • Kelelahan.

Dari pemeriksaan yang dilakukan, dokter akan mengelompokkan inversio uteri ke dalam klasifikasi berdasarkan keparahannya:

  • Inversi lengkap, di mana bagian rahim telah mencapai serviks.
  • Inversi prolaps, di mana bagian atas rahim terlihat keluar dari vagina.
  • Inversi total, di mana rahim dan vagina sama-sama terdorong ke luar.
  • Inversi tidak lengkap, di mana bagian atas rahim telah jatuh terbalik, namun tidak satupun dari bagian rahim yang mencapai leher rahim (serviks).

Penanganan Inversio Uteri

Perlu diketahui, setelah proses melahirkan selesai, pada normalnya plasenta akan terlepas dari dinding rahim (biasanya 10-15 menit setelah lahir). Namun, pada kasus plasenta yang tidak lepas (30 menit setelah melahirkan) maka tindakan dari melepaskan plasenta oleh dokter atau bidan diperlukan.

Inversio uteri merupakan kondisi gawat yang harus segera mendapat penanganan. Dokter umumnya akan mendorong bagian atas rahim yang terbalik atau yang keluar dengan kepalan tangan. Saat menjalani pasien ini, pasien akan diberikan anestesi umum seperti halotan atau obat-obatan seperti magnesium sulfat, nitrogliserin atau terbutaline.

Selain dengan cara manual, dokter yang menangani persalinan biasanya akan mengembalikan posisi rahim seperti kondisi semula dengan tindakan operasi. Fundus akan dikembalikan ke tempat asalnya dan menjauh dari rahim.

Apabila Anda tidak mendapatkan cairan infus, maka tindakan operasi untuk mendorong fundus ke tempat awalnya harus segera dilakukan. Pemberian suntikan kebal akan diberikan untuk menahan rasa sakit serta obat untuk melenturkan otot rahim.

Saat rahim telah dikembalikan pada posisi asalnya, obat yang digunakan untuk melenturkan otot-otot rahim akan dihentikan penggunaannya. Pemberian cairan infus lanjutan yang berisi berisi hormon oxytocin diperlukan untuk menguatkan rahim. Oxytocin juga dapat digunakan untuk mengurangi pendarahan yang diakibatkan oleh pelepasan plasenta.

Setelah tindakan operasi Anda berhasil, dokter akan terus mengawasi Anda secara ketat untuk memeriksa apakah rahim benar-benar tidak berputar arah atau bergeser lagi dan tetap berada dalam posisi asalnya. Selain itu, dokter juga akan memeriksa apakah terdapat pendarahan pada bagian tubuhnya lainnya.

Menggunakan Balon dan Tekanan Air

Selain menggunakan cara seperti di atas, penanganan inversio uteri lain untuk mengembalikan kondisi inversi uterus yaitu dengan menggunakan perangkat balon dan tekanan air. Caranya, balon akan ditempatkan di dalam rongga rahim dan diisi larutan garam untuk mendorong rahim kembali ke posisinya.

Cara ini banyak digunakan sebagai alternatif dari cara manual menggunakan kepalan tangan dan dianggap efektif untuk menghentikan kehilangan darah dan mencegah terulangnya inversio uteri.

Pada akhirnya, saat seorang wanita yang pernah mengalami inversio uteri, maka ia akan berisiko lebih tinggi untuk mengalaminya di persalinan berikutnya. Seperti komplikasi kehamilan lainnya, pastikan dokter mengetahui riwayat persalinan sebelumnya.

Hal ini diperlukan untuk memberi petunjuk pada dokter agar mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi inversio uteri. Penanganan yang cepat diperlukan untuk mencegah kerusakan jangka panjang pada rahim.


2019-03-19T11:58:09+07:00