Terbit: 11 Februari 2020 | Diperbarui: 14 Mei 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Benarkah terdapat beberapa bahaya bulu kucing? Memelihara kucing memang dapat menjadi hal yang sangat menyenangkan. Meskipun begitu, jangan lupakan tentang risikonya. Kebanyakan orang berpikir bahwa bagian tubuh kucing yang cukup berbahaya adalah bulunya. Benarkah? Simak berbagai bahaya bulu kucing dan risiko lain dari memelihara kucing berikut ini!

7 Bahaya Bulu Kucing dan Risiko Lain yang Wajib Diwaspadai

Bahaya Bulu Kucing dan Risiko Lainnya

Kucing bukan hanya dapat menjadi peliharaan, tapi juga menjadi anggota yang melengkapi keluarga. Keberadaan kucing di rumah dapat menambah kenyamanan dan membuat kita tidak kesepian, namun tidak dapat dipungkiri bahwa memelihara kucing juga membawa beberapa risiko untuk kesehatan.

Berikut adalah beberapa risiko yang mungkin timbul ketika Anda memelihara kucing di rumah:

1. Penyakit Cakaran Kucing

Bahaya bulu kucing yang pertama adalah cat scratch disease atau penyakit cakaran kucing.

Penyakit cakaran kucing adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae atau spesies Bartonella lainnya. Jika melihat pada namanya, tentunya dapat disimpulkan bahwa infeksi ini dapat ditularkan melalui cakaran kucing.

Meskipun dinamakan penyakit cakaran kucing, ternyata dicakar bukan satu-satunya cara penularan penyakit ini. Bakteri penyebab penyakit ini juga dapat ditularkan melalui jilatan kucing. Kucing memiliki kebiasaan menjilati dirinya sendiri, jadi tentu terdapat kemungkinan bakteri ini juga dapat tertinggal di bulu kucing.

Gejala infeksi ini biasanya baru muncul sekitar 1-3 minggu setelah paparan (setelah kucing mencakar atau menjilat). Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan infeksi ringan dengan benjolan kecil padat di lokasi paparan serta beberapa gejala lain seperti demam, infeksi mata, hingga nyeri otot.

2. Kurap

Kurap adalah infeksi jamur yang dapat menginfeksi beberapa kulit, rambut, hingga kuku manusia dan hewan.

Kucing yang memiliki kurap dapat menularkan melalui kontak langsung dengan manusia. Ini yang menjadi bahaya bulu kucing selanjutnya karena kurap dapat ditularkan dengan hanya kita membelai kucing yang terinfeksi.

Tanda infeksi kurap pada kucing sering tidak terlihat, tapi kucing yang terinfeksi biasanya mengalami kerontokan rambut di beberapa titik seperti sekitar telinga, wajah, dan kaki. Bagian kecil rambut rontok ini memiliki kulit yang bersisik atau berkerak.

Kurap pada manusia dapat muncul di hampir seluruh bagian tubuh. Gejala kurap meliputi kemerahan, kerak, ruam berbentuk cincin. Infeksi pada daerah yang berambut dapat menyebabkan kerontokan, sedangkan infeksi pada kuku dapat menyebabkan kulit berubah warna, menebal, atau hancur.

3. Toksoplasmosis

Risiko lain yang perlu diwaspadai ketika memelihara kucing adalah toksoplasmosis, yang merupakan infeksi akibat parasit bersel tunggal yang disebut Toxoplasma gondii.

Kucing adalah pembawa parasit ini dan dapat menularkannya melalui kotorannya. Seseorang dapat berisiko terkena parasit ini apabila bersentuhan dengan benda atau area yang terkontaminasi oleh kotoran kucing yang terinfeksi.

Parasit ini dapat menyebabkan infeksi pada tubuh apabila tidak sengaja tertelan. Infeksi T. gondii tidak selalu menimbulkan gejala dan kebanyakan orang memiliki sistem imun tubuh yang cukup kuat untuk melawannya.

Seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lebih lemah memiliki risiko mengembangkan gejala seperti pembengkakan kelenjar dan nyeri otot. Kasus toksoplasmosis yang parah dapat menyebabkan komplikasi seperti kerusakan organ lain seperti otak atau mata.

Apabila infeksi dialami oleh ibu hamil, maka dapat meningkatkan risiko cacat lahir.

4. Rabies

Rabies adalah penyakit yang perlu diwaspadai karena ini termasuk salah satu penyakit paling parah yang mungkin Anda dapatkan dari kucing atau hewan lain seperti anjing, monyet, dan musang.

Rabies dapat ditularkan melalui gigitan hewan. Penyakit ini menginfeksi sistem saraf pusat yang ditandai dengan gejala awal seperti seperti demam, sakit kepala, dan kelemahan. Ketika berkembang lebih parah, kondisi ini dapat menyebabkan halusinasi, kelumpuhan, insomnia, kecemasan, dan kesulitan menelan.

Rabies dapat menyebabkan kematian dalam beberapa hari saja setelah gejala serius muncul. Vaksin rabies wajib diberikan pada hewan dan manusia yang memelihara sebagai bentuk pencegahan dari penyakit ini.

5. Infeksi MRSA

Bahaya bulu kucing lainnya adalah infeksi MRSA, yang merupakan bakteri Staphylococcus aureus yang resisten terhadap beberapa jenis antibiotik.

Seseorang dapat mendapatkan MRSA hanya dengan menyentuh atau membelai bulu kucing yang membawa bakteri ini. Terkadang kucing yang tidak tampak sakit juga dapat membawa bakteri ini. Begitu juga dengan manusia, sering kali seseorang yang memiliki bakteri MRSA di tubuhnya tidak menimbulkan gejala apapun.

Bakteri ini baru akan menimbulkan gejala apabila berhasil masuk ke tubuh, paling umum mereka dapat masuk melalui luka. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi seperti infeksi kulit, infeksi paru-paru, dan masalah kesehatan lainnya.

6. Cacingan

Kucing dapat mengalami cacingan akibat menelan kutu yang membawa larva cacing.

Kondisi ini pada dasarnya jarang menular pada manusia karena manusia harus menelan kutu yang terinfeksi tersebut untuk mendapatkan cacing. Kasus paling umum terjadi pada anak kecil yang tidak sengaja menelan kutu yang terinfeksi yang ada pada tubuh kucing.

Jenis larva cacing yang dapat terbawa oleh kutu kucing dapat berupa cacing pita, cacing tambang, maupun cacing gelang. Memastikan kucing bebas dari kutu dapat menjadi langkah pencegahan infeksi cacing pada kucing dan penularan pada manusia.

Baca Juga: Ciri-Ciri Anak Cacingan Dibedakan dari Jenis Cacing Penyebabnya

7. Alergi

Alergi kucing bukan merupakan alergi bulu kucing, melainkan zat lain yang dihasilkan kucing seperti air liur, ketombe, atau urine.

Alergi kucing dapat menyebabkan gejala mulai dari masalah pernapasan ringan hingga sindrom anafilaksis. Meskipun bukan alergi terhadap bulu, tapi seseorang yang alergi kemungkinan harus tetap menghindarinya karena kucing memiliki kebiasaan untuk menjilat diri sendiri.

Tips Terhindar dari Bahaya Bulu Kucing dan Risiko Lainnya

Kebanyakan risiko yang timbul dari memelihara kucing pada dasarnya diakibatkan oleh kebiasaan tidak menjaga kebersihan dengan baik. Agar Anda dan keluarga tetap aman selama memelihara kucing, berikut tips yang bisa diterapkan:

  • Cuci tangan dengan rutin. Pastikan Anda membersihkan tangan dengan sabun setelah bersentuhan dengan kucing, air liurnya, dan setelah membersihkan kotorannya.
  • Membuang kotoran kucing. Buang kotoran kucing segera dan jauhkan dari jangkauan anak. Jangan biarkan kucing buang kotoran sembarangan di rumah, pastikan Anda menyiapkan area khusus.
  • Hindari goresan dan gigitan. Beberapa infeksi dapat ditularkan melalui goresan dan gigitan kucing, maka sebaiknya Anda menghindarinya. Jika Anda digigit atau dicakar, segera bersihkan luka dengan sabun.
  • Vaksinasi. Pastikan kucing mendapatkan vaksin yang dibutuhkan. Anda juga sebaiknya memeriksakan kucing ke dokter hewan secara rutin untuk memantau kesehatannya.

Penularan penyakit melalui hewan peliharaan seperti kucing memang mungkin terjadi, tapi kemungkinannya kecil. Jika melihat pada beberapa risiko di atas, dapat dikatakan juga bahwa bulu kucing sebenarnya tidak secara langsung berbahaya.

Menjaga kebersihan adalah salah satu kunci utama hidup tetap sehat bersama hewan peliharaan Anda. Semoga informasi ini bermanfaat!

 

  1. Anonim. 2019. Cats. https://www.cdc.gov/healthypets/pets/cats.html#tabs-1-2. (Diakses 11 Februari 2020).
  2. Levy, Sandra. 2014. Is Your Cat Endangering Your Health?. https://www.healthline.com/health-news/allergies-cats-risk-to-health#1. (Diakses 11 Februari 2020).
  3. Villines, Zawn. 2018. Tips to manage cat allergies. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321120.php. (Diakses 11 Februari 2020).
  4. Whiteman, Honor. 2015. Pets: are you aware of the risks to human health?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/292829.php#1. (Diakses 11 Februari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi