Terbit: 7 Oktober 2020
Ditulis oleh: dr. Monica Djaja Saputera | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Penyakit babesiosis adalah infeksi yang diakibatkan oleh gigitan kuku. Pada umumnya, penderitanya tidak menunjukkan gejala. Ketahui penyebab, diagnosis, pengobatan, hingga cara mencegahnya!

Babesiosis: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Babesiosis?

Babesiosis adalah infeksi parasit akibat gigitan kutu yang menyerang sel darah merah.

Nama babesiosis diambil dari seorang ahli patologi dan mikrobiologi Hungaria, yaitu Victor Babes. Pada tahun 1883, Victor Babes mengidentifikasi penyebab dari hemiglobinemia febril adalah mikoorganisme yang berasal dari ternak.  Sedangkan pada tahun 1893, Theobald Smith dan Frederick L mengidentifikasi kutu sebagai vektor penyebaran Basesia bigemina di Texas.

Gejala Babesiosis

Salah satu tanda utama adalah adanya anemia hemolitik akibat destruksi sel darah merah yang disebabkan oleh infeksi Babesio microti.

Sebagian besar penderitanya umumnya tidak menunjukkan adanya gejala. Sedangkan penderita yang menunjukkan adanya gejala, umumnya timbul dalam beberapa minggu sampai bulan setelah terinfeksi, dengan rata-rata waktu yang diperlukan 1-4 minggu. Apabila kondisi ini terjadi akibat transfusi darah yang terkontaminasi, maka membutuhkan waktu lebih lama, yaitu 1-9 minggu.

Beberapa gejalanya yaitu:

  • Demam atau meriang
  • Berkeringat
  • Nyeri kepala dan sendi
  • Pegal-pegal seluruh tubuh
  • Tidak nafsu makan
  • Mual atau muntah
  • Lelah berlebih
  • Warna urin kehitaaman
  • Batuk
  • Fotofobia
  • Pembesaran hati atau limpa ringan
  • Ikterik (warna kekuningan pada mata atau kulit)

Meskipun umumnya menunjukkan gejala yang ringan, namun penyakit ini juga dapat menunjukkan gejala yang berat hingga mengancam nyawa pada seseorang dengan:

  • Usia lanjut
  • Tidak memiliki limpa
  • Gangguan hati atau ginjal
  • Gangguan sistem imun atau imun yang lemah, seperti kanker, limfoma, AIDS

Penyebab Babesiosis

Babesio microti merupakan salah satu spesies Babesia yang merupakan penyebab babesiosis pada manusia, yang banyak ditemukan saat cuaca hangat. Host perantara dari Babesio microti adalah kutu Ixodes scapularis.

Proses penularannya terjadi akibat gigitan kutu Ixodes scapularis yang berada dalam tahap nimfa dan terinfeksi Babesio microti.

Faktor Risiko Babesiosis

Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengaan penyakit ini adalah:

  1. Transfusi darah yang terkontaminasi
  2. Perempuan dengan infeksi yang sedang hamil atau melakukan proses bersalin

Diagnosis Babesiosis

Diagnosis ditegakkan apabila ditemukan adanya parasit Babesio mirroti pada usapan darah. Pemeriksaan yang diperlukan adalah:

  1. Pemeriksaan mikroskopik apusan darah dengan pewarnaan Giemsa atau Wright, merupakan pemeriksaan baku emas untuk mendeteksi keberadaan Babesio microti.
  2. Pemeriksaan serologi (PCR) untuk mendeteksi Babesio microti.
  3. Pemeriksaan darah lengkap, merupakan pemeriksaan untuk melihat tanda anemia hemolitik seperti penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, dan jumlah sel darah merah. Beberapa hasil laboratorium yang mendukung adalah trombositopenia, peningkatan kadar BUN, dan peningkatan kadar fungsi hati.

Pengobatan Babesiosis

Tujuan dari pengobatanya adalah untuk mengatasi gejala yang timbul dan membunuh parasit Babesio microti. Pilihan obat babesiosis yang utama adalah Klindamisin dan Kuinin. Kemudian pilihan obat lini kedua dengan gangguan sistem imun atau imun yang lemah adalah Atovakuon dan Azitromisin.

Penyebab Babesiosis

Cara mencegahnya diperlukan tindakan pencegahan dari segi individual, area tempat tinggal, dan komunitas. Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah:

1. Individual

  • Menghindari kontak lokasi dengan keberadaan kutu yang banyak
  • Menggunakan baju pelindung atau salep pelindung dari kutu yang mengandung permethrin atau DEET, apabila harus mengunjungi lokasi dengan keberadaan kutu yang banyak

2. Lingkungan

  • Memangkas rumput yang tumbuh liar
  • Membersihkan daun kering yang berserakan di tanah
  • Melakukan penyemprotan terhadap kutu

 

  1. Center for Disease Control and Prevention (2020) Babesiosis. [Online]. Available in: http://www.cdc.gov [Updated October 3, 2020]
  2. Center for Disease Control and Prevention (2020) Parasites-Babesiosis. [Online]. Available in: http://www.cdc.gov [Updated October 3, 2020].
  3. Homer, M.J., Aguilar-Delfin, I., Telford III, S.R., Krause, P.J., Persing, D.H. (2000) Babesiosis. Clinical Microbiology Reviews, 451-69.
  4. Vannier, E., Krause, P. (2012) Human Babesiosis. The New England Journal of Medicine, 366(25):2397-407.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi