Terbit: 16 September 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

BAB berdarah tidak selalu mengindikasikan kondisi yang berbahaya dan mengancam jiwa. Namun, penyebab yang beragam ini mengharuskan Anda untuk berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya. Ketahui selengkapnya tentang buang air besar berdarah mulai dari gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya melalui artikel ini.

BAB Berdarah: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu BAB Berdarah?

BAB berdarah adalah kondisi di mana feses mengandung darah. Kondisi ini sering juga disebut pendarahan rektal yang biasanya mengacu pada pendarahan pada usus besar atau rektum bagian bawah.

Darah yang muncul biasanya berwarna merah cerah, namun terkadang juga dapat berwarna gelap. Warna darah biasanya menentukan di saluran pencernaan bagian mana pendarahan terjadi.

Berikut adalah warna darah yang mungkin muncul:

  • Darah berwarna merah cerah mengindikasikan adanya perdarahan di saluran pencernaan bagian bawah seperti usus besar atau rektum.
  • Darah berwarna merah tua mengindikasikan adanya perdarahan di usus kecil atau bagian awal usus besar.
  • Kotoran berwarna hitam dapat mengindikasikan perdarahan di lambung atau bagian atas usus kecil (lambung atau kerongkongan).

Selain karena perdarahan di saluran pencernaan bagian atas, terkadang konsumsi makanan tertentu juga dapat membuat feses berwarna hitam. Sehingga dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dan melihat pada gejala yang lain untuk memastikan penyebabnya.

Gejala BAB Berdarah

Buang air besar berdarah itu sendiri dapat disebut sebagai gejala penyakit. Kemunculan darah pada feses ini dapat juga dibarengi dengan gejala lainnya, bergantung pada kondisi yang mendasarinya.

Berikut adalah beberapa gejala yang mungkin Anda rasakan:

  • Adanya darah dalam feses baik itu berwarna merah cerah, merah tua, atau hitam
  • Sakit atau kram perut
  • Nyeri pada rektum
  • Pusing
  • Pingsan
  • Kebingungan

Gejala tersebut adalah gejala yang umum muncul bersamaan dengan pendarahan rektal. Terdapat banyak gejala lain yang mungkin muncul, bergantung pada kondisi medis yang mendasarinya.

Kapan Harus ke Dokter?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, buang air besar berdarah umumnya mengindikasikan penyakit berbahaya. Namun, terdapat beberapa kondisi di mana Anda perlu waspada dan mungkin akan membutuhkan perawatan medis segera.

Segera konsultasi ke dokter apabila Anda juga mengalami gejala berikut ini:

  • Kulit dingin dan lembap
  • Kebingungan
  • Pendarahan yang terus-menerus
  • Nyeri perut yang sangat hebat
  • Napas cepat
  • Pingsan
  • Kelopak bawah mata tampak pucat
  • Muntah bercampur darah

Penyebab BAB Berdarah

Kenapa BAB berdarah? Ada banyak kondisi yang dapat mendasarinya mulai dari kondisi medis ringan hingga serius. Berikut adalah beberapa penyebabnya:

  • Wasir
  • Fisura ani
  • Fistula ani
  • Polip kolon
  • Kanker dubur
  • Kanker usus besar
  • Penyakit radang usus (kolitis ulseratif, penyakit Crohn)
  • Infeksi usus (disentri Shigella atau Amoeba)
  • Gangguan pembekuan darah
  • Alergi makanan
  • Perdarahan lambung
  • Perdarahan varises esofagus
  • Mallory weiss tear

Faktor Risiko BAB Berdarah

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami pendarahan rektal. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  • Sirosis yaitu penyakit liver yang menyebabkan ukuran hati mengecil, dapat menimbulkan bendungan pembuluh darah dan perdarahan varises esofagus.
  • Alkoholisme atau konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan fatty liver dan sirosis, alkohol juga menyebabkan penipisan mukosa lambung yang dapat menyebabkan perdarahan lambung.
  • Hepatitis B dapat menyebabkan sirosis dan kanker hati.
  • Sembelit atau konstipasi. Kondisi ini dapat menyebabkan tinja keras kemudian menyebabkan luka di rektum atau wasir/hemorroid.
  • Riwayat keluarga. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kolitis ulseratif dan penyakit Crohn memiliki risiko terkena kondisi yang sama.
  • Faktor usia. Seseorang dengan usia lebih tua memiliki potensi lebih tinggi mengalami perdarahan lambung.
  • Obat-obatan pengencer darah jangka panjang semisal aspirin dan warfarin dapat menimbulkan perdarahan saluran cerna. Obat obat antinyeri NSAID semisal ibuprofen, piroxicam, meloxicam, diclofenac, dan kortikosteroid semisal dexamethasone, prednison, methylprednisolon juga dapat menimbulkan perdarahan lambung.

Diagnosis BAB Berdarah

Pemeriksaan untuk mendiagnosis kondisi penyebab BAB berdarah dapat dimulai dengan anamnesis yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan tes lainnya jika dibutuhkan.

1. Anamnesis

Dokter akan bertanya tentang gejala yang Anda rasakan dan juga riwayat kesehatan Anda secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan:

  • Kapan pertama kali menyadari adanya pendarahan?
  • Gejala lain apa yang dialami?
  • Apa warna darah?

2. Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, yaitu melihat pada area yang terkena. Pemeriksaan visual pada anus dapat membantu mendeteksi kondisi seperti wasir. Terkadang, dibutuhkan pemeriksaan endoskopi untuk melihat ke bagian usus besar dan rektum.

3. Tes Lainnya

Dokter juga dapat menyarankan tes lainnya seperti tes darah lengkap atau complete blood count (CBC) untuk mengetahui seberapa banyak Anda kehilangan darah. Pemeriksaan seperti tes pencitraan hingga biopsi juga dapat disarankan apabila dokter mencurigai adanya penyakit yang lebih serius seperti kanker.

Pengobatan BAB Berdarah

Cara mengatasi BAB berdarah tentunya harus disesuaikan dengan penyebabnya. Perawatan dapat berupa perawatan di rumah hingga perawatan medis.

Perawatan di Rumah

Beberapa penyebab kondisi ini –seperti wasir dan fisura ani– terkadang dapat sembuh dengan sendirinya dan tidak membutuhkan perawatan medis. Perawatan di rumah dapat membantu untuk mengatasi gejala yang dialami.

Anda dapat mandi air hangat untuk meredakan ketidaknyamanan akibat wasir. Krim yang dijual bebas di apotek juga biasanya dapat membantu mengurangi iritasi.

Perawatan Medis

Berikut adalah beberapa cara yang mungkin dilakukan untuk mengatasi buang air besar berdarah:

  • Dokter dapat meresepkan obat BAB berdarah seperti obat pelunak feses untuk mengatasi sembelit dan membantu penyembuhan fisura ani.
  • Operasi wasir untuk mengatasi wasir yang terus menerus menimbulkan perdarahan.
  • Dokter akan meresepkan obat antibiotik apabila kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri/amoeba.
  • Perawatan seperti pembedahan, kemoterapi, dan terapi radiasi dapat dilakukan untuk mengatasi kanker dan menurunkan risiko kanker untuk kambuh.
  • Endoskopi bila terjadi perdarahan varises esofagus.

Komplikasi BAB Berdarah

Jika terus terjadi dan tidak ditangani, kondisi ini juga dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Anemia
  • Kanker yang menyebar (jika penyebabnya adalah kanker)
  • Infeksi yang menyebar
  • Syok
  • Ensefalopati (keracunan otak)

Pencegahan BAB Berdarah

Kondisi ini dapat dicegah dengan cara mencegah kondisi-kondisi penyebabnya terjadi. Berikut adalah beberapa hal yang bisa diterapkan untuk menurunkan risiko terjadinya buang air besar berdarah:

  • Konsumsi makanan berserat tinggi.
  • Olahraga secara teratur.
  • Menjaga kebersihan rektal.
  • Menjaga asupan cairan tubuh.
  • Menghindari alkohol, diabetes mellitus, obesitas yang dapat menyebabkan fatty liver dan sirosis.
  • Mengobati hepatitis B sampai tuntas.

Buang air besar berdarah memang tidak selalu mengindikasikan kondisi yang berbahaya, namun jika gejala yang dialami tidak kunjung sembuh dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter. Semoga informasi ini bermanfaat!

 

  1. Anonim. 2020. Rectal bleeding. https://www.mayoclinic.org/symptoms/rectal-bleeding/basics/definition/sym-20050740. (Diakses 16 September 2020).
  2. Healthgrades Editorial Staff. 2018. Rectal Bleeding. https://www.healthgrades.com/right-care/digestive-health/rectal-bleeding. (Diakses 16 September 2020).
  3. Nall, Rachel. 2019. Everything You Need to Know About Rectal Hemorrhage. https://www.healthline.com/health/rectal-bleeding. (Diakses 16 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi