Atrofi Otak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

gejala-atrofi-otak-doktersehat

DokterSehat.Com – Seiring pertambahan usia, seseorang cenderung untuk mengalami penurunan fungsi otak. Hal tersebut terjadi karena otak menyusut yang dalam istilah medis disebut Atrofi Otak. Proses penyusutan otak berawal dari rusaknya sel-sel otak dan sambungannya yang terjadi secara terus menerus.

Baca terus penjelasan ini untuk menemukan apa itu atrofi otak, penyebab otak menyusut, gejala penyusutan otak, diagnosis, dan pengobatan atrofi otak.

Apa itu atrofi otak?

Atrofi otak adalah kondisi di mana hilangnya sel-sel otak (neuron) dan sambungannya secara terus menerus sehingga membuat otak mengalami penyusutan. Kejadian atrofi otak biasanya terjadi pada salah satu sisi.

Atrofi otak juga bisa bersifat menyeluruh dan memengaruhi semua sel-sel saraf dan sambungannya di otak. Pengecilan ukuran otak yang terjadi pada kedua sisi bisa mengakibatkan komplikasi yang lebih serius.

Sisi otak yang mengalami atrofi bisa memengaruhi sel-sel saraf di sisi tersebut dan mengganggu fungsi di daerah-daerah tertentu. Perubahan ukuran lobus otak yang menjadi lebih kecil akan mengganggu fungsi otak. 

Fungsi otak yang terganggu seperti fungsi kognitif, memori, kemampuan berbicara, dan lainnya. Di samping fungsi otak, penyusutan otak juga bisa mengganggu fungsi organ-organ tubuh yang dikendalikan oleh otak pada sisi tertentu.

Penyebab atrofi otak

Selain dikarenakan faktor usia yang terus bertambah, atrofi otak juga bisa disebabkan karena beberapa hal. Penyebab atrofi otak bisa memengaruhi kecepatan penyusutan otak dan harapan hidup penderita.

Berikut ini adalah beberapa penyebab atrofi otak:

1. Cedera

Cedera otak bisa menyebabkan atrofi otak. Beberapa jenis cedera yang bisa menyebabkan atrofi otak adalah jatuh terbentur, kecelakaan, kena pukulan, dan lainnya. Atrofi otak yang dikarenakan cedera sering kali bersifat lebih cepat merusak sel-sel saraf.

Aliran darah ke otak menjadi terganggu pasca insiden cedera otak. Akibatnya, pasokan darah yang kaya akan oksigen pun menjadi terhambat pada sel-sel saraf daerah tertentu. Tanpa oksigen, sel-sel saraf di area tersebut akan rusak dan mati.

Matinya sel-sel saraf di area tersebut pun mengganggu fungsi-fungsi tubuh yang dikendalikan di area otak itu. Umumnya, fungsi yang sering terganggu adalah fungsi bicara dan gerakan serta kognitif.

2. Penyakit

Ada beberapa jenis penyakit yang bisa menyebabkan penyusutan otak, yakni seperti:

1. Penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah salah satu bentuk masalah demensia dengan kondisi sel-sel saraf yang semakin rusak. Kemampuan berkomunikasi antara sel-sel saraf tersebut hilang karena sambungannya yang juga mengalami kerusakan.

Baca Juga: Alzheimer – Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Kondisi tersebut membuat penderitanya mengalami penurunan kemampuan berpikir dan hilang ingatan yang cukup serius. Penyakit Alzheimer biasanya melanda orang-orang yang berusia 60 tahun ke atas.

Penderita penyakit Alzheimer umumnya memiliki rata-rata usia harapan hidup sekitar empat hingga delapan tahun setelah didiagnosis. 

2. Penyakit Huntington

Pernah mendengar penyakit Huntington? Penyakit tersebut merupakan penyakit bawaan yang merusak sel-sel saraf dan berperan terhadap atrofi otak. Tidak seperti penyakit Alzheimer yang umumnya menimpa usia 60 tahun ke atas, penyakit Huntington biasanya diderita oleh orang-orang paruh baya.

3. Cerebral Palsy

Penyakit yang juga bisa menyebabkan atrofi otak adalah Cerebral Palsy. Masalah kesehatan ini dicirikan dengan gerakan yang tidak seperti kebanyakan orang. Hal ini terjadi karena ada masalah perkembangan otak sehingga penderitanya mengalami kesulitan berjalan dan gerakan yang tidak normal.

4. Multiple Sclerosis

Gangguan autoimun yakni multiple sclerosis juga menyebabkan atrofi otak karena membuat sel-sel saraf dan jembatan penghubungnya menjadi rusak. Pada umumnya, penderita multipe sclerosis mengalami masalah pada koordinasi gerakan.

Penderita multiple sclerosis masih memiliki harapan hidup yang lebih panjang dan kehidupan yang normal jika menerima tindakan pengobatan yang tepat.

5. Infeksi

Beberapa penyakit infeksi yang bisa mengakibatkan terjadinya atrofi otak adalah infeksi virus HIV, ensefalitis, neurosifilis, dan lainnya. Virus yang menginfeksi tersebut menyerang sambungan antar sel-sel saraf. Akibatnya, sel-sel saraf tidak bisa berkomunikasi dan menjadi rusak.

Gejala penyusutan otak (atrofi otak)

Atrofi otak menimbulkan beberapa gejala yang tidak boleh diabaikan. Gejala atrofi otak dipengaruhi oleh area atau sisi otak yang mengalami penyusutan.

Berikut ini adalah beberapa gejala penyusutan otak:

  • Kejang – ditandai dengan gerakan berulang dan hilangnya kesadaran
  • Demensia – adana ypenurunan daya pikir dan hilang ingatan
  • Aphasia – kesulitan berbicara dan memahami perkataan orang lain

Beberapa gejala atrofi otak tersebut bisa ditegakkan dengan tindakan diagnosis sehingga pengobatannya lebih tepat dan efektif.

Diagnosis atrofi otak

Tindakan diagnosis diperlukan agar dokter bisa merekomendasikan pengobatan yang tepat.  Pada awalnya, dokter akan melakukan wawancara kepada pasien terkait tanda dan gejala yang dialami lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan fasilitas pemindaian otak, yaitu:

  1. CT scan (Computerized Tomography) – alat yang menggunakan gambar sinar-X untuk menampilkan gambar-gambar detail otak.
  2. MRI (Magnetic Resonance Imaging) – membuat citra otak pada film melalui medan magnet yang kuat dan gelombang radio.

Apabila Anda terdeteksi positif mengalami atrofi otak, maka dokter akan merekomendasikan tindakan pengobatan yang tepat sesuai kondisi Anda.

Baca Juga: MRI, Ampuh Deteksi Atrofi Otak?

Pengobatan atrofi otak

Pengobatan atrofi otak disesuaikan dengan penyebabnya. Jika penyebabnya adalah cedera, maka tindakan pengobatan dilakukan dengan operasi agar kerusakan sel-sel saraf tidak semakin parah.

Atrofi otak yang terjadi karena penyakit biasanya diobati dengan menggunakan obat-obatan. Obat-obatan tersebut berfungsi menjaga imunitas agar sel saraf tidak mengalami kerusakan yang lebih luas.

Obat yang diberikan juga bisa berfungsi sebagai antibiotik pada kasus infeksi mikroorganisme. Kasus atrofi otak yang dikarenakan penyakit Alzheimer, cerebral palsy, dan Huntington tidak bisa diobati melainkan dengan cara memperlambat kecepatan kerusakan sel saraf.

Setiap penderita atrofi otak karena hal apa pun dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat. Penerapan menu harian yang sehat dan bergizi perlu dilakukan. Selain itu, latihan fisik dan menghindari konsumsi alkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang bisa meringankan gejala penyusutan otak.