Terbit: 28 April 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Atresia bilier adalah kondisi langka yang menyerang bayi baru lahir. Kondisi ini disebabkan oleh masalah pada saluran empedu yang membuatnya tersumbat. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan hati yang parah. Ketahui selengkapnya tentang atresia bilier melalui artikel ini!

Atresia Bilier: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

Apa Itu Atresia Bilier?

Atresia bilier adalah kondisi gangguan kesehatan pada bayi di mana saluran empedu mengalami sumbatan. Kondisi ini menyebabkan empedu tidak dapat mengalir ke usus, sehingga empedu menumpuk di hati dan menyebabkan kerusakan hati.

Kerusakan hati ini kemudian menyebabkan terbentuknya jaringan parut, hilangnya jaringan, penurunan fungsi hati, dan sirosis.

Kondisi ini termasuk ke dalam kondisi langka yang dapat mengancam jiwa. Perawatan yang tepat dapat membuat bayi yang mengalami atresia bilier dapat bertahan hidup hingga dewasa.

Penyebab Atresia Bilier

Kondisi ini dapat menyerang bayi yang masih dalam kandungan atau bayi yang baru lahir. Penyebab atresia bilier tidak diketahui secara pasti.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement

Berikut adalah beberapa kondisi yang diduga dapat memicu kondisi ini:

  • Mutasi gen
  • Infeksi virus
  • Infeksi bakteri
  • Paparan zat kimia berbahaya atau beracun
  • Masalah pada sistem kekebalan tubuh
  • Masalah pada perkembangan hati dan saluran empedu selama dalam kandungan

Atresia bilier ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir, tapi penyakit ini bukan merupakan penyakit yang diturunkan. Penyakit ini tidak menular dari orang tua ke anak.

Faktor Risiko Atresia Bilier

Faktor risiko atresia bilier meliputi:

  • Bayi lahir prematur
  • Bayi keturunan Asia dan Afrika-Amerika

Tidak semua bayi yang memiliki faktor di atas akan mengalami kondisi ini, namun faktor ini dapat meningkatkan kemungkinan terkena atresia bilier.

Gejala Atresia Bilier

Berikut adalah beberapa ciri-ciri penyakit atresia bilier:

  • Jaundice. Jaundice atau penyakit kuning adalah gejala paling umum kondisi ini. Jaundice ditandai dengan warna kuning pada kulit dan mata yang disebabkan oleh kadar bilirubin (pigmen empedu) yang tinggi dalam darah. Penyakit kuning pada dasarnya umum pada bayi baru lahir dan biasanya hilang dalam usia bayi 7 hingga 10 hari. Penyakit kuning pada bayi dengan atresia bilier justru baru muncul pada 2-3 minggu setelah kelahiran.
  • Warna urin gelap. Urin yang gelap juga disebabkan oleh kadar bilirubin yang tinggi dalam darah. Bilirubin disaring oleh ginjal dan dikeluarkan dalam urin.
  • Feses berwarna abu-abu atau putih. Kondisi ini terjadi karena hati tidak dapat memproses bilirubin yang memberikan kotoran warna kecoklatan.
  • Perut bengkak. Kondisi ini disebabkan karena hati yang membesar.
  • Penurunan berat badan. Ketika penyakit kuning berkembang, penurunan berat badan juga umumnya terjadi.
  • Mimisan atau gatal-gatal. Kondisi ini dapat menjadi ciri-ciri penyakit atresia bilier, namun relatif jarang terjadi.

Gejala penyakit ini tidak langsung muncul sesaat bayi lahir. Gejala umumnya baru akan muncul pada rentang usia 2 minggu hingga 2 bulan.

Baca Juga: Sirosis Hati: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Komplikasi Atresia Bilier

Jika tidak diatasi dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi.

Berikut adalah komplikasi yang perlu diwaspadai:

  • Malnutrisi
  • Sirosis hati dan komplikasi terkait
  • Gagal hati

Komplikasi seperti sirosis, biasanya terjadi apabila penyakit ini dibiarkan selama 6 bulan, sedangkan gagal hati umumnya terjadi dalam kurun waktu satu tahun. Jika gagal hati terjadi, maka harus dilakukan transplantasi hati agar bayi dapat bertahan hidup.

Diagnosis Atresia Bilier

Pertama-tama dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan bayi dan riwayat penyakit dalam keluarga. Dokter juga akan menanyakan ada atau tidaknya gejala yang menunjukkan penyakit kuning dan perubahan warna pada feses.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang mungkin akan dilanjutkan dengan beberapa pemeriksaan lain. Berikut adalah beberapa pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk mendiagnosis penyakit ini:

1. Pemeriksaan Fisik

Ketika melakukan pemeriksaan fisik untuk atresia bilier, berikut adalah beberapa hal yang akan dokter lakukan:

  • Memeriksa tanda-tanda penyakit kuning pada tubuh bayi
  • Memeriksa apakah terdapat cacat lahir lain yang mungkin terjadi
  • Memeriksa perut bayi untuk memeriksa pembesaran hati atau limpa
  • Memeriksa tinja dan urine bayi

2. Tes Darah

Pemeriksaan yang mungkin dilakukan selanjutnya adalah tes darah. Sampel darah bayi akan diambil dan dibawa ke laboratorium. Tes darah dapat dilakukan untuk mengukur kadar bilirubin dan memeriksa tanda penyakit hati.

3. USG

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) tidak dapat mengonfirmasi diagnosis atresia bilier. USG akan membantu dokter untuk menyingkirkan masalah kesehatan lain yang dapat menyebabkan gejala yang mirip.

4. Pemindaian Hepatobilier

Pemindaian hepatobilier adalah tes pencitraan menggunakan bahan radioaktif dalam jumlah kecil untuk mendapatkan gambar hati dan saluran empedu. Tes ini dapat mendeteksi apakah aliran empedu tersumbat.

5. Biopsi Hati

Biopsi hati adalah pemeriksaan dengan cara mengambil sebagian kecil sampel jaringan hati untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini juga membantu menyingkirkan dan mengidentifikasi masalah hati lainnya.

Pengobatan Atresia Bilier

Pengobatan atresia bilier paling umum adalah dengan pembedahan yang disebut dengan prosedur Kasai. Terkadang, transplantasi hati juga dibutuhkan dalam beberapa kasus. Mengatur asupan nutrisi anak juga menjadi bagian dari pengobatan penyakit ini.

1. Prosedur Kasai

Prosedur ini menjadi pengobatan utama untuk atresia bilier. Meskipun tidak dapat menyembuhkan, tapi prosedur ini dapat membantu memperlambat kerusakan hati dan menurunkan risiko komplikasi.

Selama prosedur Kasai, dokter akan mengangkat saluran empedu yang rusak. Saluran yang rusak ini akan digantikan dengan loop usus kecil yang diambil dari saluran pencernaan bayi itu sendiri.

Apabila prosedur Kasai berhasil, empedu akan mengalir dari hati ke usus kecil. Hasil dari berhasil atau tidaknya prosedur ini dapat dilihat dalam kurun waktu 3 bulan.

Setelah operasi berhasil, bayi tidak lagi mengalami penyakit kuning dan risiko komplikasi menurun. Apabila operasi tidak berhasil, bayi akan mengalami komplikasi dan membutuhkan transplantasi hati pada usia 2,5 tahun.

Komplikasi juga terkadang tetap terjadi meskipun prosedur ini berhasil dilakukan. Hanya saja komplikasinya baru terjadi setelah beberapa tahun lamanya.

Prosedur Kasai umumnya juga menyebabkan komplikasi berupa infeksi pada hati yang disebut kolangitis. Dokter akan meresepkan antibiotik untuk mencegah infeksi ini. Bila infeksi tetap terjadi, dokter akan memberikan antibiotik melalui intravena untuk mengobatinya.

2. Transplantasi Hati

Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa transplantasi hati terkadang tetap dibutuhkan meskipun prosedur Kasai dilakukan. Transplantasi hati adalah prosedur pengangkatan hati untuk menggantinya dengan hati yang sehat yang berasal dari donor.

3. Mengatur Asupan Nutrisi

Metabolisme tubuh pada anak yang mengalami kondisi ini terjadi lebih cepat dari normal. Anak dengan atresia bilier membutuhkan asupan kalori yang lebih banyak.

Kerusakan hati dapat menyebabkan penyerapan protein dan vitamin juga terhambat. Penyakit kuning juga bisa menyebabkan anak tidak dapat mencerna lemak dengan baik.

Berikut adalah petunjuk pemberian gizi yang baik pada anak dengan atresia bilier:

  • Makan tiga kali sehari ditambah camilan di sela jam makan, pastikan nutrisi yang diberikan seimbang.
  • Suplemen vitamin untuk nutrisi tambahan.
  • Menambahkan minyak medium-chain triglyceride (MCT) ke dalam makanan atau susu bayi. MCT menambah kalori ekstra yang mendukung pertumbuhan anak.
  • Pemberian makanan cair berkalori tinggi dengan menggunakan selang khusus yang diletakkan di hidung yang kemudian masuk ke kerongkongan dan lambung. Pemberian makanan ini dilakukan apabila anak kesulitan untuk makan secara normal.

Apabila prosedur Kasai berhasil, biasanya pencernaan akan kembali normal. Meskipun begitu, tambahan vitamin dan minyak MCT mungkin akan tetap diperlukan.

 

  1. Anonim. 2018. What Is Biliary Atresia?. https://www.webmd.com/parenting/baby/biliary-atresia#1. (Diakses 28 Januari 2020).
  2. Anonim. 2017. Biliary Atresia. https://www.cincinnatichildrens.org/health/b/biliary. (Diakses 28 Januari 2020).
  3. Anonim. Definition & Facts of Biliary Atresia. https://www.niddk.nih.gov/health-information/liver-disease/biliary-atresia/definition-facts#complications. (Diakses 28 Januari 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi